PROSES KEBUNTINGAN PADA RUMINANSIA

Proses Terjadinya Fertilisasi
Fertilisasi merupakan bersatunya antara sel spermatozoa dengan sel telur atau proses meleburnya pronukleus jantan dan pronukleus betina (karyogami). Fertilisasi terjadi di ampula –isthmus junction. Fertilisasi terjadi hanya sekali, dan bertahap. Fertilisasi pada hewan ada dua macam :
- Fertilisasi Internal, fertilisasi ini terjadi di oviduk (ampula-istmus junction). Penetrasi speram pada fertilisasi ini adalah sperma mengalami reaksi akrosom untuk dapat menembus zona pelusida dan membrane plasma. Proses dari fertilisasi internal adalah sebagai berikut. Saat terjadi ovulasi, Pada sebagian spesies ovum ada yang mempunyai cumulus ooforus ada yang tidak,  yang mempunyai cumulus ooforus adalah babi. Sperma mempunyai enzim hialuronidase yang berfungsi untuk melarutkan asam hialuronat yang terdapat pada sel-sel granulose pada cumulus ooforus.
Setelah itu sperma ke zona pelusida, ovum di zona pelusida mengeluarkan zat fertilizing, yang apabila berkontak dengan sperma akan menghasilkan aglutinasi, sehingga jika sperma menerobos zona pelusida terdapat lorong bekas jalur tersebut.
Sperma yang berhasil menerobos zona pelusida disebut suplementer, setelah itu untuk menghalangi sperma lainnya, zona pelusida mengeluarkan suatu zat, supaya sperma lainnya tidak masuk.
Setelah itu sperma akan menembus membrane vitelinum,  Sperma yang berhasil menembus zona vitelinum disebut supernumeraria. Sperma masuk kedalam membrane ini mempunyai dua cara, yaitu secara fusi dan fagositosit. Pada saat masuk, ekor ditanggalkan. Setelah kepala spermatozoa menyentuh membrane vitelin , terjadilah aktifitas ovum. Membran vitellin memperlihatkan reaksi terhadap sentuhan kepala spermatozoa. Ditempat sentuhan terjadi tonjolan kecil dari membrane vitellin dan kemudian terbuka.Dalam keadaan tersebut kepala spermatozoa menyusup masuk kedalam sitoplasma sel ovum . Seluruh tubuh spermatozoa termasuk kepala, ekor, masuk kedalam sitoplasma sel telur, sedang membrane plasma yang menjadi pembungkus sperma, lebur menjadi satu dengan membrane vitelin. Setelah tubuh spermatozoa masuk masuk kedalam sitoplasma, terjadilah pengkerutan protein dan pembelahan inti sel ovum yang terakhir. Hasil pengkerutan adalah dilkeluarkannya cairan ke dalam ruang antara membrane vittelin dengan zona pellucida, dan pembelahan inti sel ovum menghasilkan polar bodi yang juga dikeluarkan ke dalam ruangan tersebut. Selanjutnya kepala spermatozoa terputus dengan bagian lainnya, dan perlahan-lahan menggembung. Setelah menyingkarkan badan polar pertama, terjadi pembentukan pronukleus jantan dan betina. Setelah itu mitokondria ovum mendekati kedua pronukleus. Pertumbuhan pronuklei jantan lebih besar dari pronuklei betina. Setelah itu terjadi penggabungan antara pronukleus jantan dan betina.
- Fertilisasi External, fertilisasi ini terjadi secara alami di air atau in vitro (contoh pada ikan dan amphibi). Pada fertilisasi ekternal ini penetrasi sperma juga mengalami reaksi akrosom untuk menembus jelly coat, membrane viteline, dan membrane plasma

Tahapan dari fertilisasi ekternal yang dicontohkan pada bulu babi adalah sebagai berikut
1.      Sperma mendekati kontak dengan jelly coat sel telur
2.      Enzim hidrolisis dilepaskan dari vesikula akrosom
3.      Enzim hidrolitik melarutkan jelly coat sehingga sperma dapat masuk
4.      Aktin akan memanjang dan memulai membentuk tudung akrosom
5.      Tudung akrosom berikatan dengan reseptor pada sperma
6.      Ikatan tersebut membuat atau menyebabkan membaran viteline pecah
7.      Membran sperma dan membrane sel telur berfusi, selain menuju langkah berikutnya, setelah tahapan ini juga membuat inti sel sperma masuk ke sitoplasma dan selanjutnya langsung ke tahapan terakhir yaitu inti sel telur dan inti sel sperma berfusi
8.      Terjadi depolarisasi membrane menginaktifkan reseptor sperma,
9.      sehingga meningkatnya Ca++
10.  Granula korteks berfusi dengan membrane plasma dan mengosongkan isinya kedalam rongga perivitelin, dan membrane viteline menjadi membrane fertilisasi, selain itu juga terjadi aktivasi sel telur.
11.  Inti sel telur dan Inti sel sperma berfusi.
Langkag ke 4-8 merupakan reaksi akrosom sedangkan ke 9-11 merupakan rekasi korteks
Setelah bersatu antara sperma dan ovum maka telah terbentuknya zigot. Zigot merupakan sel diploid (2n) dengan jumlah kromosom 23 pasang. Sambil zigot bergerak kearah uterus, zigot membelah secara mitosis berkali-kali. Zigot akan membelah diri menjadi dua, empat, delapan, enambelas, dan seterusnya, Pada saat embrio mencpai 32 sel disebut morula.
Morula ini nanti akan berkembang menjadi blastula. Pada blastula, sel-sel bagian dalam akan membentuk bakal janin atau embrioblas, sedangkan bagian luarnya membentuk trofoblas. Trofoblas ini merupakan dinding yang berfungsi untuk menyerap makanan dan yang pada nantinya akan membentuk plasenta. Selanjutnya blastula bergerak menuju ke uterus, pada dan selama proses ini korpus luteum menghasilakn hormone progesterone. Hormon ini berfungsi untuk implantasi atau perlekatan embrio dengan merangsang pertumbuhan endometrium. Blastula setelah melakukan implantasi juga akan melepaskan hormone korionik gonadotropin, hormone ini akan melindungi kebuntingan dengan cara menstimulasi hormone estrogen dan progesterone sehingga menstruasi pada primate tidak dapat terjadi.
Proses selanjutnya adalah membentuk gastrula atau disebut gastrulasi, yaitu proses proses dimana bagian embrioblas membentuk dua lapisan, yaitu lapisan luar atau ektodermis dan lapisan dalam atau endodermis. Dan pada bagian permukaan dari lapisan ektodermis melakukan invaginasai kedalam membentuk lapisan mesodermis.
Pada tingkat tubulasi Daerah-daerah bakal pembentuk alat atau ketiga lapis benih : ectoderm, mesoderm dan endoderm, menyususun diri sehingga berupa bumbung , berongga. Tubulasi terjadi mulai daerah kepala sampai ekor. Kecuali mesoderm hanya berlangsung di daerah truncus embryo.

Tahapan Organogenesis
Organogenesis merupakan proses dari pembentukan organ-organ tubuh. Organogenesis meliputi  Proses ini terjadi setelah fase tubulasi pada embryogenesis
1.      Lapisan Ektoderm
1.      Ektoderm Umum : Epidermis kulit, derivat kulit ( kelenjar-kelenjar : Ambing, keringat, lemak, gig, tanduk, dan kuku), lensa mata (alat telinga dalam, indera bau dan rasa), stomadeum (ruang mulut), proktodaeum (bagian anus)
2.      Ektoderm saraf : akan berdiferensiasi menjadi otak  (sistem saraf), otak, sumsum punggung dan saraf tepi, perbesaran indera (mata, hidung, raba).
3.      Rigi Saraf : khromatofor kulit (pigmen dan melanin).
4.      Lapisan Mesoderm
1.      Epimer (mesoderm dorsal), akan megalami segmentasi menurut arah memanjang tubuh embrio, potongan epimer tersusun menurut letak dari anterior ke posterior dan terbentuk somit. Somit akan membentuk dermatom, myotom dan skeretom
2.      Mesomer (mesoderm intermediet), sistem urogenital, ginjal dan alat kelamin.
3.      Hypomer
1.      Somatis (luar), pericardium, pleura, peritoneum, dermis
2.      Visceral (dalam), epimiokardium, mesokardium dan akan membentuk cor
5.      Lapisan Endoderm
1.      Foregut : usus depan
2.      Midgut : usus tengah
3.      Hindgut ; usus belakang
Selain itu juga akan mengeluarkan kelenjar pencernaan saluran pencernaan, sistem pernapasan (epitel paru-paru).

Tanda-tanda dan Faktor yang mempengaruhi Kebuntingan
Pada kambing tanda-tanda dari kebuntingan adalah sebagai berikut
-          Tidak terlihat tanda-tanda berahi pada siklus berahi berikutnya
-          Perut sebelah kanan tampak membesar
-          Ambing tampak menurun
-          Ternak tampak tenang

Faktor-faktor
-   Temperatur
   
Temperatur yag terlampau tinggi , terutama perubahan udara yang sangat mendadak dapat mengakibatkan tidak subur/mandul. Dimana produksi sel telur induk betina tidak normal pada masa tidak subur dan dapat mengakibatkan hewan menjadi keriput dan nafsu makan turun. Demikian juga pejantan , produksi sel jantannya juga tidak normal. Hal ini dapat disiasati bagi peternak yang daerah suhunya di atas kenormalan dapat membaut kandang untuk peternakan dibawah pohon yang rindang, sehingga suhu sekitar kandang akan turun dan hewan menjadi nyaman.
-   Umur
     Kegagalan bunting dapat disebabkan perkawinan pada usia muda. Umumnya perkawinan tersebut tidak sesuai dengan umur dan berat badan yang sesuai jika hewan akan dikawinkan.
-    Kondisi Penyakit
     Mengawinkan hewan dalam kondisi sakit , akan mengakibatkan kegagalan bunting. Karena hewan yang sakit, nafsu makan turun dan pertumbuhan biologisnya tidak normal dan hewan menjadi kurus. Hal ini mengakibatkan alat reproduksi tidak maksimal dan saat kawin akan menimbulkan kegagalan bunting.

Mekanisme Partus
Mekanisme terjadinya kelahiran secara singkat dapat dimulai dari saat hipotalamus fetus menghasilkan CRH, CRH akan mempengaruhi hipofisis anterior untuk mensekrsikan ACTRH (pelepas hormone ACTH). Sekersi ACTH fetus melonjak. ACTH memepengaruhi cortex adrenal fetus untuk meningkatnya sekresi kortisol, kortisol melewati plasenta dan meningkatkan peningkatkan estrogen, estrogen akan mempengaruhi uterus untuk mensekresikan PGF­2α, PGF­2α akan meregresi korpus luteum sehingga produksi progesterone akan menjadi turun.
PGF­2α, estrogen menyebabkan kontraksi miometrium, ketika fetus sampai ke cervik, maka fetus akan merangsang servik melalui kontraksinya dengan mensekresikan oksitosin. Oksitosin ini akan menambah kuat kontraksi dari miometrium untuk mengeluarkan fetus.
Pada proses dilatasi servik, faktor yang berpengaruh pertama adalah hormone relaxin dan estrogen. Hormon ini mempengaruhi proses dilatasi servik yang pertama, selanjutnya adalah proses pengeluaran amnion dan chorion. Proses ketiga adalah dikelurkannya fetus, pada tahap ini biasanya amnion akan pecah.
Kontraksi untuk dikeluarkannya fetus akan bertambah kuat dengan terjadinya anoxia pada fetus. Akibat terjadi kontraksi, maka aliran darah akan berkurang, sehingga suplai oksigenpun akan berkurang juga. Kontraksi abdomen juga akan menambah kekuatan dari kontraksi untuk dikeluarkannya fetus.  Setelah fetus keluar, kontraksi menjadi berkurang dan melemah, tetapi kontraksi tetap berjalan 1-2 hari, dan kontraksi ini akan menjadi proses dikeluarkannya plasenta dan lain sebagainya yang msih tertinggal di uterus.
Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-1 (30 hari), janin masih berukuran sebesar jari tangan kelingking. Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-2 (60 hari), janin berukuran sebesar ibu jari kaki seperti tampak pada gambar di bawah ini.

Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-3 (90 hari), ukuran janin sudah sebesar kaki bayi atau kepalan tangan orang dewasa, posisi janin sudah semakin maju ke arah perut bagian tengah dan detak jantung janin sudah dapat didengar dengan menggunakan stetoskop. Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-4 (120 hari), janin terus membesar dan bisa dirasakan dengan perabaan pada bagian depan bawah perut, tepat pada akhir tulang rusuk. Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-5 (120 – 150 hari), janin terus bergerak ke belakang perut dan mendekati saluran kelahiran.
Ketika 1 minggu menjelang kelahiran, ambing induk akan cepat membesar dan kelihatan merah pada putingnya. Ini menandakan pembentukan air susu sudah sempurna untuk mempersiapkan kelahiran anak. Disamping itu terdapat pula tanda-tanda lainnya untuk mengetahui induk kambing yang akan melahirkan: Pinggul mengendur, ambing sangat besar dan puting susu merah. Alat kelamin membengkak, berwarna kemerah-merahan dan lembap. Gelisah, menggaruk-garuk lantai kandang dan mengembik. Nafsu makan turun. Segera siapkan rumput atau jerami kering sebagai alas untuk melahirkan kambing. 

Penulis : Bagus Fitriansyah ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel PROSES KEBUNTINGAN PADA RUMINANSIA ini dipublish oleh Bagus Fitriansyah pada hari Wednesday, October 26, 2011. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan PROSES KEBUNTINGAN PADA RUMINANSIA
 
Reaksi: 

0 komentar:

Post a Comment

Comment Me