Saturday, August 20, 2011

BAHAN PAKAN NABATI NONKONVENSIONAL SUMBER PROTEIN


Potensi Kulit Buah Pepaya
Tanaman pepaya yang dipelihara secara intensif dan sistem penanamannya monokultur (satu jenis), tingkat produktifitasnya dapat mencapai 50-150 buah/pohon. Bila lahan kebun seluas 1,0 hektar ditanami pepaya pada jarak tanam 3×3 m terdapat populasi 1.000 tanaman, maka produksi per hektar dapat mencapai 50.000-150.000 butir buah atau setara dengan 20-60 ton buah pepaya dengan catatan, banyak terdapat humus, tata udara dan tata air tanahnya baik, dengan pH sekitar 6-7. Panen perdana tanaman pepaya dapat dilakukan pada saat umur 9-11 bulan. Di dalam satu buah pepaya persentase kulit buahnya dapat mencapai 30% yang 10% diantaranya adalah biji pepaya. Panen tanaman pepaya dapat dilakukan secara kontinyu setiap 5-7 hari sekali bergantung pada kematangan buah, permintaan pasar, dan tujuan penggunaan.
Kulit buah pepaya merupakan bagian terluar dari buah pepaya yang masih mengandung nilai nutrisi cukup tinggi. Kulit buah pepaya pada keadaan kering mengandung protein kasar sebesar 25,58 %, lemak kasar 8,87 %, serat kasar 18,52 %, Ca 2,39 %, P 0,88 %, dan Abu 8,52 %. Kandungan nutrisi kulit buah pepaya relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan bahan pakan sumber protein lain, antara lain kacang hijau yang memiliki kandungan protein kasar 26,7 %, lemak 1,47 %, serat kasar 5,93 %, Ca 0,16 %, P 0,72 %, dan abu 5,22 %, bungkil kelapa yang mengandung protein kasar 21 %, lemak 10,9 %, serat kasar 14,2 %, Ca 0,165 %, P 0,62 %, dan abu 8,24 %, serta ampas tahu yang hanya mengandung protein kasar 20,81 %, lemak 7,08 %, serat kasar 14,88 %, Ca 0,64 %, P 0,28 %, dan abu 3,74 % .
Tepung kulit buah pepaya mengandung kadar protein yang tinggi yaitu 25,85% dan serat kasar yang cukup rendah yaitu sebesar 12,51%. Kulit buah pepaya didapat dari limbah industri pembuatan manisan. Penggunaan kulit buah pepaya sebagai campuran makanan ternak Babi masih jarang digunakan, kecuali pada beberapa peternakan sapi potong tradisional, dan hasilnya menurut para peternak, daging dari sapi-sapi yang diberi kulit buah pepaya segar menjadi lebih merah dan dagingnya lebih padat. Berdasarkan hal tersebut diatas, kulit buah pepaya dapat dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak karena berpotensi sebagai sumber protein nabati. Hal ini menunjukan bahwa potensi kulit buah pepaya adalah 30% dari tiap buah papaya, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang berapa besar tingkat pemberian kulit buah pepaya dalam bentuk tepung sebagai bahan pakan ternak dalam ransum yang dapat meningkatkan produktivitas ternak.
Di dalam kulit buah pepaya masih terdapat kandungan nutrisi yang tinggi sehingga diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan pakan alternatif untuk ternak. Kulit buah pepaya memiliki kekurangan yaitu mudah busuk, oleh karena itu untuk mengatasinya maka kulit buah pepaya dijadikan tepung sehingga menjadi lebih tahan lama. Tepung kulit buah pepaya memiliki kandungan nutrisi antara lain protein kasar 24,85%, serat kasar 18,52%, lemak kasar 8,87%, abu 8,52%, kalsium 2,39% dan phosphor 0,88% dan Fe 0,385%. Kulit buah pepaya memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pakan alternatif sumber protein yang dapat mengganti atau mengurangi penggunaan bahan pakan sumber protein lainnya seperti bungkil kedelai dan lain-lain.
Kulit buah pepaya selain memiliki kadar protein yang tinggi, juga mengandung enzim papain. Enzim ini banyak terkandung dalam kulit, batang, daun, dan buah. Papain merupakan salah satu enzim proteolitik. Manfaat papain antara lain adalah dapat digunakan sebagai pelunak daging (enzim papain mampu memecah serat-serat daging, sehingga daging lebih mudah dicerna), papain berfungsi membantu pengaturan asam amino dan membantu mengeluarkan racun tubuh. Dengan cara ini sistem kekebalan tubuh dapat ditingkatkan. Kulit buah pepaya selain memiliki protein yang tinggi dan enzim papain juga memiliki kandungan zat besi yang tinggi sebesar 0,385%. Protein dibutuhkan oleh babi masa pertumbuhan. Protein dalam ransum digunakan untuk membangun, menjaga dan memelihara protein jaringan dan organ tubuh, menyediakan asam-asam amino makanan, menyediakan energi dalam tubuh serta menyediakan sumber lemak badan. Papain dapat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh, hal ini dikarenakan papain memiliki lebih dari 50 asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh. Dengan pemberian tepung kulit buah pepaya dalam ransum diharapkan dapat memberikan pengaruh terbaik terhadap persentase karkas, tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk.
Penyakit cacing pada ternak babi selain dapat diobati menggunakan obat-obatan medik,dapat juga diobati dengan menggunakan obat alternatif yaitu dengan pemberian tepung kulit buah pepaya. Tepung kulit buah pepaya mengandung zat atau enzim papain yang dapat berfungsi sebagai obat cacing atau anthelmentik. Enzim papain termasuk enzim protease, yaitu enzim yang menghidrolisis ikatan peptida pada protein, untuk melakukan aktivitasnya protease membutuhkan air sehingga dikelompokkan kedalam kelas hidrolase.Protease berperan dalam sejumlah reaksi biokimia seluler, selain diperlukan untuk degradasi senyawa protein nutrien, protease terlibat dalam sejumlah mekanisme patogenisitas, sejumlah pascatranslasi protein, dan mekanisme akspresi protein ekstraseluler. Pelepasan protease oleh cacing nematoda parasitik mempunyai peranan penting pada proses reaksi biologik seperti metabolisme protein. Aktivitas protease mempunyai korelasi signifikan pada saat cacing parasit menjalani penetrasi ke jaringan.
Buah pepaya merupakan salah satu buah yang telah lama dikenal luas di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, pepaya sangat dikenal semua lapisan masyarakat. Buah pepaya telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Buah matangnya sangat digemari karena cita rasanya yang enak, relatif tingginya kandungan nutrisi dan vitamin, serta fungsinya dalam melancarkan pencernaan.

Kelebihandan Kekurangan dari Kulit Buah Pepaya antara lain:
Kelebihan :
·     Tepung kulit buah pepaya mengandung kadar protein yang tinggi yaitu 25,85% dan serat kasar yang cukup rendah yaitu sebesar 14,2%.
·         Harga relatif murah, terjangkau dan mudah didapatkan karena merupakan limbah industri.
·         daging dari sapi-sapi yang diberi kulit buah pepaya segar menjadi lebih merah dan dagingnya lebih padat.
·         Sebagai pengganti obat cacing yang ekonomis
Kekurangan :
·      Kulit buah pepaya memiliki kekurangan yaitu mudah busuk, sehingga perlu diubah menjadi tepung kulit buah pepaya agar menjadi lebih awet tidak mudah busuk.
·         Mengandung saponin yang merupakan zat anti nutrisi
·         Palatabilitas ternak kurang
·         Belum ada takaran khusus yang dibakukan dalam pemakaian ransum

Saturday, August 13, 2011

Mengenal Probiotik, Prebiotik, dan Sinbiotik

Usus dulunya hanya dipandang sebagai gudang penyimpan makanan dan tong sampah sisa pencernaan makanan. Belakangan cara pandang ilmuwan berubah. Usus dianggap organ penting sejak diketahui ada milyaran mikroba dalam usus yang berperan bagi kesehatan.
Banyak orang yang berpikiran, bakteri dalam usus hanyalah bakteri jahat saja.
Bakteri atau flora usus ada sekitar 100-400 jenis. Jumlah keseluruhan dalam usus mencapai trilyunan. Secara sederhana dikelompokkan sebagai bakteri baik (misalnya Bifidobacterium, Eubacterium dan Lactobacillus) dan bakteri jahat (Clostridium, Shigella, dan Veillonella). Bakteri-bakteri itu hidup dalam kesimbangan. Jika kesimbangan terganggu, bakteri jahat alias bakteri patogen (penyebab penyakit) meningkat, maka kesehatan orang yang bersangkutan akan terganggu.

Makanan probiotik bisa berbentuk susu fermentasi, yogurt, keju,mentega, sari buah dan susu formula yang difortifikasi dengan bakteri asam laktat. Akhir-akhir ini probiotik juga diformulasi dalam bentuk tablet maupun kapsul suplemen. Namun sejauh ini belum ada jaminan jumlah probiotik sesuai dengan iklan serta tetap hidup saat mencapai usus.
Prebiotik  merupakan kelompok oligosakarida seperti rafinosa, stakhios, agalakto-oligosakarida, frukto-oligosakarida, frukto-oligosakarida, inulin, serta beberapa jenis peptida dari protein yang tidak dapat dicerna, sehingga mencapai usus. Prebiotik merupakan nutrisi yang sesuai bagi bakteri baik, tapi tidak cocok bagi bakreri jahat, sehingga bisa meningkatkan bakreri baik dalam usus.

Prebiotik secara alami terdapat pada biji-bijian, sayuran, dan buah-buahan. Produk olahan kedelai seperti tempe, tahu, dan tauco, kaya akan prebiotik. Rina menambahkan, prebiotik juga dapat diperoleh dari akar tanaman Chichorium intybus, gandum utuh, bawang bombay, bawang putih,dan pisang.

Permasalahan yang ada yaitu manfaat probiotik dapat dicapai bila probiotik melekat pada sel mukosa usus. Probiotik dari makanan belum banyak dibuktikan bisa melekat di mukosa usus. Karenanya untuk memperoleh manfaat dari makanan probiotik, orang harus terus menerus mengonsumsinya. Walaupun sudah banyak produk makanan probiotik, namun sejauh ini belum ada jaminan jumlah probiotik sesuai dengan iklan serta tetap hidup saat mencapai usus.
Maka, hadirlah gabungan dari keduanya, disebut juga sebagai makanan/minuman sinbiotik. Kombinasi probiotik dan prebiotik untuk meningkatkan kesehatan tubuh disebut sinbiotik.

Sinbiotik  adalah kombinasi probiotik dan prebiotik. Penambahan mikroorganisme hidup (probiotik) dan substrat (prebiotik) untuk pertumbuhan bakteri misalnya fructooligosaccharide (FOS) dengan bifidobacterium atau lactitol dengan lactobacillus. Keuntungan dari kombinasi ini adalah meningkatkan daya tahan hidup bakteri probiotik oleh karena substrat yang spesifik telah tersedia untuk fermentasi sehingga tubuh mendapat manfaat yang lebih sempurna dari kombinasi ini. Sehingga dipastikan bakteri tetap hidup dan melekat dalam mukosa usus, karena terdapat substrat atau makanannya (prebiotik) sehingga mereka tetap bisa hidup dan bekerja dalam saluran pencernaan.

Friday, July 22, 2011

Laporan Praktikum Biologi Jaringan Tumbuhan



 

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI JARINGAN TUMBUHAN BISA DI DOWNLOAD DISINI 

BAB I

PENDAHULUAN

Jaringan adalah sekumpulan sel yang mempunyai struktur dan fungsi yang sama dan terikat oleh bahan-bahan antar sel membentuk satu kesatuan. Jaringan penyusun tubuh tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa. Tumbuhan ada dua macam yaitu tumbuhan biji terbuka dan biji tertutup. Tumbuhan biji tertutup berkeping satu atau disebut monokotil dan tumbuhan biji berkeping dua disebut dikotil. Perbedaan dari struktur luar yaitu struktur bunga, sistem pengukuran, struktur daun dan perkecambahan. Struktur dalam perbedaannya yaitu terdiri dari pembuluh akut pada batang, akar dan daun.
Tujuan dari praktikum ini yaitu pengenalan jaringan untuk mengetahui perbedaan struktur organ dikotil dan monokotil melalui penampang melintang pada akar dan Batang organ tanaman jagung dan kaacang tanah. Manfaat dari praktikum ini yaitu dapat mengetahui perbedaan-perbedaan struktur organ pada dikotil dan monokotil yang dapat dilihat dari penampang melintang akar dan batang dari tanaman jagung sebagai monokotil dan kacang tanah sebagai dikotil.





 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.   Pengertian Jaringan

Jaringan adalah kumpulan sel-sel yang mempunyai struktur dan fungsi yang sama serta mengadakan hubungan dan koordinasi satu dengan yang lainya yang mendukun pertumbuhan pada tumbuhan (Mukhtar, 1992). Jaringan adalah kumpulan sel-sel yang berhubungan erat satu sama lain dan mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Tumbuhan berpembuluh matang dapat dibedakan menjadi beberapa tipe yang semua dikelompokkan menjadi jaringan (Kimball, 1992). Jaringan adalah kumpulan struktur, fungsi, cara pertumbuhan, dan cara perkembangan (Brotowidjoyo, 1989).

2.2.  Macam–Macam Jaringan Tumbuhan

         Jaringan menurut fungsinya dibedakan menjadi dua yaitu jaringan muda atau meristem dan jaringan dewasa atau permanen (Kimball,1992). Jaringan terdiri dari jaringan muda atau meristem, jaringan dasar atau parenkim, sklerenkim, xilem, dan floem (Brotowidjoyo, 1989).
            Jaringan meristem dibagi menjadi tiga yaitu meristem apikal yang terletak di ujung batang dan akar, meristem lateral yang terletak di kambium gabus dan meristem interkalar yang terletak diantara satu dan lainnya (Kimball,1992). Jaringan meristem adalah jaringan muda yang terdiri atas sel-sel yang mempunyai sifat membelah diri. Fungsinya untuk mitosis, dimana sel-selnya kecil, berdinding tipis tanpa vakuola tengah di dalamnya (Yartim, 1987). Jaringan muda yang sel-selnya selalu membelah atau bersifat meristematik. Fungsi sel meristematik adalah mitosis. Bentuk dan ukuran sama relatif, kaya protoplasma, umumnya rongga sel yang kecil (Prawiro, 1997).
            Jaringan permanen dibagi menjadi dua yaitu jaringan epidermis dan jaringan parenkim (Yartim, 1987). Jaringan permanen merupakan jaringan yang telah mengalami deferensiasi. Umumnya jaringan dewasa tidak membelah diri, bentuknya pun relatif permanen serta rongga selnya besar (Mulyani, 1980). Sel perenkim terdapat di berbagai sebagian tumbuhan, bentuknya besar-besar dan berdinding tipis (Kimball, 1991). Fungsi utama sel parenkim sebagai tempat cadangan makanan serta sebagai jaringan penyokong (Prawiro, 1997).
            Jaringan penyokong merupakan jaringan yang berfungsi untuk menyokong agar tanaman dapat berdiri dengan kokoh dan kuat. Jaringan penyokong dibagi menjadi dua yaitu jaringan kolenkim dan sklerenkim (Mulyani, 1980). Jaringan kolenkim adalah jaringan penyokong yang masih muda, jaringan yang berdinding tebal terutama pada sudut-sudutnya. Jaringan sklerenkim adalah jaringan yang terdiri dari sel-sel yang sudah mati, dinding sel yang tidak elastis tetapi kuat. Dinding-dinding sel ini sangat tebal dan dibagun dalam lapis yang sama di sekitar batas sel (Mukhtar, 1992). Jaringan sklerenkim merupakan sel penunjang yang lebih umum, dinding sel sangat tebal. Sklerenkim merupakan komponen yang sangat penting pada penutup luar biji dan buah keras (Kimball, 1991).
            Jaringan pengangkut adalah jaringan yang berguna untuk transportasi hasil asimilasi dari daun ke seuruh bagian tumbuhan dan pengangkutan air serta garam-garam mineral (Kimball, 1992). Jaringan pengangkut dibagi menjadi dua yaitu xilem dan floem, xilem merupakan jaringan kompleks yang terdiri dari sel mati maupun hidup. Floem merupakan jaringan kompleks yang tediri dari berbagai unsur dengan tipe berbeda yaitu pembuluh lapisan, parenkim serabut, dan kloroid. Sel-sel terpenting di dalam floem adalah tabung tapis (Mulyani, 1980). Xilem merupakan jaringan campuran yang terdiri atas beberapa sel yang mempunyai tipe tertentu yang paling khas. Xilem mempunyai dinding sel yang tebal. Dindingnya menebal dalam pola-pola berkas (Kimball, 1991). Xilem dan floem merupakan alat transportasi zat-zat pada tumbuhan berpembuluh. Floem berfungsi sebagai alat transportasi bagi zat-zat hasil fotosintesis dari daun ke seluruh tubuh tumbuhan (Kimball, 1991). Jaringan floem dibangun oleh beberapa jenis sel yaitu pembuluh tapis, parenkim, dan serabut floem. Selnya berbentuk tabung dan bagian ujung berlubang (Wilson, 1966).

2.3.  Tumbuhan Dikotil

Kacang tanah merupakan tumbuhan dikotil (berordo rotales) dan dari famili papilionaceae. Arachis hypogeae atau kacang tanah merupakan tumbuhan berkeping dua yang memiliki lembaga dengan dua daun lembaga serta pucuk lembaga yang tidak memiliki pelindung yang khusus (Mukhtar, 1992). Tumbuhan dikotil yaitu tumbuhan yang memiliki biji berkeping dua yang merupakan cabang dari tumbuhan Angiospermae. Ciri tumbuhan dikotil adalah bercabang-cabang, berkambium, akar tunggang, pertulangan daun menyirip dan mempunyai ikatan pembuluh kolateral terbuka (Kimball, 1992). Tumbuhan dikotil merupakn tumbuhan berkeping dua yang memiliki lembaga, dua daaun lembaga dan akar serta pucuk lembaga yang tidak memiliki pelindung khusus. Batang bagian bawah tanaman dikotil lebih besar daripada ujungnya, hal ini dikarenakan tumbuhan dikotil mempunyai kambium (Suprapto, 1994). Tumbuhan dikotil mempunyai cabang ikatan pembuluh kolateral berkambium, mempunyai akar tunggang dan pembuluh akut tersusun dalam lingkaran (Saktiyono, 1989). 

2.4.  Tumbuhan Monokotil
Tumbuhan monokotil memiliki ciri-ciri batang tidak bercabang, tidak berkambium, akar serabut, pertulangan daun sejajar dan mempunyai ikatan pembuluh koklea (Mukhtar, 1992). Tumbuhan monokotil tidak memiliki cabang, ikatan pembuluh tertutup, tidak berkambium, mempunyai akar serabut, biji berkeping satu, dan jumlah biji tiga atau berkelipatan tiga (Saktiyono, 1989).





 
BAB III
METODOLOGI
Praktikum Biologi dengan materi Jaringan Tumbuhan dilaksanakan pada hari kamis tanggal 15 Oktober 2009 pukul 11.00-13.00 WIB di laboratorium Fisiologi dan Biokimia Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1.      Materi
Bahan yang digunakan adalah akar dan batang jagung (Zea mays) sebagai tumbuhan monokotil. Akar dan batang kacang tanah (Arachis hipogaea) sebagai tumbuhan dikotil. Alat yang digunakan, silet untuk menyayat batang tumbuhan, kaca objek dan kaca penutup sebagai wadah meletakkan objek yang akan diamati, mikroskop untuk mengamati objek dari jaringan tumbuhan yang telah disayat untuk diamati, serta alat tulis untuk menggambarkan hasil pengamatan.

3.2.      Metode
Dalam praktikum ini kita mengamati bentuk akar tanaman maupun batang dari bahan tanaman yang telah disediakan. Setelah itu menyayat melintang dengan menggunakan silet dari batang muda jagung dan kacang tanah. Metakkan sayatan pada kaca objek yang sudah bersih yang telah ditetesi air, tutup dengan kaca penutup. Usahakan jangan ada gelembung udara di dalamnya. Amatilah preparat di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x dan 40x. Setelah itu gambarkan struktur jaringan tersebut dan jelaskan perbedaan tanaman monokotil dan dikotil.


 
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.      Hasil Pengamatan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut:




                                  
         
Sumber: Data Primer Praktikum           Sumber: Saktiyono (1989)
  Biologi, 2009
Ilustrasi 3. Akar Jagung (Monokotil)
Keterangan  :                                            
1. Epidermis                                                   
2. Korteks                                                                  
3. Endodermis            
4. Xilem
5. Floem
6. Empulur




                                                                 
Sumber: Data Primer Praktikum        Sumber: Wilson (1966)
  Biologi, 2009                                                                       

Ilustrasi 4. Batang Jagung (Monokotil)
Keterangan :
1. Epidermis                                                                                                   
2. Korteks                                                                                                      
3. Jaringan Penyongkong                   
4. Xilem
5. Floem





                                                                       






Sumber: Data Primer Praktikum           Sumber: Prawiro(1997)
  Biologi, 2009

Ilustrasi 5. Akar Kacang Tanah (Dikotil)
Keterangan :
1. Epidermis                                                                                                   
2. Korteks                  
3. Endodermis
4. Xilem
5. Floem





                                                                       

Sumber: Data Primer Praktikum         Sumber: Brotowidjoyo (1989)
  Biologi, 2009
Ilustrasi 6. Batang Kacang Tanah (Dikotil)
Keterangan :
1. Epidermis               
2. Korteks                  
3. Floem
4. Xilem
5. Kambium
4.2.      Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan tampak adanya jaringan-jaringan pada akar, antara lain epidermis yang biasa disebut kulit luar, floem atau pembuluh tapis, xilem atau pembuluh kayu dan epidermis, ini menunjukkan bahwa pada akar, batang, dan daun pada tumbuhan memiliki jaringan didalamnya. Xilem dan floem disebut jaringan pengangkut yang terdapat pada berkas ikatan pembuluh. Berkas pembuluh yang bentuknya khas menghadap ke dalam disebut xilem. Tumbuhan diantara xilem dan floem terdapat kambium. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Soeprapto (1994) bahwa tumbuhan memiliki kambium.
Jaringan-jaringan yaang terdapaat pada tumbuhan dikotil dan monokotil berbeda. Batang tanaman monokotil terdiri atas tepi eksternal dan di tengah penuh empulur. Batang pada tanaman dikotil terdiri atas tiga daerah yaitu kulit, kayu, dan empulur. Hal ini sesuai dengan pendapat Yartim (1987) berkas pengangkut dibungkus dengan berkas pengangkut dan tidak terdapat empulur dan kambium.
Perbedaan tumbuhan dikotil dan monokotil yaitu tumbuhan dikotil berakar tunggang bercabang, berkambium, batang bercabang, kolateral terbuka, pembuluh angkut teratur di dalam lingkaran. Tumbuhan monokotil berakar serabut, tidak berkambium, batang tidak bercabang, pembuluh angkut kolateral tertutup, pada akar pembuluh angkut tersebar. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Kimball (1992).
Xilem dan floem disebut jaringan pengangkut yang terdapat pada berkas ikatan pembuluh. Berkas pembuluh yang bentuknya khas menghadap ke dalam disebut xilem. Tumbuhan diantara xilem dan floem terdapat kambium. Hal ini sesuai dengan pendapat Soeprapto (1994) bahwa tumbuhan memiliki kambium.




 
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa akar, batang, dan daun tumbuhan memiliki jaringan yaitu jaringan meristem, kolenkim, dan parenkim. Di dalam akar terdapat xilem dan floem sebagai alat transportasi zat-zat pada tumbuhan berpembuluh. Tanaman monokotil dan tanaman dikotil semuanya memiliki xilem dan floem berfungsi sebagai jaringan pengangkut.





 
DAFTAR PUSTAKA
Brotowidjoyo. 1989. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta
Kimball, J.W. 1991. Biologi. Erlangga. Jakarta
Kimball, J.W. 1998. Biologi. Erlangga. Jakarta
Prawiro. 1997. Biologi Sains. Bumi Aksara. Jakarta
Radiopoetra. 1997. Zoologi. Erlangga. Jakarta
Saktiyono. 1989. Biologi 2. Bumi Aksara. Jakarta
Soeprapto. 1994. Biologi Jilid 1. Universitas Diponegoro Press. Semarang
Wilson. 1966. Biology. Botang Rhinchar and Wington. Amerika, USA

Sunday, July 10, 2011

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR (ANALISA KUANTITATIF)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR (ANALISA KUANTITATIF) BISA DI DOWNLOAD DISINI
BAB I

PENDAHULUAN

                Analisa volumetri merupakan suatu analisa kuantitatif yang dilakukan dengan jalan mengukur volume larutan yang telah diketahui dengan  teliti. Larutan tersebut harus dapat bereaksi secara kuantitatif dengan larutan zat yang akan diukur dengan volumenya tertentu.
Tujuan dari pratikum kali ini dengan materi pengenalan analisa kuantitatif standarisasi larutan 0,1 NaOH dan penggunaannya dalam penentuan kadar asam cuka adalah untuk mengenal metode analisa kuantitatif dan menetapkan kadar asam cuka, serta mampu menerapkan reaksi asam-basa untuk menetapkan reaksi asam atau basa. 
Manfaat dari praktikum ini adalah kita dapat mempraktekkan secara langsung dan mengenal analisa kuantitatif, serta mengenal jenis dan cara kerja beberapa analisa kuantitatif.





BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Pengertian Analisa Kuantitatif
Analisa Kuantitatif adalah analisa yang berkaitan dengan berapa banyaksuatu zat tertentu yang terkandung dalam suatu sample. Zat yang ditetapkan tersebutyang sering kali dinyatakan sebagai konstituen atau analit, menyusun entah sebagian kecil atau besar sample                                               yang dianalisis (Underwood, 1999). Analisis kuantitatif adalah analisis kimia yang khusus mempelajari atau menyelidiki jumlah atom, ion, atau molekul penyusun suatu persenyawaan. Biasanya analisis kuantitatif sering disebut juga analisis jumlah (Zulkarnaen, 1991). Analisa kuantitatif merupakan pemisahan suatu materi menjadi partikel-partikel. Fungsinya yaitu untuk menetapkan berapa banyak unsur atau zat yang ada dalam senyawa campuran. Analisa kuantitatif berkaitan dengan penetapan berapa banyak suatu zat tertentu yang terkandung dalam suatu sampel, zat yang ditetapkan tersebut dinyatakan sebagai konstituen. Jika zat yang dianalisa tersebut menyusun lebih dari sekitar 1% dari sampel maka analisis ini dianggap konstituen utama zat itu. Hal itu dapat dikatakan konstituen minor suatu zat jumlah berkisar 0,01% sampai 1% dari sampel terakhir, serta apabila dikatakan konstituen trace jika suatu zat ada yang kurang                           dari 0,01% (Irfan, 2000 ).






2.2  Macam-macam Analisa Kuantitatif
2.2.1    Volumetri
            Volumetri merupakan suatu metode analisa kuantitatif yang dilakukan dengan cara mengukur volume larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti, lalu mereaksikannya telah diketahui dengan larutan yang akan ditentukan konsentrsainya (Irfan, 2000). Analisa volumetri merupakan salah satu metode dari analisa kuantitatif yang bertujuan untuk menentukan banyaknya suatu zat dalam volum terentu. Analisa kuantitatif merupakan suatu upaya untuk menguraikan atau memisahkan suatu kesatuan bahan menjadi komponen-komponen pembentukan sehingga data yang diperoleh ditinjau                                 lebih lanjut (Haryadi, 1990).
            Reaksi-reaksi dalam volumetri terdiri dari 1) Reaksi netralisasi contoh : HC1 + NaOH →NaCl + H2O, 2) Reaksi pengendapan atau pembentukan senyawa kompleks contoh : AgNO3 + NaC →AgCl + NaNO3, 3) Reaksi redoks contoh : 2FeCl3 + SnCl2 →2FeCl2 + SnCl4. Suatu analisis kimia terdiri daru empat tahapan yaitu : 1) Pengambilan atau pencuplikan smaple, 2) Mengubah analit menjadi suatu bentuk yang sesuai untuk pengukuran, 3) Pengukuran, 4) Perhitungan dan penafsiran pengukuran (Underwood, 1994).
2.2.2        Gafimetri
Gafimetri adalah suatu teknik pengukuran kadar dalam suatu larutan yang biasa berupa garam – garam klorida. Dapat dilakukan dengan cara evaluasi, dengan memasangkan bahan tersebut atau mereaksikan dengan suatu pereaksi sehingga yang dicari adalah banyaknya gas yang dicari. Cara pengendapan bahan direaksikan , sehingga terjadi suatu endapan dan endapan itu                                   akan ditimbang (Rosenberg , 1994). Gavimetri adalah suatu teknik pengukuran kadar dalam suatu larutan yang biasa berupa garam-garam                             klorida (Underwood, 2002).
2.2.3        Asidimetri dan Alkalimetri
Asidimetri adalah pengukuran jumlah asam atau pengukuran dengan asam yang diukur jumlah asam atau garam  (Underwood, 1990). Asidimetri adalah pengukuran jumlah asam atau pengukuran dengan asam yang diukur jumlah asam atau garam (Haryadi, 1990).
2.2.4        Presipitrimetri
Presipitrimetri adalah cara tirasi dimana terjadi endapan (presipilat) sebagai contoh yang mudah adalah :
       AgNO3 + NaCL                 AgCL + NaNO3
Makin larut garam yang terbentuk makin sempurna reaksin yang dihasilkannya (Underwood, 1990). Presipitrimetri adalah cara titrasi di mana terjadi endapan (presipilat) (Haryadi, 1990).


2.2.5        Idiometrri
Idiometri ialah salah satu bentuk pengukuran dari suatu oksidator dengan mempergunakan larutan kalium iodo yang berlebihan dimana I2 yang dibebabskan dengan titrasi kembali dengan mempergunakan kalium kosulfat. Iodo termasuk tirasi reduksi  dan oksidasi. Senyawa iodide merupakan suatu pereaksi dan reaksi yang cukup kuat , lebih kuat dari iodemetrik. (Rosenberg , 1994).  
2.2.6        Spektometri
Adalah penentuan kadar suatu zat berdasarkan hasil analisa                  spektrum zat atau dengan berdasarkan transmitasi larytan terhadap                 cahaya pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan instrumen spektometri (Rosenberg , 1994).  



BAB III
MATERI DAN METODE
Praktikum kimia Analisa Kuantitatif dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 11 Oktober 2009 pada pukul 13.00-15.00 WIB di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia, Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang.

3.1.Materi
            Alat-alat yang digunakan dalam praktikum analisa kuantitatif adalah Erlenmeyer 100ml untuk tempat zat yang ditirasi, corong untuk membantu memasukkan larutan yang sempit mulutnya, labu ukur 250 ml dan 100 ml untuk tempat melakukan pengenceran dengan volume tertentu, buret untuk tempat zat yang akan menitrasi, pipet tetes untuk mengambil larutan dengan jumlah sedikit, gelas beker sebagai tempat larutan dan pipet volume 10 ml dan 5 ml untuk mengambil larutan dalam jumlah yang cukup banyak.
            Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah asam oksalat(H2C2O4) sebagai pengencer ataupun pentitrasi larutan NaOH, sedangkan NaOH 0,1 M sebagai larutan untuk menitrasi asam cuka yang akan dihitung kadarnya yang dicampur dengan aquades, fenolftalein(PP) 1% sebagai indikator  penunjuk.


3.2 Metode
3.2.1 Standarisasi NaOH dengan Larutan Asam Oksalat
            Standarisasi NaOH dengan larutan asam oksalat yaitu menimbang dengan tepat 0,63 gram oksalat (H2C2O4.2H2O), melarutkan asam oksalat yang sudah ditimbang kedalam aquades kemudian diencerkan menjadi 100ml dengan labu ukur, memasukkan larutan asam oksalat kedalam buret, mengambil 15 ml NaOH dan memasukkan kedalam Erlenmeyer 100ml, kemudian menambahkan 3 tetes indikator PP, larutan dititrasi dengan asam oksalat standart sampai warna merah indikator hilang. Mencatat voleme asam oksalat yang diperlukan. Melakukakn titrasi sebanyak 3 kali, menghitung konsentrasi.

3.2.2 Penetapan Kadar Asam Cuka
            Penetapan kadar asam cuka adalah dengan langkah antara lain mengisi larutan NaOH yang telah diketahui konsentrasinya kedalam buret, mengambil 5 ml asam cuka dan mengencerkannya menjadi 250 ml dengan labu ukur, mengambil 10 ml asam cuka yang telah diencerkan dan memasukkan kedalam Erlenmeyer, menambahkan 3 tetes indicator PP, menitrasi larutan dengan NaOH sampai timbul warna merah muda yang tepat. Mengulangi titrasi 3 kali lagi untuk Erlenmeyer yang lain, mencatat volume NaOH yang diperlukan.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Standartisasi NaOH dengan Larutan Asam Oksalat
Tabel 1. Standarisasi NaOH dengan Larutan Asam Oksalat
Keterangan
Volume Asam Oksalat (ml)
Titrasi I
14 ml
Titrasi II
16 ml
Titrasi III
14 ml
Rata-rata
14,6 ml
Sumber Data Praktikum Kimia Dasar, 2009
Perhitungan Normalitas NaOH
N1 x V1 = N2 x V2

0,1 x 14,6 = N2 x 15

1,46 = 15 N2
                            
N2  = 0,097 N

Pada percobaan pertama larutan NaOH diberi 3 tetes PP lalu dihitung dengan larutan asam oksalat kemudian menghitung volum asam oksalat yang diperlukan untuk menitrasi larutan NaOH menjadi tidak berwarna NaOH yang diberi indikator PP menjadi berwarna merah. Ini mencirikan bahwa NaOH bersifat basa dan setelah dititrasi larutan NaOH menjadi tidak berwarna jadi larutan asam reaksinya yaitu 2NaOH + N2C2O4 . 2H2O            Na2C2O4 + 4H2O

Hal ini sesuai dengan pengertian volumetri yaitu merupakan suatu metode analisa kuantitatif yang dilakukan dengan cara mengukur volume larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan teliti, lalu mereaksikannya, telah diketahui dengan larutan yang akan ditentukan konsentrasinya ( Irfan , 2000 ). Berdasarkan hasil praktikum yang dilaksanakan pada praktikum standarisasi NaOH titrasi I menghasilkan volume asam oksalat 14,0 mL sedangkan pada titrasi II mengalami kenaikan menjadi 16 mL faktor yang menyebabkan kenaikan volume asam oksalat yaitu lambatnya reaksi titrasi yang terjadi sehingga memerlukan asam oksalat lebih banyak dari titrasi I. Sesuai dengan pendapat Underwood (1994) yang menyatakan bahwa faktor yang menyebabkan kenaikan volume asam oksalat yaitu lambatnya reaksi titrasi yang terjadi.


4.2 Penetapan Kadar Asam Cuka

Tabel 2. Pengukuran Kadar Asam Cuka
Keterangan
Volume NaOH (ml)
Titrasi I
6 ml
Titrasi II
5,5 ml
Titrasi III
7,5 ml
Rata-rata
6,3 ml
Data Praktikum Kimia Dasar, 2009
Perhitungan Asam Cuka
=
=
= 9,167%

            Analisa volumetri merupakan alat kuantitatif yang juga bertujuan menentukan kadar suatu zat dalam larutan dengan cara pengukuran volume suatu larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan menggunakan rumus :
                                                     N1 . V1 = N2 . V2
Dalam hal ini konsentrasi larutan dinyatakan dengan normalitas. Dalam titrasi ini digunakakn indikator PP karena merupakan indikator yang dapat menunjukkan warna yaitu berwarna merah muda dalam keadaan basa dan tidak berwarna dalam keadaan asam. Fenolftalein berubah warna pada titik ekuivalen dan memilih suatu indikator yang berubah pada sekitar pusat pada ekuivalen terjadi. Berdasarkan hasil praktikum yang dilaksanakan pada praktikum standarisasi NaOH titrasi I menghasilkan volume asam oksalat 14,0 mL sedangkan pada titrasi II mengalami kenaikan menjadi 16,0 mL faktor yang menyebabkan kenaikan volume asam oksalat yaitu lambatnya reaksi titrasi yang terjadi, sehingga memerlukan asam oksalat lebih banyak dari titrasi I. Sesuai dengan pendapat Underwood (1994) yang menyatakan bahwa faktor yang menyebabkan kenaikan volume asam oksalat yaitu lambatnya reaksi titrasi yang terjadi.


BAB V
KESIMPULAN
Analisa volumetri merupakan salah satu metode dari analisa kuantitatif    yang digunakan untuk menentukan banyaknya suatu zat dalam volume tertentu dengan mengukur banyaknya larutan volume standar yang dapat bereaksi secara kuantitatif dengan zat yang akan diketahui.
Dalam percobaan tersebut tingkat ketelitiaannya biasanya kurang. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain adanya kelebihan dan kekurangan air dalam pengenceran, penetesan indicator PP yang tepat 3 tetes atau indikator PP yang telah terkontaminasi dengan zat lain, kurang lebihnya waktu dalam penghentian proses titrasi, larutan standar masih terus mengalir, walau sudah saatnya berhenti. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada waktu praktikum ini dapat mengakibatkan hasil perhitungan yang tidak sama dengan sebenarnya.


DAFTAR PUSTAKA
Day, Underwood.1999.Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi VI. Erlangga. Jakarta.
Haryadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Gramedia, Jakarta.
Irfan, Anshory.2000. Ilmu Kimia. Erlangga : Jakarta.
Khoppar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Organik. Universitas Indonesia Press,
Jakarta.
Rosenberg, Jerome.1994. Kimia Dasar. Edisi IV.  Erlangga : Jakarta.
Underwood, A.L. 2002. Analisa Kimia Kuantitatif. Erlangga, Jakarta.
Zulkarnaen, A. K. Kimia Analisa Kuantitatif. 1991. Departemen Perindustrian                                
                SMTI, Yogyakarta.