Showing posts with label sapi. Show all posts
Showing posts with label sapi. Show all posts

Friday, January 20, 2012

BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG

1.    SEJARAH SINGKAT
     Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.

2.    SENTRA PETERNAKAN
     Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia.

Sapi Simental banyak terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di Amerika.

3.    J E N I S
     Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).

Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi
Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman.

Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi Aberdeen angus (Skotlandia) bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh rata seperti papan dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat mencapai 650 kg, sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong. Sapi Simental (Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir, ujung ekor berwarna putih.

Sapi Brahman (dari India), banyak dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.

4.    MANFAAT
     Memelihara sapi potong sangat menguntungkan, karena tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan
sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat digunakan meranih gerobak, kotoran sapi juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.

Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:
1)    Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.
2)    Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan barang kerajinan
3)    Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia.

5.    PERSYARATAN LOKASI
     Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.

6.    PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
     6.1.    Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.

Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.

Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.

Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan lainnya.

Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).

Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.

1)    Konstruksi dan letak kandang
Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang. Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing
sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering.
Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal
dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak
terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.
Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang
bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan
tidak boleh kehabisan setiap saat.
Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter
dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan
kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.

2)    Ukuran Kandang
Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5x1 m.

3)    Perlengkapan Kandang
Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai.

Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.


6.2.    Pembibitan
Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:
1)    Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.
2)    Matanya tampak cerah dan bersih.
3)    Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.
4)    Kukunya tidak terasa panas bila diraba.
5)    Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.
6)    Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.
7)    Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.
8)    Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.

Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:
1)    tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.
2)    kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.
3)    laju pertumbuhannya relatif cepat.
4)    efisiensi bahannya tinggi.

6.3.    Pemeliharaan
Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :
a) Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.
b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.
c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.

Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.
1.    Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.
2.    Pemberian Pakan
Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.

Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan bermacam-macam jenis rumput.

Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.

Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi
menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.

Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar.

Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.
3.    Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.

Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.


7.    HAMA DAN PENYAKIT
     7.1.    Penyakit
1.    Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.
Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
2.    Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan.
Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.

3.    Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.
Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.
Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
4.    Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.

7.2.    Pengendalian
Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:
1.    Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
2.    Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
3.    Mengusakan lantai kandang selalu kering.
4.    Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.


8.    P A N E N
     8.1.    Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya
8.2.    Hasil Tambahan
Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai hasil tambahan dari budidaya sapi potong.

9.    PASCA PANEN
     9.1.    Stoving
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
1.    Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan
2.    Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.
3.    Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.
4.    Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.

9.2.    Pengulitan
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi
dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.
9.3.    Pengeluaran Jeroan
Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.
9.4.    Pemotongan Karkas
Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50% recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh, dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong. Di negara maju terdapat spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang akan dipotong.

Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.

Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan lokasinya pada rangka tubuh. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin), lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk (rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate & suet) lebih kurang 11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang 2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat karkas (100%).

Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:
Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 %

Istilah untuk sisa karkas yang dapat dimakan disebut edible offal, sedangkan yang tidak dapat dimakan disebut inedible offal (misalnya: tanduk, bulu, saluran kemih, dan bagian lain yang tidak dapat dimakan).

10.    ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
     10.1.    Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:

1) Biaya Produksi
a.    Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp. 7.800,-     Rp. 48.750.000,-
b.    Kandang     Rp. 1.000.000,-
c.    Pakan
- Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.37,50 x 365 hari
- Konsentrat: 25 x 2kg x Rp. 410,- x 365 hari    
Rp. 12.000.000,-
Rp. 7.482.500,-
d.    Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 3.000,-     Rp. 75.000,-
     Jumlah biaya produksi     Rp. 69.307.500,-


2) Pendapatan
a.    Penjualan sapi kereman
Tambahan >Rp. 75.000,-
     Jumlah biaya produksi     Rp. 69.307.500,-


2) Pendapatan
a.    Penjualan sapi kereman
Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0,8 kg = 7.300 kg
Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7.300 kg = 13.550 kg
Harga jual sapi hidup: Rp. 8.200,-/kg x 13.550 kg    


Rp. 111.110.000,-
b.    Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp. 12,-    Rp. 1.095.000,-
     Jumlah pendapatan    Rp. 112.205.000,-

3) Keuntungan
a.    Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor sapi selama setahun.     Rp. 42.897.500,-

4) Parameter kelayakan usaha
a.    B/C ratio    = 1,61

10.2.    Gambaran Peluang Agribisnis
Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan, perdagangan antar pulau. Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota metropolitan Jakarta.

Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen yaitu :
a)    Konsumen Akhir
Konsumen akhir, atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai 98% dari konsumsi total.

Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu :
1.    Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas )
Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera.
2.    Konsumen asing
Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat, karyawan perusahaan dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Di samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri, artinya ekspor belum dilakukan/jika dilakukan porsinya tidak signifikan.

b)    Konsumen Industri
Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba. Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin meningkat

Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4 tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang kegiatan ekonomi. Di Indonesia terdapat 3 organisasi yang bertindak seperti pemasok daging yaitu :
a)    KOPPHI (Koperasi Pemotongan Hewan Indonesia), yang mewakili pemasok produksi peternakan rakyat.
b)    APFINDO (Asosiasi Peternak Feedlot (penggemukan) Indonesia), yang mewakili peternak penggemukan
c)    ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia).


11.    DAFTAR PUSTAKA
     1.    Abbas Siregar Djarijah. 1996, Usaha Ternak Sapi, Kanisius, Yogyakarta.
2.    Yusni Bandini. 1997, Sapi Bali, Penebar Swadaya, Jakarta.
3.    Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. 1991, Petunjuk Teknis Pemeliharaan Sapi Potong, Direktorat Bina Produksi Peternaka
4.    Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta Undang Santosa. 1995, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Penebar Swadaya, Jakarta.
5.    Lokakarya Nasional Manajemen Industri Peternakan. 24 Januari 1994,Program Magister Manajemen UGM, Yogyakarta.
6.    Kohl, RL. and J.N. Uhl. 1986, Marketing of Agricultural Products, 5 th ed, Macmillan Publishing Co, New York.

12.    KONTAK HUBUNGAN
1.    Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
2.    Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id

    
     Sumber :
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas




Wednesday, October 26, 2011

DETEKSI KEBUNTINGAN

 Deteksi kebuntingan terbagi dalam 2 metode utama yaitu
1.       KLINIS, tanpa menggunakan alat bantu
a.       Inspeksi Visual, pemeriksaan kebuntingan yang dilakukan dengan melihat tanda-tanda yang dapat teramati dengan mata. Hewan dinyatakan bunting apabila tidak menujukkan tanda-tanda berahi,  mamae membesar, lendir kering yang mnggantung di ujung vulva, serta abdomen membesar.
b.      Fremitus, desiran A. Uterina media atau ipsilateral dan kontralateral. Bukan merupakan tanda penentu tetapi sangat membantu untuk mengetahui tahapan kebuntingan
 Umur kebuntingan 5 bulan, fremitus mulai terasa.  Desiran tersebut makin kencang dengan bertambahnya umur kebuntingan. Hal ini menunjukkan bahwa fetus berkembang makin baik.

CARA : Telapak tangan diarahkan ke paha belakang bagian dalam kanan maupun kiri

c.       Palpasi rektal, perabaan untuk mendeteksi adanya perubahan pada uterus melalui rektum.





CARA :
1.       Bersihkan rektum dari feses. Dimulai dengan membasahi tangan, secara pelahan dimasukkan melalui anus kemudian feses dikeluarkan sampai tuntas. Tujuannya agar tangan dapat menjangkau uterus.
2.       Kemudian tangan merba bagian di bawahnya sampai tertaraba cincin serviks.
3.       Berdasarkan posisi ini, jari telunjuk menelusuri uterus, pada sapi setelah seviks harus diperoleh septum uteri atau pemisah antara orpus uteri kanan dan kiri.
4.       Pada sapi dara, apabila korpus uteri asimetris kemungkinan bunting. Sedangkan untuk lebih meyakinkan palpasi atau perabaan dilanjutkan sampai ditemukan ovarium. Benjolan yang besar pada ovarium(kanan, kiri atau keduanya) menandakan hewan bunting.




B. LABORATORIUM
1. ULTRASONOGRAPHY. Ada 2 macam yag umum dilakukan pada hewan yaitu transrektal ultrasonografi (hewan besar) dan abdominal ultrasonografi (manusia, anjing, kucing, ruminansia kecil) .   Pemanfaatan transrectal ultrasonography (TUSG) saat bunting diperlukan untuk mengamati perkembangan embrio sejak terbentuknya amnion sampai diketemukanya kotiledon sebagai penanda telah terjadi kebuntingan .



CARA :
  1. Awal sama dengan palpasi rektal.
  2. Dalam mendeteksi kebuntingan, probe dimasukkan melalui rektum berdasarkan orientasi keberadaan uterus yang berada tepat di bawah vesica urinaria (hitam berisi cairan). Kemudian probe digerakkan pelahan sampai di monitor muncul gambaran massa putih  yang menunjukkan uterus. Gambar yang terlihat di monitor dapat memperlihatkan perkembangan embrio yang terjadi di dalam uterus dimulai dari diketemukannya gambaran seperti kabut yang akan terus berubah bentuknya sesuai dengan usia kebuntingan dan jumlah embrio yang ada. Hasil yang terlihat dimonitor direkam dan bisa dicek ulang di laboratorium (Pierson&Ginther 1988).
  3. TUSG dilakukan pada usia kebuntingan H 16-19, 24-27, 32-35 setelah inseminasi buatan (IB) untuk mengevaluasi saat implantasi dan kebuntingan (Strmśnik et al. 2002). Domba dinyatakan bunting apabila sudah ditemukan plasentom atau adanya embrio dalam uterusnya . Pada penelitian ini perkembangan fetus belum jelas pada H16-19 , pada saat usia H 24-27 sekat antar fetus terlihat jelas demikian juga calon fetusnya. Selanjutnya TUSG pada H32-35, plasentom telah terbentuk dan terlihat jelas pada monitor (Karen et al. 2003b).
  4. TUSG merupakan metode pemeriksaan kebuntingan yang umum dilakukan pada ruminansia kecil. Metode ini sangat membantu dalam memprediksi jumlah calon anak yang akan dilahirkan karena dapat terlihat dimonitor serta hasilnya dapat dicetak 
  5.  H-18
     H-18
     H-18





  1. Gambar diatas memperlihatkan perkembangan embrio yang terdeteksi melalui transrectal ultrasonography (TUSG) menggunakan ALOKA, Model SSD-500. Pada usia kebuntingan 18 hari embrio masih terlihat menggantung secara utuh dalam kantung amnion. Perkembangan lebih lanjut, embrio membesar dan hanya satu kantung amnion sedangkan kantung yang lainnya tidak terlihat jelas. Kelemahan dari alat ini tidak dapat memberikan gambaran yang jelas pada saat posisi embrio maupun fetus berada di bagian bawah rongga abdomen.
  1. HORMON. Hormon yang diproduksi pleh induk saat mulai bunting utamanya progesteron dapat juga estradiol,Human Chorionic  Gonadotrophin (HCG), Pregnant Mare Serum Gonadotrophin ( PMSG). Setelah plasentasi terjadi fotus juga akan memproduksi progesteron, estradiol,  interferon, pregnancy associated glycprotein (PAG), early pregnancy factor (EPF) atau Protein-B.  Sampel yang dapat berupa darah, urine maupun feses. Metode yang umum dilakukan adalah ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay), RIA (Radio Immuno Assay), Protein Assay 

PROSES KEBUNTINGAN PADA RUMINANSIA

Proses Terjadinya Fertilisasi
Fertilisasi merupakan bersatunya antara sel spermatozoa dengan sel telur atau proses meleburnya pronukleus jantan dan pronukleus betina (karyogami). Fertilisasi terjadi di ampula –isthmus junction. Fertilisasi terjadi hanya sekali, dan bertahap. Fertilisasi pada hewan ada dua macam :
- Fertilisasi Internal, fertilisasi ini terjadi di oviduk (ampula-istmus junction). Penetrasi speram pada fertilisasi ini adalah sperma mengalami reaksi akrosom untuk dapat menembus zona pelusida dan membrane plasma. Proses dari fertilisasi internal adalah sebagai berikut. Saat terjadi ovulasi, Pada sebagian spesies ovum ada yang mempunyai cumulus ooforus ada yang tidak,  yang mempunyai cumulus ooforus adalah babi. Sperma mempunyai enzim hialuronidase yang berfungsi untuk melarutkan asam hialuronat yang terdapat pada sel-sel granulose pada cumulus ooforus.
Setelah itu sperma ke zona pelusida, ovum di zona pelusida mengeluarkan zat fertilizing, yang apabila berkontak dengan sperma akan menghasilkan aglutinasi, sehingga jika sperma menerobos zona pelusida terdapat lorong bekas jalur tersebut.
Sperma yang berhasil menerobos zona pelusida disebut suplementer, setelah itu untuk menghalangi sperma lainnya, zona pelusida mengeluarkan suatu zat, supaya sperma lainnya tidak masuk.
Setelah itu sperma akan menembus membrane vitelinum,  Sperma yang berhasil menembus zona vitelinum disebut supernumeraria. Sperma masuk kedalam membrane ini mempunyai dua cara, yaitu secara fusi dan fagositosit. Pada saat masuk, ekor ditanggalkan. Setelah kepala spermatozoa menyentuh membrane vitelin , terjadilah aktifitas ovum. Membran vitellin memperlihatkan reaksi terhadap sentuhan kepala spermatozoa. Ditempat sentuhan terjadi tonjolan kecil dari membrane vitellin dan kemudian terbuka.Dalam keadaan tersebut kepala spermatozoa menyusup masuk kedalam sitoplasma sel ovum . Seluruh tubuh spermatozoa termasuk kepala, ekor, masuk kedalam sitoplasma sel telur, sedang membrane plasma yang menjadi pembungkus sperma, lebur menjadi satu dengan membrane vitelin. Setelah tubuh spermatozoa masuk masuk kedalam sitoplasma, terjadilah pengkerutan protein dan pembelahan inti sel ovum yang terakhir. Hasil pengkerutan adalah dilkeluarkannya cairan ke dalam ruang antara membrane vittelin dengan zona pellucida, dan pembelahan inti sel ovum menghasilkan polar bodi yang juga dikeluarkan ke dalam ruangan tersebut. Selanjutnya kepala spermatozoa terputus dengan bagian lainnya, dan perlahan-lahan menggembung. Setelah menyingkarkan badan polar pertama, terjadi pembentukan pronukleus jantan dan betina. Setelah itu mitokondria ovum mendekati kedua pronukleus. Pertumbuhan pronuklei jantan lebih besar dari pronuklei betina. Setelah itu terjadi penggabungan antara pronukleus jantan dan betina.
- Fertilisasi External, fertilisasi ini terjadi secara alami di air atau in vitro (contoh pada ikan dan amphibi). Pada fertilisasi ekternal ini penetrasi sperma juga mengalami reaksi akrosom untuk menembus jelly coat, membrane viteline, dan membrane plasma

Tahapan dari fertilisasi ekternal yang dicontohkan pada bulu babi adalah sebagai berikut
1.      Sperma mendekati kontak dengan jelly coat sel telur
2.      Enzim hidrolisis dilepaskan dari vesikula akrosom
3.      Enzim hidrolitik melarutkan jelly coat sehingga sperma dapat masuk
4.      Aktin akan memanjang dan memulai membentuk tudung akrosom
5.      Tudung akrosom berikatan dengan reseptor pada sperma
6.      Ikatan tersebut membuat atau menyebabkan membaran viteline pecah
7.      Membran sperma dan membrane sel telur berfusi, selain menuju langkah berikutnya, setelah tahapan ini juga membuat inti sel sperma masuk ke sitoplasma dan selanjutnya langsung ke tahapan terakhir yaitu inti sel telur dan inti sel sperma berfusi
8.      Terjadi depolarisasi membrane menginaktifkan reseptor sperma,
9.      sehingga meningkatnya Ca++
10.  Granula korteks berfusi dengan membrane plasma dan mengosongkan isinya kedalam rongga perivitelin, dan membrane viteline menjadi membrane fertilisasi, selain itu juga terjadi aktivasi sel telur.
11.  Inti sel telur dan Inti sel sperma berfusi.
Langkag ke 4-8 merupakan reaksi akrosom sedangkan ke 9-11 merupakan rekasi korteks
Setelah bersatu antara sperma dan ovum maka telah terbentuknya zigot. Zigot merupakan sel diploid (2n) dengan jumlah kromosom 23 pasang. Sambil zigot bergerak kearah uterus, zigot membelah secara mitosis berkali-kali. Zigot akan membelah diri menjadi dua, empat, delapan, enambelas, dan seterusnya, Pada saat embrio mencpai 32 sel disebut morula.
Morula ini nanti akan berkembang menjadi blastula. Pada blastula, sel-sel bagian dalam akan membentuk bakal janin atau embrioblas, sedangkan bagian luarnya membentuk trofoblas. Trofoblas ini merupakan dinding yang berfungsi untuk menyerap makanan dan yang pada nantinya akan membentuk plasenta. Selanjutnya blastula bergerak menuju ke uterus, pada dan selama proses ini korpus luteum menghasilakn hormone progesterone. Hormon ini berfungsi untuk implantasi atau perlekatan embrio dengan merangsang pertumbuhan endometrium. Blastula setelah melakukan implantasi juga akan melepaskan hormone korionik gonadotropin, hormone ini akan melindungi kebuntingan dengan cara menstimulasi hormone estrogen dan progesterone sehingga menstruasi pada primate tidak dapat terjadi.
Proses selanjutnya adalah membentuk gastrula atau disebut gastrulasi, yaitu proses proses dimana bagian embrioblas membentuk dua lapisan, yaitu lapisan luar atau ektodermis dan lapisan dalam atau endodermis. Dan pada bagian permukaan dari lapisan ektodermis melakukan invaginasai kedalam membentuk lapisan mesodermis.
Pada tingkat tubulasi Daerah-daerah bakal pembentuk alat atau ketiga lapis benih : ectoderm, mesoderm dan endoderm, menyususun diri sehingga berupa bumbung , berongga. Tubulasi terjadi mulai daerah kepala sampai ekor. Kecuali mesoderm hanya berlangsung di daerah truncus embryo.

Tahapan Organogenesis
Organogenesis merupakan proses dari pembentukan organ-organ tubuh. Organogenesis meliputi  Proses ini terjadi setelah fase tubulasi pada embryogenesis
1.      Lapisan Ektoderm
1.      Ektoderm Umum : Epidermis kulit, derivat kulit ( kelenjar-kelenjar : Ambing, keringat, lemak, gig, tanduk, dan kuku), lensa mata (alat telinga dalam, indera bau dan rasa), stomadeum (ruang mulut), proktodaeum (bagian anus)
2.      Ektoderm saraf : akan berdiferensiasi menjadi otak  (sistem saraf), otak, sumsum punggung dan saraf tepi, perbesaran indera (mata, hidung, raba).
3.      Rigi Saraf : khromatofor kulit (pigmen dan melanin).
4.      Lapisan Mesoderm
1.      Epimer (mesoderm dorsal), akan megalami segmentasi menurut arah memanjang tubuh embrio, potongan epimer tersusun menurut letak dari anterior ke posterior dan terbentuk somit. Somit akan membentuk dermatom, myotom dan skeretom
2.      Mesomer (mesoderm intermediet), sistem urogenital, ginjal dan alat kelamin.
3.      Hypomer
1.      Somatis (luar), pericardium, pleura, peritoneum, dermis
2.      Visceral (dalam), epimiokardium, mesokardium dan akan membentuk cor
5.      Lapisan Endoderm
1.      Foregut : usus depan
2.      Midgut : usus tengah
3.      Hindgut ; usus belakang
Selain itu juga akan mengeluarkan kelenjar pencernaan saluran pencernaan, sistem pernapasan (epitel paru-paru).

Tanda-tanda dan Faktor yang mempengaruhi Kebuntingan
Pada kambing tanda-tanda dari kebuntingan adalah sebagai berikut
-          Tidak terlihat tanda-tanda berahi pada siklus berahi berikutnya
-          Perut sebelah kanan tampak membesar
-          Ambing tampak menurun
-          Ternak tampak tenang

Faktor-faktor
-   Temperatur
   
Temperatur yag terlampau tinggi , terutama perubahan udara yang sangat mendadak dapat mengakibatkan tidak subur/mandul. Dimana produksi sel telur induk betina tidak normal pada masa tidak subur dan dapat mengakibatkan hewan menjadi keriput dan nafsu makan turun. Demikian juga pejantan , produksi sel jantannya juga tidak normal. Hal ini dapat disiasati bagi peternak yang daerah suhunya di atas kenormalan dapat membaut kandang untuk peternakan dibawah pohon yang rindang, sehingga suhu sekitar kandang akan turun dan hewan menjadi nyaman.
-   Umur
     Kegagalan bunting dapat disebabkan perkawinan pada usia muda. Umumnya perkawinan tersebut tidak sesuai dengan umur dan berat badan yang sesuai jika hewan akan dikawinkan.
-    Kondisi Penyakit
     Mengawinkan hewan dalam kondisi sakit , akan mengakibatkan kegagalan bunting. Karena hewan yang sakit, nafsu makan turun dan pertumbuhan biologisnya tidak normal dan hewan menjadi kurus. Hal ini mengakibatkan alat reproduksi tidak maksimal dan saat kawin akan menimbulkan kegagalan bunting.

Mekanisme Partus
Mekanisme terjadinya kelahiran secara singkat dapat dimulai dari saat hipotalamus fetus menghasilkan CRH, CRH akan mempengaruhi hipofisis anterior untuk mensekrsikan ACTRH (pelepas hormone ACTH). Sekersi ACTH fetus melonjak. ACTH memepengaruhi cortex adrenal fetus untuk meningkatnya sekresi kortisol, kortisol melewati plasenta dan meningkatkan peningkatkan estrogen, estrogen akan mempengaruhi uterus untuk mensekresikan PGF­2α, PGF­2α akan meregresi korpus luteum sehingga produksi progesterone akan menjadi turun.
PGF­2α, estrogen menyebabkan kontraksi miometrium, ketika fetus sampai ke cervik, maka fetus akan merangsang servik melalui kontraksinya dengan mensekresikan oksitosin. Oksitosin ini akan menambah kuat kontraksi dari miometrium untuk mengeluarkan fetus.
Pada proses dilatasi servik, faktor yang berpengaruh pertama adalah hormone relaxin dan estrogen. Hormon ini mempengaruhi proses dilatasi servik yang pertama, selanjutnya adalah proses pengeluaran amnion dan chorion. Proses ketiga adalah dikelurkannya fetus, pada tahap ini biasanya amnion akan pecah.
Kontraksi untuk dikeluarkannya fetus akan bertambah kuat dengan terjadinya anoxia pada fetus. Akibat terjadi kontraksi, maka aliran darah akan berkurang, sehingga suplai oksigenpun akan berkurang juga. Kontraksi abdomen juga akan menambah kekuatan dari kontraksi untuk dikeluarkannya fetus.  Setelah fetus keluar, kontraksi menjadi berkurang dan melemah, tetapi kontraksi tetap berjalan 1-2 hari, dan kontraksi ini akan menjadi proses dikeluarkannya plasenta dan lain sebagainya yang msih tertinggal di uterus.
Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-1 (30 hari), janin masih berukuran sebesar jari tangan kelingking. Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-2 (60 hari), janin berukuran sebesar ibu jari kaki seperti tampak pada gambar di bawah ini.

Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-3 (90 hari), ukuran janin sudah sebesar kaki bayi atau kepalan tangan orang dewasa, posisi janin sudah semakin maju ke arah perut bagian tengah dan detak jantung janin sudah dapat didengar dengan menggunakan stetoskop. Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-4 (120 hari), janin terus membesar dan bisa dirasakan dengan perabaan pada bagian depan bawah perut, tepat pada akhir tulang rusuk. Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-5 (120 – 150 hari), janin terus bergerak ke belakang perut dan mendekati saluran kelahiran.
Ketika 1 minggu menjelang kelahiran, ambing induk akan cepat membesar dan kelihatan merah pada putingnya. Ini menandakan pembentukan air susu sudah sempurna untuk mempersiapkan kelahiran anak. Disamping itu terdapat pula tanda-tanda lainnya untuk mengetahui induk kambing yang akan melahirkan: Pinggul mengendur, ambing sangat besar dan puting susu merah. Alat kelamin membengkak, berwarna kemerah-merahan dan lembap. Gelisah, menggaruk-garuk lantai kandang dan mengembik. Nafsu makan turun. Segera siapkan rumput atau jerami kering sebagai alas untuk melahirkan kambing. 

TAHAPAN KELAHIRAN PADA SAPI

Ada 3 tahapan yaitu :
1.       Persiapan
2.       Pengeluaran foetus dan plasenta yang terdiri dari :
a.       Kontraksi awal
b.      Kontraksi kuat untuk mengeluarkan foetus
c.       Kontraksi kedua untuk mengeluarkan plasenta
3.       Setelah melahirkan

1.       TAHAP PERSIAPAN
A.      Kelahiran normal, merupakan tahap yang lebih paanjang periodenya dibanding tahapan kontraksi. Pada tahap ini, hewan diberi makanan terutama makanan yang bnayak menghasilkan energi yang dibutuhkan saat kontraksi
B.      Tahap persiapan ini memerlukan waktu beberapa jam bahkan beberapa hari dibanding kontraksi yang umumnya terjadi dalam beberapa menit saja
2.       TAHAP KONTRAKSI, Intensitas kontraksi myometrium yang sangat tinggi sampai selaput atau plasenta foetalis allantois keluar dari vulva. Hewan menjadi sangat gelisah. Pengluaran foetus terjadi sangat cepat sedangkan pengeluaran plasenta terjadi secara pelahan tergantung pada mekanisme kontraksi kedua.





3.       SETELAH MELAHIRKAN, terjadi regenerasi endometrium  :
Setelah plasenta keluar, kripta uteri memendek serta terjadipenyempitan pembuluh darah uterus
               

                Pada tahapan ini terjadi 2 hal yang utama :
1.       INVOLUSI UTERUS (sekitar 2 siklus berahi), merupakan periode untuk mengecilkan ukuran uterus menjadi ukuran yang normal. Terdiri dari :
a.       Regenerasi epitel endometrium
b.      Myometrium mengecil
c.       Pembuluh darah uterus mengecil
2.       Estrus setelah melahirkan, ditandai dengan terjadinya regresi korpus gravididatum secara cepat. Akan tetapi periode ini dapat memanjang pada mamalia apabila terjadi kelahiran abnormal  atau distokia. Kelainan ini disebut retentio secundinae atau plasenta yang tertahan yang terjadi karena kontaksi kedua yang lemah atau tidak terjadi kontraksi sehingga kotiledon plasenta tidak dapat lepas dari karunkula.

Proses Pencernaan pada Hewan Mamah Biak (Ruminansia)

               Hewan-hewan herbivora (pemakan rumput) seperti domba, sapi, kerbau disebut sebagai hewan memamah biak (ruminansia). Sistem pencernaan makanan pada hewan ini lebih panjang dan kompleks. Makanan hewan ini banyak mengandung selulosa yang sulit dicerna oleh hewan pada umumnya sehingga sistem pencernaannya berbeda dengan sistem pencernaan hewan lain.
Perbedaan sistem pencernaan makanan pada hewan ruminansia, tampak pada struktur gigi, yaitu terdapat geraham belakang (molar) yang besar, berfungsi untuk mengunyah rerumputan yang sulit dicerna. Di samping itu, pada hewan ruminansia terdapat modifikasi lambung yang dibedakan menjadi 4 bagian, yaitu: rumen (perut besar), retikulum (perut jala), omasum (perut kitab), dan abomasum (perut masam).
Dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retlkulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasums 7-8′/o.Pembagian ini terlihat dari bentuk gentingan pada saat otot spingter berkontraksi. Abomasum merupakan lambung yang sesungguhnya pada hewan ruminansia.
Hewan herbivora, seperti kuda, kelinci, dan marmut tidak mempunyai struktur lambung seperti halnya pada sapi untuk fermentasi selulosa. Proses fermentasi atau pembusukan yang dilakukan oleh bakteri terjadi pada sekum yang banvak mengandung bakteri. proses fermentasi pada sekum tidak seefektif fermentasi yang terjadi dilambung. Akibatnya,
kotoran kuda, kelinci, dan marmut lebih kasar karena pencernaan selulosa hanya terjadi satu kali, yaitu pada sekum. Sedangkan pada sapi, proses pencernaan terjadi dua kali, yaitu pada lambung dan sekum keduanya dilakukan oleh bakteri dan protozoa tertentu.

             Adanya bakteri selulotik pada lambung hewan memamah biak merupakan bentuk simbiosis mutualisme yang dapat menghasilkan vitamin B serta asam amino. Di samping itu, bakteri ini dapat ,menghasilkan gas metan (CH4), sehingga dapat dipakai dalam pembuatan biogas sebagai sumber energi altematif.
ANATOMI DAN FUNGSI  SALURAN PENCERNAAN RUMINANSIA
SALURAN PENCERNAAN:
-  Mulut
-          Esofagus
-          Lambung: Rumen, Retikulum, Omasum, Abomasum 
-          Usus halus
-          Usus Besar (Kolon)
-          Rektum
MULUT
Pencernaan di mulut pertama kali di lakukan oleh gigi molar dilanjutkan oleh mastikasi dan di teruskan ke pencernaan mekanis. Di dalm mulut terdapat saliva.

Pengertian saliva
Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar khusus dan disebarkan ke dalam cavitas oral.
Komposisi saliva:
Komposisi dari saliva meliputi komponen organik dan anorganik. Namun demikian, kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan serum karena pada saliva penyusun utamanya adalah air. Komponen anorganik terbanyak adalah sodium, potassium (sebagai kation), khlorida, dan bikarbonat (sebagai anion-nya).
Sedangkan komponen organik pada saliva meliputi protein yang berupa enzim amilase, maltase, serum albumin, asam urat, kretinin, mucin, vitamin C, beberapa asam amino, lisosim, laktat, dan beberapa hormon seperti testosteron dan kortisol.
Selain itu, saliva juga mengandung gas CO2, O2, dan N2. Saliva juga mengandung immunoglobin, seperti IgA dan IgG dengan konsentrasi rata-rata 9,4 dan 0,32 mg%
Fungsi saliva:
   a. membantu penelanan
   b. buffer (ph 8,4 – 8,5)
   c. suplai nutrien mikroba (70% urea)


Mekanisme sekresi saliva
Di kelenjar saliva, granula ssekretorik (zymogen) yang mengandung enzim-enzim saliva dikeluarkan dari sel-sel asinar ke dalam duktus. Karakteristik ketiga kelenjar saliva pada manusia dapat diringkas sebagai berikut: 
SALIVA : SAPI ± 150 liter/hari
                    DOMBA ± 10 liter/hari
                    Enzim : Pregastric esterase
LAMBUNG RUMINANSIA
  1. RUMEN
Rumen merupakan bagian saluran pencernaan vital pada ternak ruminansia. Pada rumen terjadi pencernaan secara fermentatif dan pencernaan secara hidrolitik. Pencernaan fermentatif membutuhkan bantuan mikroba dalam mencerna pakan terutama pakan dengan kandungan selulase dan hemiselulase yang tinggi. Sedangkan pencernaan hidrokitik membutuhkan bantuan enzim dalam mencerna pakan. Ternak ruminansia besar seperti sapi potong dan sapi perah dapat memanfaatkan pakan dengan kandungan nutrisi yang sangat rendah, akan tetapi boros dalam penggunaan energi.
Rumen pada sapi dewasa merupakan bagian yang mempunyai proporsi yang tinggi dibandingkan dengan proporsi bagian lainnya. Rumen terletak di rongga abdominal bagian kiri. Rumen sering disebut juga dengan perut beludru. Hal tersebut dikarenakan pada permukaan rumen terdapat papilla dan papillae. Sedangkan substrat pakan yang dimakan akan mengendap dibagian ventral. Pada retikulum dan rumen terjadi pencernaan secara fermentatif, karena pada bagian tersebut terdapat bermilyaran mikroba.
LETAK: sebelah kiri rongga perut
ANATOMI : - Permukaan dilapisi papila (papila lidah) → memperluas 
                         permukaan untuk absorbsi
                       - Terdiri 4 kantong (saccus)
                       -  Terbagi menjadi 4 zona
KONDISI :  - BK isi rumen : 10 -15%
                       - Temperatur : 39-40ºC        
                            -  pH = 6,7 – 7,0
                            -  BJ = 1,022 – 1,055
                            -  Gas: CO2, CH4, N2, O2, H2, H2S
                            -  > mikroba: bakteri, protozoa, jamur
                            -  Anaerob
FUNGSI     :   -  Tempat fermentasi oleh mikroba rumen
                       -  Absorbsi : VFA, amonia
                       -  Lokasi mixing
           -  Menyimpan bahan makanan→ fermentasi
PEMBAGIAN ZONA DI DALAM RUMEN
PEMBAGIAN MIKROBIOLOGIS:
1.      Zona gas : CO2, CH4, H2, H2S, N2, O2
2.      Zona apung (pad zone) : Ingesta yang mengapung (ingesta baru dan mudah dicerna)
3.      Zona cairan (intermediate zone) : cairan dan absorbsi                           metabolit yang terlarut dalam cairan (>>mikroba)
4.      Zona endapan (high density zone) : ingesta tidak dapat                       dicerna dan benda-benda asing

  1. RETIKULUM
Retikulum sering disebut sebagai perut jalang atau hardware stomach. Fungsi retikulum adalah sebagai penahan partikel pakan pada saat regurgitasi rumen. Retikulum berbatasan langsung dengan rumen, akan tetapi diantara keduanya tidak ada dinding penyekat. Pembatas diantara retikulum dan rumen yaitu hanya berupa lipatan, sehingga partikel pakan menjadi tercampur.
-          Secara fisik tidak terpisahkan dari rumen
-          Terdapat  lipatan-lipatan esofagus  yang meru-pakan lipatan jaringan yg langsung dr esofagus ke omasum
   Permukaan dalam : papila → sarang laba-laba (honey comb) perut  
      jala
Fungsi:
    - tempat fermentasi
    - membantu proses ruminasi
    - mengatur arus ingesta ke omasum
    - Absorpsi hasil fermentasi
    - tempat berkumpulnya benda-benda asing

  1. OMASUM
Omasum sering juga disebut dengan perut buku, karena permukaannya berbuku-buku. Ph omasum berkisar antara 5,2 sampai 6,5. Antara omasum dan abomasums terdapat lubang yang disebut omaso abomasal orifice.
-          Letak : sebelah kanan(retikulum) grs median                               (disebelah rusuk 7-11)
-          Bentuk : ellips
-          Permukaan dalam berbentuk laminae → perut buku (pada lamina terdapat papila untuk absorpsi)
-          Fungsi: grinder, filtering, fermentasi, absorpsi)
  1. ABOMASUM
Abomasum sering juga disebut dengan perut sejati. Fungsi omaso abomasal orifice adalah untuk mencegah digesta yang ada di abomasum kembali ke omasum. Ph pada abomasum asam yaitu berkisar antara 2 sampai 4,1. Abomasum terletak dibagian kanan bawah dan jika kondisi tiba-tiba menjadi sangat asam, maka abomasum dapat berpindah kesebelah kiri. Permukaan abomasum dilapisi oleh mukosa dan mukosa ini berfungsi untuk melindungi dinding sel tercerna oleh enzim yang dihasilkan oleh abomasum. Sel-sel mukosa menghasilkan pepsinogen dan sel parietal menghasilkan HCl. Pepsinogen bereaksi dengan HCl membentuk pepsin. Pada saat terbentuk pepsin reaksi terus berjalan secara otokatalitik.
Letak : dasar perut (kanan bawah)
- Bentuk : memanjang
- Bagian dalam terdapat tonjolan : fold → absorpsi
- Terdiri 3 bagian:
    - kardia  : sekresi mukus
    - Fundika: pepsinogen, renin, HCl, mukus   
    - Pilorika : sekresi mukus
- Fungsi: - tempat permulaan pencernaan enzimatis                                 (perut sejati) → Pencernaan protein
                            - mengatur arus digesta dari abomasum ke duodenum

PENCERNAAN FERMENTATIF MIKROBA (RUMEN, RETIKULUM, OMASUM)
PENCERNAAN ENZIMATIS     ABOMASUM
KEUNTUNGAN PENCERNAAN FERMENTATIF :
         Dapat makan cepat dan menampung pakan banyak
         Dapat mencerna pakan kasar : sumber energi (VFA)
         Dapat menggunakan NPN : sumber protein
KERUGIAN PENCERNAAN FERMENTATIF :
         Banyak energi terbuang sebagai gas metan
         Protein nilai hayati tinggi didegradasi : amonia
USUS HALUS (INTESTINUM TENUE)
Fungsi : pencernaan enzimatis dan absorpsi
Kedalam usus halus masuk 4 sekresi:
-          Cairan duodenum: alkalis, fosfor, buffer
-          Cairan empedu: dihasilkan hati, K dan Na                                         (mengemulsikan lemak), mengaktifkan lipase               pankreas, zat warna
-          Cairan pankreas: ion bikarbinat untuk menetralisir asam lambung
-          Cairan usus
PANKREAS
Letak : lengkungan duodenum
Mensekresikan enzim:
         Amilase  : alfa amilase, maltase, sukrase
         Protease : tripsinogen,  kemotripsinogen,prokarboksi, peptidase
         Lipase    : lipase, lesitinase, fosfolapase, kolesterol, esterase
         Nuklease: ribonuklease, deoksi ribonuklease
SEKUM DAN KOLON
         Bentuk: tabung berstruktur sederhana,  kondisi = rumen
         Fungsi: fermentasi oleh mikroba
         Absorpsi VFA dan air → kolon
         Konsentrasi VFA: sekum: 7 mM, kolon: 60 mM (rumen = 100 – 150 mM)
GERAKAN YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN RUMEN
  1. Prehensi
  2. Mastikasi : ensalivasi (94 x per menit)
  3. Deglutisi
  4. Eruktasi : CO2 dan CH4
  5. Rumminasi :
                        * Regurgitasi
                        * Remastikasi (55 x per menit)
                        * Reensalivasi
                        * Redeglutisi