Showing posts with label Babi. Show all posts
Showing posts with label Babi. Show all posts

Wednesday, October 26, 2011

CARA MANIPULASI PAKAN PADA BABI

1.                            PENGARUH TARAF PEMBERIAN TEPUNG DAUN BANGUN BANGUN (Coleus amboinicus Lour) DALAM RANSUM INDUK BABI MENYUSUI

M             Model dan Pola
Usaha memanipulasi pakan untuk dapat meningkatkan produksi ternak adalah hal yang sering kita temukan. Pemberian daun bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) di dalam ransum dipercaya mampu meningkatkan produksi air susu pada induk yang sedang laktasi. Peningkatan produksi air susu ini akan meningkatkan bobot badan  anak  yang  sedang  menyusu.  Peningkatan  bobot  badan  anak  pada  masa menyusu ini akan meningkatkan pendapatan usaha peternakan, khususnya usaha peternakan babi.
Ransum yang diberikan pada ternak babi selama penelitian adalah ransum kering dan campuran dari dedak, jagung giling dan tepung daun bangun-bangun dengan  berbagai  taraf.  Selama  penelitian  berlangsung  peternak  beberapa  kali menggunakan  pakan  basah  berupa  ampas  tahu kepada  semua  kelas  ternaknya. Penggunaan ampas ini terpaksa dilakukan peternak karena kondisi pasar peternakan babi tidak menentu akibat isu flu babi dimana harga pakan sangat tinggi, sedangkan harga dan permintaan akan ternak sangat rendah. Meskipun terjadi perubahan pakan
selama penelitian, pemberian tepung daun bangun-bangun tetap dilakukan sesuai dengan  taraf  pemberiannya  dalam  ransum  induk  babi.  Susunan  ransum  yang diberikan selama penelitian berlangsung disajikan dalam Tabel 8.

Ransum Penelitian
Bahan Makanan Perlakuan (%)
                     Bahan Makanan                          R0        R1        R2        R3
Jagung Giling                                       25,00   24,37   23,75   23,12
Dedak Halus                                        75,00   74,38   73,75   73,13
             Tepung daun bangun-bangun (TDB)  -           1,25     2,50     3,75
             Jumlah                                                100,00 100,00 100,00 100,00
           

2.  Kandungan Nutrien
Hasil analisis proksimat tiap ransum perlakuan  (Tabel 8) yang digunakan selama penelitian, disajikan pada Tabel 9. Analisis proksimat ini diperoleh dengan menganalisa  setiap  sampel  ransum  perlakuan  di Laboratorium  Ilmu  Nutrisi  dan Teknologi  Pakan,  Fakultas  Peternakan.  Berdasarkan  hasil  analisa  proksimat  ini (Tabel 9) diketahui, bahwa semakin tinggi taraf pemberian TDB dalam ransum akan
meningkatkan  kandungan  serat  kasar (SK),  kalsium (Ca)  dan  fospor (P)  serta menurunkan kandungan protein kasar (PK). Kandungan SK, Ca, dan P yang terdapat didalam  TDB  menyebabkan  terjadinya  kenaikan  mineral  ini  didalam  ransum perlakuan, penurunan PK disebabkan oleh rendahnya kandungan PK didalam TDB. Kandungan energi metabolik (ME) ransum perlakuan mengalami penurunan sampai pada taraf perlakuan R2, akan tetapi peningkatan energi terjadi pada perlakuan R3. Hal ini mungkin disebabkan adanya human error atau terjadi pencampuran TDB yang kurang merata sehingga bagian yang teranalisis adalah sebagian bahan yang mengandung energi tinggi.
Zat Makanan (%)
Perlakuan                 PK         SK       LK      Ca         P          Fe (mg) ME(kkal/kg)
     R0      12,79      10,75    9,68          0,08     0,89     11,50        4125
     R1      12,30      12,25    9,30          0,09     1,16     12,91        3798
     R2      12,01      12,89    7,64          0,14     1,42     14,32        3463
     R3      11,75      13,76    6,56          0,27     1,12     15,73        4238
 Keterangan :   PK = Protein Kasar, SK = Serat Kasar, LK = Lemak Kasar, Ca = Kalsium, P = Fospor, EM = Energi Metabolik. R0 = Ampas Tahu (kontrol) atau tanpa penambahan TDB R1 = Ampas Tahu ditambah 1,25% TDB R2 = Ampas Tahu ditambah 2,50% TDB R3 = Ampas Tahu ditambah 3,75% TDB
Sumber : Hasil Analisa Proksimat Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2009).

3.      Produksi Ternak
Induk babi menyusui memiliki peranan yang penting dalam peternakan babi untuk menghasilkan ternak babi yang berkualitas. Kualitas induk babi menyusui dapat dilihat dari penampilannya. Indikator penampilan induk babi menyusui dapat dilihat dari jumlah konsumsi ransum, produksi air susu induk (PASI), litter size lahir, litter  size  sapih  dan  mortalitas  anak.  Peningkatan  penampilan  induk  babi  pada umumnya  akan  meningkatkan  penampilan  anak  babi.  Penampilan  induk  babi menyusui selama penelitian disajikan pada Tabel
                                                                                   

Perlakuan
Peubah                                     R0                      R1          R2                R3        Rataan
KonsumsiRansum(kg/e/h)          3,97±0,01   4,39±0,68    4,15±0,34   3,98±0,01     4,10±0,35
PASI   per   menyusui (g/ekor) 172,2±48,8    216,7±54,5   229,2±55,1  204,2±64,4  207,1±56,1
LitterSizeLahir(ekor)                      9,67±6,02   10,33±4,16    10,25±3,86   10,50±3,87 10,21±3,90
LitterSizeSapih(ekor)                 5,67±2,88   9,66±5,03    8,00±1,82     8,50±2,88    8,00±3,13
Mortalitas anak (%)                        33,13±29,3  9,53±16,5  23,13±16,3    11,17±14,2  19,09±19,2
Keterangan :  R0 = 100% ransum biasa + 0% TDB; R1 = 98,75% R0 + 1,25% TDB; R2 = 97,5% R0 + 2,50% TDB;R3 = 96,25% R0 + 3,75 % TDB;

Produksi  air  susu  induk (PASI)  babi  selama  penelitian  diukur  dengan menghitung selisih bobot badan anak setelah menyusu dengan bobot badan anak sebelum menyusu. Pengukuran PASI ini dilakukan pada hari ke-5, ke-10, ke-15, ke-20, ke-25 dan ke-30 setelah beranak. Tabel  12 menunjukkan bahwa rataan PASI selama penelitian adalah 207,1±56,1 g/menyusui. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa taraf pemberian TDB tidak berpengaruh nyata terhadap PASI babi selama penelitian,  akan  tetapi  terjadi  peningkatan  PASI  dari  perlakuan  R0 (172,2 g/menyusui)  sampai  R2  (229,17  g/menyusui)  kemudian  terjadi  penurunan  pada
perlakuan R3  (204,2 g/menyusui). Hasil PASI babi ini yang tidak berbeda nyata diduga disebabkan oleh keadaan induk babi yang tidak seragam, seperti perbedaan bangsa, bobot badan, litter size dan perbedaan kemampuan induk itu sendiri dalam menghasilkan air susu akibat periode laktasi yang berbeda pula. Menurut Parakkasi (1990), produksi susu dipengaruhi oleh oleh genotip, parity, pakan, kondisi tubuh dan litter size dimana semakin banyak anak menyusu cenderung menaikkan produksi air susu induk.
Rataan litter size lahir hidup anak babi selama penelitian adalah 10,21±3,90 ekor. Jumlah ini masih tergolong normal karena menurut Sihombing (2006), seekor induk babi dapat menghasilkan anak sebanyak 8 - 12 ekor setelah periode  kebuntingan  selama  112  -  120  hari.  Hasil  analisis  ragam  menunjukkan bahwa taraf pemberian TDB yang berbeda dalam ransum induk tidak berpengaruh nyata terhadap litter size anak lahir hidup dari induk babi penelitian. Litter size lahir anak dari tiap induk babi selama penelitian berbeda-beda. Beberapa induk bahkan
mampu menghasilkan litter size lahir hidup anak babi sebanyak  16 ekor. Hal ini

1.      Polusi Lingkungan
            Pamanfaatan zat probiotik dalam ransum sangat diperlukan untuk
meningkatkan efisiensi penggunaan pakan di samping itu mengantisipasi terhadap
pencemaran lingkungan oleh bau kotoran dan dapat mengurangi pencemaran pada
lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Agus. 2009. Pengaruh Taraf Pemberian Tepung Daun Bangun-Bangun (Coleus amboinicus Lour. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Monday, December 6, 2010

MENYUSUN RANSUM DARI BAHAN PAKAN PADA SAPI DAN BABI DENGAN MELIHAT UNSUR KELAYAKAN ( NILAI GIZI, HARGA, KETERSEDIAAN, DAN KANDUNGAN ZAT ANTI NUTRISI )

TERNAK SAPI
1.      Pakan Hijauan
Rumput Gajah
-         Nilai Gizi
Rumput Gajah mempunyai nilai gizi yang tinggi. Hasil analisa laboratorium menunjukkan bahwa bahan keringnya mengandung 6,4% protein kasar, 34,5% serat kasar, 3,0% lemak, 8,6% abu dan 47,5% bahan Ekstraksi tanpa N. Rumput Gajah diberikan kepada ternak sebagai rumput potongan, artinya dipotong di kebun kemudian diberikan kepada ternak.
-         Harga
Harga dari rumput gajah itu tergantung dari dimana untuk mendapatkannya. Misalnya harga rumput di daerah pegunungan sangat terjangkau yakni Rp. 2000,00 per karung, hal ini dikarenakan kondisi lingkungan sangat mendukung untuk pertumbuhan rumput gajah. Sebaliknya apabila mencari rumput gajah di daerah dataran rendah, maka harganya akan melambung tinggi, karena sulit memperoleh pasokan.
-         Ketersediaan
Hubungan ketersediaan rumput gajah dengan harga yakni saling mempengaruhi. Ketersedian rumput gajah di dataran tinggi sangat melimpah, karena banyak petani yang membudidayakannya. Namun sedikit petani yang membudidayakan rumput ini di daerah dataran rendah
-         Kandungan Anti Nutrisi
Kandungan zat anti nutrisi dari rumput gajah yakni HCN ( asam sianida), asam sitrat, dan asam oksalat. Ketiga zat ini memiliki batasan minimum dalam pemberian kepada ternak. Pada kandungan asam sianida yang lebih dari 500 ppm, sudah perlu diwaspadai. Level toksik HCN pada sapi dan kerbau 2,2 mg/kg bobot badan, sedangkan pada kambing dan domba 2,4 mg/kg bobot badan. Cara mengurangi pengaruh negatif HCN terhadap kesehatan ternak adalah dengan menambah unsur sulfur (S) atau vitamin B-12. Pakan ternak yang mengandung asam sitrat 2% sudah membahayakan bagi ternak. Batas toksisitas ternak ruminansia terhadap asam sitrat adalah 1 g  NO3/kg bobot badan.
2.      Pakan Tambahan (Konsentrat)
Ampas tahu
-         Nilai Gizi
Kandungan gizi dari ampas tahu yakni Protein 23,55%, Lemak 5,54%, Karbohidrat 26,92%, Abu 17,03%, Serat kasar 16,53%, Air 10,43%. Protein ampas tahu mempunyai nilai biologis lebih tinggi daripada protein biji kedelai dalam keadaan mentah, karena bahan ini berasal dari kedelai yang telah dimasak. Ampas tahu juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu untuk mikro; Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih dari 50 ppm.
Apabila ampas tahu difermentasi dengan ragi yang mengandung kapang Rhyzopus Oligosporus dan R. Oryzae maka kandungan gizi didalamnya yakni memiliki protein kasar 21,66%, lemak kasar 2,73%, serat kasar 20,26%, Ca 1,09%, P 0,88%, dengan energi metabolis sebesar 2.830 kkal/ kg. Selain itu, kandungan asam amino lisin dan methionin serta vitamin B komplek yang cukup tinggi juga terdapat di dalamnya.
-         Harga
Selama ini stok ampas tahu masih melimpah, harganyapun masih sangat murah. Lebih murah jika dibandingkan dengan harga konsentrat. Haraganya kira kira sekitar 9-12 ribu per karung(±60-80kg). Sehingga masih sangat menguntungkan bagi para peternak. Peternak mengalani keuntungan yang lebih karena dengan sedikit pengeluaran tambahan buat membeli ampas tahu tetapi hasil yang di dapat akan lebih banyak. Waktu perawatan/pertumbuhan lebih cepat karena asupan protein bagi ternak lebih tinggi.
-         Ketersediaan
Stok ampas tahu saat ini masih melimpah. Hal ini dikarenakan banyak pabrik-pabrik tahu, mengingat bahwa tahu merupakan sumber pangan protein yang murah bagi masyaraakat pada umumnya. Namun hal ini bukan berarti tidak mendapat masalah. Ketersediaan bisa tersendat apabila kondisi dari bahan baku tahu yakni kedelai  mengalami kelangkaan maupun melonjak harganya karena sebagian besar kedelai yang kita peroleh merupakan kedelai impor.
-         Kandungan Anti Nutrisi
Di samping memiliki kandungan zat gizi yang baik, ampas tahu juga memiliki antinutrisi berupa asam fitat yang akan mengganggu penyerapan mineral bervalensi 2 terutama mineral Ca, Zn, Co, Mg, dan Cu, sehingga penggunaannya untuk unggas perlu hati-hati.

TERNAK BABI
A.     Sumber Energi
1.      Jagung
-         Nilai Gizi
Kandungan nutrisi yang terdapat di dalam jaguung yakni protein kasar sebesar 10,50%, serat kasar sebesar 2%, kalsium sebesar 0,02%, phosfor sebesar 0,30%, dan Energi metabolisme sebesar 3420 Kkal/kg. Hal ini menunjukkan bahwa jagung merupakan bahan pakan penyusun ransum pada babi untuk memenuhi kebutuhan nutrien karbohidrat.
-         Harga
Kisaran dari harga jagung di tingkat petani yakni Rp 1.800,00 – Rp 2.300,00 per kg. Hal ini menunjukkan bahwa harga dipengaruhi oleh stok jagung nasional yang sering kali naik turun yang disebakan oleh keadaan cuaca saat ini yang tidak menentu.
-         Ketersediaan
Ketersediian stok jagung di Indonesia yakni pasang surut. Hal ini disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu serta jagung di Indonesia masih bersaing dengan kebutuhan pangan manusia.


-         Kandungan Anti Nutrisi
Jagung mengandung phytat. Phytat merupakan salah satu non polysaccharida dari dinding tanaman seperti silakat dan oksalat. Asam phytat termasuk chelat (senyawa pengikat mineral) yang kuat yang bisa mengikat ion metal divalent membentuk phytat komplek sehingga mineral tidak bisa diserap oleh tubuh. Selain itu jagung juga mengandung Non-starch polysaccharide (NSP). NSP adalah karbohidrat komplek yang terlihat di endosperm dinding sel dari biji cereal. Karbohidrat ini sukar dicerna sehingga lolos dari saluran pencernaan dan mengikat air sehingga viscositas cairan di saluran pencernaan tinggi. Viscositas di saluran pencernaan meningkat menyebabkan transport nutrient menurun dan absorpsi menurun.
B.     Sumber Protein
1.      Bungkil Kedelai
-         Nilai Gizi
Kandungan nutrisi bungkil kacang kedelai :
·         Protein kasar : 42 – 50 %
·         Energi metabolis : 2825 - 2890 Kkal/kg
·         Serat kasar : 6 %
Bungkil kedelai ini merupakan bahan pakan sumber protein yang cukup baik untuk ternak babi yang dilihat dari kandungan PK yang cukup tinggi. Kandungan protein bungkil kedelai  yang diperoleh secara mekanik adalah 41% dan mempunyai kandungan lemak 4,8%. Sedangkan yang diperoleh dengan pelarutan mempunyai kandungan lemak sebesar 1,32%. Bungkil kedelai agak rendah mengandung kalsium (0,27%). Kandungan phospor lebih rendah dibandingkan dengan bungkil biji kapas yaitu rata-rata 0,63%. Seperti biji kedelai, bungkil kedelai tidak menyediakan karoten dan vitamin D. Bungkil kedelai tidak kaya riboflavin tetapi kandungannya lebih tinggi dibandingkan dengan jagung dan butiran lainnya. Kandungan niacin tidak tinggi, kandungan thiamin bungkil kedelai sama dengan butiran lainnya.
-         Harga
Harga bungkil kedaelai ini sangat fluktuatif dengan keadaan pasar. Selain itu harga juga dipengaruhi dengan kadae protein di dalamnya. Kadar protein 44-50% bungkil kedelai diharga kisaran Rp. 4.500,00. Jika dilihat dari harganya memang dirasa mahal, namun untuk pemenuhan jangkaa panjang dengan intensitas yang baik, hasil yang dihasilkan yaitu aplikasi kepada ternak akan maksimal.
-         Ketersediaan
Ketersediian bungkil kedelai tergantung dari bahan utamanya yakni kedelai. Data Departemen pertanian, Direktorat Jenderal Bina Bina Usahatani dan Pengolahan Hasil Pertanian bahwa sampai tahun 2001 secara nasional menunjukkan adanya disparitas neraca perdagangan kedelai dan hasil ikutan/olahannya. Tampak bahwa jumlah dan macam bentuk/produk ikutan/olahan kedelai yang diimpor lebih banyak dibanding ekspor yang hanya terbatas tepung kedelai. Antara tahun 1990-2001, laju impor masing-masing 6,8%/thn untuk kedelai kuning, 15,5% untuk kedelai hitam dan 25,1% untuk bungkil kedelai. Tingginya impor merupakan penggambaran tentang ketidakcukupan produksi dalam negeri untuk mengimbangi permintaan yang terus meningkat. Permintaan dimaksud untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi dan industri pengolahan bahan makanan dalam negeri (industri tahu/tempe), juga industri pakan ternak yang memanfaatkan kedelai sebagai bahan baku (bungkil kedelai).
-         Zat Anti Nutrisi
Bungkil kedelai mengandung tannin 0,1 % BK. Tanin dapat menimbulkan penurunan palatabilitas dan penurunan pencernaan protein. Kadar tanin 0,3% dalam pakan ternak sudah dapat menimbulkan gangguan tersebut.