Showing posts with label Ilmu Reproduksi Ternak (IRT). Show all posts
Showing posts with label Ilmu Reproduksi Ternak (IRT). Show all posts

Wednesday, October 26, 2011

GAMETOGENESIS

BAB I
PENDAHULUAN

Proses pembentukan gamet atau sel kelamin disebut gametogenesis, ada dua jenis proses pembelahan sel yaitu mitosis dan meiosis. Bila ada sel tubuh kita yang rusak maka akan terjadi proses penggantian dengan sel baru melalui proses pembelahan mitosis, sedangkan sel kelamin atau gamet sebagai agen utama dalam proses reproduksi manusia menggunakan proses pembelahan meiosis.
Mitosis menghasilkan sel baru yang jumlah kromosomnya sama persis dengan sel induk yang bersifat diploid (2n) yaitu 23 pasang/ 46 kromosom, sedangkan pada meiosis jumlah kromosom pada sel baru hanya bersifat haploid (n) yaitu 23 kromosom. Gametogenesis ada dua yaitu spermatogenesis dan oogenesis.
Gametogenesis adalah proses pembuatan gamet; pada jantan disebut denagn spermatogenesis dam pada betina disebut oogenesis. Proses dari gametogenesis ini, baik spermatogenesis maupun oogenesis dapat dijelaskan pada Bab berikut.



BAB II
PEMBAHASAN

Proses pembentukan gamet atau sel kelamin disebut gametogenesis, ada dua jenis proses pembelahan sel yaitu mitosis dan meiosis. Bila ada sel tubuh kita yang rusak maka akan terjadi proses penggantian dengan sel baru melalui proses pembelahan mitosis, sedangkan sel kelamin atau gamet sebagai agen utama dalam proses reproduksi manusia menggunakan proses pembelahan meiosis.
Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa mitosis menghasilkan sel baru yang jumlah kromosomnya sama persis dengan sel induk yang bersifat diploid (2n) yaitu 23 pasang/ 46 kromosom, sedangkan pada meiosis jumlah kromosom pada sel baru hanya bersifat haploid (n) yaitu 23 kromosom. Gametogenesis ada dua yaitu spermatogenesis dan oogenesis.
Gametogenesis adalah proses pembuatan gamet; pada jantan disebut dengan spermatogenesis dam pada betina disebut oogenesis. Proses dari gametogenesis ini, baik spermatogenesis maupun oogenesis dapat dijelaskan sebagai berikut :

Spermatogenesis
Yaitu proses pembuatan sperma di tubulus seminiferus. Seperti halnya pada wanita, sejak bayi laki-laki masih berada dalam kandungan ibunya, tepatnya pada usia ke-5 bulan, janin telah memiliki sejumlah bakal sel kelamin (primordial germ cell), hanya saja pada lelaki bakal sel kelamin tersebut tidak mengalami degenerasi sehingga jumlahnya pun tetap saat dilahirkan.
Hasil pembelahan pada meiosis 1 berupa spermatosis sekunder dengan ukuran yang sama besar. Rasio ukuran hasil dari pembelahan ini yang menyebabkan sperma tersebut dapat membelah lagi dan pada akhirnya menghasilkan empat sperma yang fungsional.
Perlu diketahui pula, ketika meiosis 1 menghasilkan 2 spermatosit sekunder, spermatosit sekunder yang satu akan berperan dalam spermatogenesis, sedangkan spermatosit sekunder yang satunya lagi akan bertindak sebagai induk sperma yang nantinya akan mnghasilkan bakal sel kelamin lagi.

 
Oogenesis
Oogenesis merupakan proses pembentukan ovum di dalam ovarium. Di dalam ovarium atau indung telur terdapat oogonium (oogonia = jamak). Oogonium bersifat diploid (2n = mengandung 23 pasang kromosom atau 46 buah kromosom). Oogenesis telah dimulai sejak bayi perempuan masih dalam kandungan ibunya berusia sekitar 5 bulan. Oogonium akan memperbanyak diri dengan membelah berulang kali secara mitosis, membentuk oosit primer. Oosit primer terbungkus dalam folikel yang penuh dengan cairan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan ovum.
Oogenesis terhenti hingga terjadi ovulasi, bila tidak terjadi fertilisasi oosit sekunder akan mengalami degenerasi. Namun bila ada penetrasi sperma dan terjadi fertilisasi, oogenesis akan dilanjutkan dengan pembelahan meiosis kedua; oosit sekunder membelah menjadi 2 yaitu ootid (berukuran besar) dan polosit sekunder (berukuran kecil). Sedangkan polosit primer membelah menjadi 2 polosit sekunder. Sehingga pada akhir oogenesis dihasilkan 3 polosit dan 1 ootid yang berkembang menjadi ovum.
Selama perkembangan oosit primer hingga menjadi oosit sekunder berada dalam folikel, yaitu suatu kantung pembungkus yang penuh cairan yang menyediakan nutrisi bagi oosit. Semula oosit primer berada dalam folikel primer kemudian berkembang menjadi folikel sekunder. Ketika terbentuk oosit sekunder, folikel telah berkembang menjadi folikel tersier dan akhirnya menjadi folikel de Graaf (folikel yang telah matang) Setelah ovulasi atau lepasnya oosit sekunder folikel telur akan berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum mengalami degenersi membentuk korpus albikan
Oogenesis telah dimulai saat bayi perempuan masih di dalam kandungan, yaitu pada saat bayi berusia sekitar 5 bulan dalam kandungan. Pada saat bayi perempuan berumur 6 bulan, oosit primer akan membelah secara meiosis. Namun, meiosis tahap pertama pada oosit primer ini tidak dilanjutkan sampai bayi perempuan tumbuh menjadi anak perempuan yang mengalami pubertas. Oosit primer tersebut berada dalam keadaan istirahat (dorman).
Pada saat bayi perempuan lahir, di dalam setiap ovariumnya mengandung sekitar 1 juta oosit primer. Ketika mencapai pubertas, anak perempuan hanya memiliki sekitar 200 ribu oosit primer saja. Sedangkan oosit lainnya mengalami degenerasi selama pertumbuhannya.
Saat memasuki masa pubertas, anak perempuan akan mengalami perubahan hormon yang menyebabkan oosit primer melanjutkan meiosis tahap pertamanya. Oosit yang mengalami meiosis I akan menghasilkan dua sel yang tidak sama ukurannya. Sel oosit pertama merupaakn oosit yang berukuran normal (besar) yang disebut oosit sekunder, sedangkan sel yang berukuran lebih kecil disebut badan polar pertama (polosit primer).
Selanjutnya , oosit sekunder meneruskan tahap meiosis II (meiosis kedua). Namun pada meiosis II, oosit sekunder tidak langsung diselesaikan sampai tahap akhir, melainkan berhenti sampai terjadi ovulasi. Jika tidak terjadi fertilisasi, oosit sekunder akan mengalami degenerasi. Namun jika ada sperma masuk ke oviduk, meiosis II pada oosit sekunder akan dilanjutkan kembali. Akhirnya, meiosis II pada oosit sekunder akan menghasilkan satu sel besar yang disebut ootid dan satu sel kecil yang disebut badan polar kedua (polosit sekunder). Badan polar pertama juga membelah menjadi dua badan polar kedua. Akhirnya, ada tiga badan polar dan satu ootid yang akan tumbuh menjadi ovum dari oogenesis setiap satu oogonium.
Oosit dalam oogonium berada di dalam suatu folikel telur. Folikel telur (folikel) merupakan sel pembungkus penuh cairan yang menglilingi ovum. Folikel berfungsi untuk menyediakan sumber makanan bagi oosit. Folikel juga mengalami perubahan seiring dengan perubahan oosit primer menjadi oosit sekunder hingga terjadi ovulasi.
Folikel primer muncul pertama kali untuk menyelubungi oosit primer. Selama tahap meiosis I pada oosit primer, folikel primer berkembang menjadi folikel sekunder. Pada saat terbentuk oosit sekunder, folikel sekunder berkembang menjadi folikel tersier. Pada masa ovulasi, folikel tersier berkembang menjadi folikel de Graaf (folikel matang). Setelah oosit sekunder lepas dari folikel, folikel akan berubah menjadi korpus luteum. Jika tidak terjaid fertilisasi, korpus luteum akan mengkerut menjadi korpus albikan.kromosom XX. Kromosom-kromosom yang lain disebut autosom. Satu kromosom terdiri dari dua kromatin. Kromatin membawa gen-gen yang disebut DNA.

Pengaruh Hormon dalam Spermatogenesis
Hormon Gonadotropin
Hormon ini dihasilkan oleh hipotalamus dibagian dasar dari otak. Hormon ini akan merangsang kelenjar hipofidid bagian depan (anterior) untuk mengeluarkan hormon FSH dan LH.

FSH ( Follicle Stimulating Hormone )
Hormon ini berfungsi mempengaruhi da merangsang perkembangan tubulus seminiferus dan sel Sertoli untuk menghasilkan  ABP ( Androgen Binding Protein atau protein pengikat androgen ) yang memacu pembentukan sperma.
LH ( Luteinizing Hormone )
Hormon ini berfungsi untuk merangsang sel-sel interstisial ( sel Leydig ) agar mensekresikan hormon testosteron (androgen).
Hormon Testosteron
Hormon ini dihasilkan oleh testis. Hormon ini merangsang  perkembangan organ seks primer pada saat embrio belum lahir, mempengaruhi perkembangan alat reproduksi dan ciri kelamin skunder, misalnya jambang, kumis, jakun, suara membesar serta memelihara ciri-ciri kelamin sekunder dan mendorong spermatogenesis.

Pengaruh Hormon dalam Oogenesis
Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon FSH yang merangsang pertumbuhan sel-sel folikel di sekeliling ovum. Ovum yang matang diselubungi oleh sel-sel folikel yang disebut Folikel de Graaf, Folikel de Graaf menghasilkan hormon estrogen. Hormon estrogen merangsang kelenjar hipofisis untuk mensekresikan hormon LH, hormon LH merangsang terjadinya ovulasi. Selanjutnya folikel yang sudah kosong dirangsang oleh LH untuk menjadi badan kuning atau korpus luteum. Korpus luteum kemudian menghasilkan hormon progresteron yang berfungsi menghambat sekresi FSH dan LH. Kemudian korpus luteum mengecil dan hilang, sehingga akhirnya tidak membentuk progesteron lagi, akibatnya FSH mulai terbentuk kembali, proses oogenesis mulai kembali.
 Berdasarkan uraian diatas , jadi dapat disimpulkan bahwa walupun spermatogenesis dan oogenesis mengalami meiosis, namun berbeda dalam beberapa hal yaitu :
1.      Spermatogenesis terjadi tanpa henti
2.      Oogenesisnya mempunyai periode istirahat yang panjang
3.      Spermatogenesis Mengahasilkan 4 sel sperma fungsional
4.      Oogenesis menghasilkan satu sel telur fungsional dan 3 sel polosit
5.      Sel-sel asal sperma berekmbang terus dan membelah sepanjang hidup laki- laki, sehingga jumlahnya tetap maka akan bertambah
6.      Ovariumnya mengandung semua sel yang akan berkembang menjadi sel telur,   

BAB III
KESIMPULAN
Gametogenesis merupakan proses pembentukan sel-sel gamet di dalam organ pembiakan pria dan wanita. Gametogenesis merangkumi spermatogenesis yang berlaku di dalam testis dan oogenesis yang berlaku di dalam ovari.
Bilangan kromosom dalam sel soma manusia ialah 46, iaitu 2n=46. Ini bermakna bilangan kromosom di dalam setiap sel soma seorang lelaki dan seorang wanita masing-masing ialah 46. Jika sperma dan ovum yang dihasilkan masing-masing mengandungi 46 kromosom, maka zigot yang terbentuk melalui persenyawaan sperma dengan ovum tersebut akan mengandungi 92 kromosom. Ini bukan zigot amnusia. Zigot manusia mempuyai 46 kromosom. Bagaimanankah masalah ini diatasi? Kita bersyukur kepada Tuhan kerana telah mewujudkan gametogenesis yang melibatkan proses meiosis. Ini bermakna sperma dan ovum yang dihasilkan mengandungi 23 kromosom. Dengan demikain, zigot yang terbentuk melalui persenyawaan sperma dengan ovum akan mengandungi 46 kromosom. 

DETEKSI KEBUNTINGAN

 Deteksi kebuntingan terbagi dalam 2 metode utama yaitu
1.       KLINIS, tanpa menggunakan alat bantu
a.       Inspeksi Visual, pemeriksaan kebuntingan yang dilakukan dengan melihat tanda-tanda yang dapat teramati dengan mata. Hewan dinyatakan bunting apabila tidak menujukkan tanda-tanda berahi,  mamae membesar, lendir kering yang mnggantung di ujung vulva, serta abdomen membesar.
b.      Fremitus, desiran A. Uterina media atau ipsilateral dan kontralateral. Bukan merupakan tanda penentu tetapi sangat membantu untuk mengetahui tahapan kebuntingan
 Umur kebuntingan 5 bulan, fremitus mulai terasa.  Desiran tersebut makin kencang dengan bertambahnya umur kebuntingan. Hal ini menunjukkan bahwa fetus berkembang makin baik.

CARA : Telapak tangan diarahkan ke paha belakang bagian dalam kanan maupun kiri

c.       Palpasi rektal, perabaan untuk mendeteksi adanya perubahan pada uterus melalui rektum.





CARA :
1.       Bersihkan rektum dari feses. Dimulai dengan membasahi tangan, secara pelahan dimasukkan melalui anus kemudian feses dikeluarkan sampai tuntas. Tujuannya agar tangan dapat menjangkau uterus.
2.       Kemudian tangan merba bagian di bawahnya sampai tertaraba cincin serviks.
3.       Berdasarkan posisi ini, jari telunjuk menelusuri uterus, pada sapi setelah seviks harus diperoleh septum uteri atau pemisah antara orpus uteri kanan dan kiri.
4.       Pada sapi dara, apabila korpus uteri asimetris kemungkinan bunting. Sedangkan untuk lebih meyakinkan palpasi atau perabaan dilanjutkan sampai ditemukan ovarium. Benjolan yang besar pada ovarium(kanan, kiri atau keduanya) menandakan hewan bunting.




B. LABORATORIUM
1. ULTRASONOGRAPHY. Ada 2 macam yag umum dilakukan pada hewan yaitu transrektal ultrasonografi (hewan besar) dan abdominal ultrasonografi (manusia, anjing, kucing, ruminansia kecil) .   Pemanfaatan transrectal ultrasonography (TUSG) saat bunting diperlukan untuk mengamati perkembangan embrio sejak terbentuknya amnion sampai diketemukanya kotiledon sebagai penanda telah terjadi kebuntingan .



CARA :
  1. Awal sama dengan palpasi rektal.
  2. Dalam mendeteksi kebuntingan, probe dimasukkan melalui rektum berdasarkan orientasi keberadaan uterus yang berada tepat di bawah vesica urinaria (hitam berisi cairan). Kemudian probe digerakkan pelahan sampai di monitor muncul gambaran massa putih  yang menunjukkan uterus. Gambar yang terlihat di monitor dapat memperlihatkan perkembangan embrio yang terjadi di dalam uterus dimulai dari diketemukannya gambaran seperti kabut yang akan terus berubah bentuknya sesuai dengan usia kebuntingan dan jumlah embrio yang ada. Hasil yang terlihat dimonitor direkam dan bisa dicek ulang di laboratorium (Pierson&Ginther 1988).
  3. TUSG dilakukan pada usia kebuntingan H 16-19, 24-27, 32-35 setelah inseminasi buatan (IB) untuk mengevaluasi saat implantasi dan kebuntingan (Strmśnik et al. 2002). Domba dinyatakan bunting apabila sudah ditemukan plasentom atau adanya embrio dalam uterusnya . Pada penelitian ini perkembangan fetus belum jelas pada H16-19 , pada saat usia H 24-27 sekat antar fetus terlihat jelas demikian juga calon fetusnya. Selanjutnya TUSG pada H32-35, plasentom telah terbentuk dan terlihat jelas pada monitor (Karen et al. 2003b).
  4. TUSG merupakan metode pemeriksaan kebuntingan yang umum dilakukan pada ruminansia kecil. Metode ini sangat membantu dalam memprediksi jumlah calon anak yang akan dilahirkan karena dapat terlihat dimonitor serta hasilnya dapat dicetak 
  5.  H-18
     H-18
     H-18





  1. Gambar diatas memperlihatkan perkembangan embrio yang terdeteksi melalui transrectal ultrasonography (TUSG) menggunakan ALOKA, Model SSD-500. Pada usia kebuntingan 18 hari embrio masih terlihat menggantung secara utuh dalam kantung amnion. Perkembangan lebih lanjut, embrio membesar dan hanya satu kantung amnion sedangkan kantung yang lainnya tidak terlihat jelas. Kelemahan dari alat ini tidak dapat memberikan gambaran yang jelas pada saat posisi embrio maupun fetus berada di bagian bawah rongga abdomen.
  1. HORMON. Hormon yang diproduksi pleh induk saat mulai bunting utamanya progesteron dapat juga estradiol,Human Chorionic  Gonadotrophin (HCG), Pregnant Mare Serum Gonadotrophin ( PMSG). Setelah plasentasi terjadi fotus juga akan memproduksi progesteron, estradiol,  interferon, pregnancy associated glycprotein (PAG), early pregnancy factor (EPF) atau Protein-B.  Sampel yang dapat berupa darah, urine maupun feses. Metode yang umum dilakukan adalah ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay), RIA (Radio Immuno Assay), Protein Assay 

PROSES KEBUNTINGAN PADA RUMINANSIA

Proses Terjadinya Fertilisasi
Fertilisasi merupakan bersatunya antara sel spermatozoa dengan sel telur atau proses meleburnya pronukleus jantan dan pronukleus betina (karyogami). Fertilisasi terjadi di ampula –isthmus junction. Fertilisasi terjadi hanya sekali, dan bertahap. Fertilisasi pada hewan ada dua macam :
- Fertilisasi Internal, fertilisasi ini terjadi di oviduk (ampula-istmus junction). Penetrasi speram pada fertilisasi ini adalah sperma mengalami reaksi akrosom untuk dapat menembus zona pelusida dan membrane plasma. Proses dari fertilisasi internal adalah sebagai berikut. Saat terjadi ovulasi, Pada sebagian spesies ovum ada yang mempunyai cumulus ooforus ada yang tidak,  yang mempunyai cumulus ooforus adalah babi. Sperma mempunyai enzim hialuronidase yang berfungsi untuk melarutkan asam hialuronat yang terdapat pada sel-sel granulose pada cumulus ooforus.
Setelah itu sperma ke zona pelusida, ovum di zona pelusida mengeluarkan zat fertilizing, yang apabila berkontak dengan sperma akan menghasilkan aglutinasi, sehingga jika sperma menerobos zona pelusida terdapat lorong bekas jalur tersebut.
Sperma yang berhasil menerobos zona pelusida disebut suplementer, setelah itu untuk menghalangi sperma lainnya, zona pelusida mengeluarkan suatu zat, supaya sperma lainnya tidak masuk.
Setelah itu sperma akan menembus membrane vitelinum,  Sperma yang berhasil menembus zona vitelinum disebut supernumeraria. Sperma masuk kedalam membrane ini mempunyai dua cara, yaitu secara fusi dan fagositosit. Pada saat masuk, ekor ditanggalkan. Setelah kepala spermatozoa menyentuh membrane vitelin , terjadilah aktifitas ovum. Membran vitellin memperlihatkan reaksi terhadap sentuhan kepala spermatozoa. Ditempat sentuhan terjadi tonjolan kecil dari membrane vitellin dan kemudian terbuka.Dalam keadaan tersebut kepala spermatozoa menyusup masuk kedalam sitoplasma sel ovum . Seluruh tubuh spermatozoa termasuk kepala, ekor, masuk kedalam sitoplasma sel telur, sedang membrane plasma yang menjadi pembungkus sperma, lebur menjadi satu dengan membrane vitelin. Setelah tubuh spermatozoa masuk masuk kedalam sitoplasma, terjadilah pengkerutan protein dan pembelahan inti sel ovum yang terakhir. Hasil pengkerutan adalah dilkeluarkannya cairan ke dalam ruang antara membrane vittelin dengan zona pellucida, dan pembelahan inti sel ovum menghasilkan polar bodi yang juga dikeluarkan ke dalam ruangan tersebut. Selanjutnya kepala spermatozoa terputus dengan bagian lainnya, dan perlahan-lahan menggembung. Setelah menyingkarkan badan polar pertama, terjadi pembentukan pronukleus jantan dan betina. Setelah itu mitokondria ovum mendekati kedua pronukleus. Pertumbuhan pronuklei jantan lebih besar dari pronuklei betina. Setelah itu terjadi penggabungan antara pronukleus jantan dan betina.
- Fertilisasi External, fertilisasi ini terjadi secara alami di air atau in vitro (contoh pada ikan dan amphibi). Pada fertilisasi ekternal ini penetrasi sperma juga mengalami reaksi akrosom untuk menembus jelly coat, membrane viteline, dan membrane plasma

Tahapan dari fertilisasi ekternal yang dicontohkan pada bulu babi adalah sebagai berikut
1.      Sperma mendekati kontak dengan jelly coat sel telur
2.      Enzim hidrolisis dilepaskan dari vesikula akrosom
3.      Enzim hidrolitik melarutkan jelly coat sehingga sperma dapat masuk
4.      Aktin akan memanjang dan memulai membentuk tudung akrosom
5.      Tudung akrosom berikatan dengan reseptor pada sperma
6.      Ikatan tersebut membuat atau menyebabkan membaran viteline pecah
7.      Membran sperma dan membrane sel telur berfusi, selain menuju langkah berikutnya, setelah tahapan ini juga membuat inti sel sperma masuk ke sitoplasma dan selanjutnya langsung ke tahapan terakhir yaitu inti sel telur dan inti sel sperma berfusi
8.      Terjadi depolarisasi membrane menginaktifkan reseptor sperma,
9.      sehingga meningkatnya Ca++
10.  Granula korteks berfusi dengan membrane plasma dan mengosongkan isinya kedalam rongga perivitelin, dan membrane viteline menjadi membrane fertilisasi, selain itu juga terjadi aktivasi sel telur.
11.  Inti sel telur dan Inti sel sperma berfusi.
Langkag ke 4-8 merupakan reaksi akrosom sedangkan ke 9-11 merupakan rekasi korteks
Setelah bersatu antara sperma dan ovum maka telah terbentuknya zigot. Zigot merupakan sel diploid (2n) dengan jumlah kromosom 23 pasang. Sambil zigot bergerak kearah uterus, zigot membelah secara mitosis berkali-kali. Zigot akan membelah diri menjadi dua, empat, delapan, enambelas, dan seterusnya, Pada saat embrio mencpai 32 sel disebut morula.
Morula ini nanti akan berkembang menjadi blastula. Pada blastula, sel-sel bagian dalam akan membentuk bakal janin atau embrioblas, sedangkan bagian luarnya membentuk trofoblas. Trofoblas ini merupakan dinding yang berfungsi untuk menyerap makanan dan yang pada nantinya akan membentuk plasenta. Selanjutnya blastula bergerak menuju ke uterus, pada dan selama proses ini korpus luteum menghasilakn hormone progesterone. Hormon ini berfungsi untuk implantasi atau perlekatan embrio dengan merangsang pertumbuhan endometrium. Blastula setelah melakukan implantasi juga akan melepaskan hormone korionik gonadotropin, hormone ini akan melindungi kebuntingan dengan cara menstimulasi hormone estrogen dan progesterone sehingga menstruasi pada primate tidak dapat terjadi.
Proses selanjutnya adalah membentuk gastrula atau disebut gastrulasi, yaitu proses proses dimana bagian embrioblas membentuk dua lapisan, yaitu lapisan luar atau ektodermis dan lapisan dalam atau endodermis. Dan pada bagian permukaan dari lapisan ektodermis melakukan invaginasai kedalam membentuk lapisan mesodermis.
Pada tingkat tubulasi Daerah-daerah bakal pembentuk alat atau ketiga lapis benih : ectoderm, mesoderm dan endoderm, menyususun diri sehingga berupa bumbung , berongga. Tubulasi terjadi mulai daerah kepala sampai ekor. Kecuali mesoderm hanya berlangsung di daerah truncus embryo.

Tahapan Organogenesis
Organogenesis merupakan proses dari pembentukan organ-organ tubuh. Organogenesis meliputi  Proses ini terjadi setelah fase tubulasi pada embryogenesis
1.      Lapisan Ektoderm
1.      Ektoderm Umum : Epidermis kulit, derivat kulit ( kelenjar-kelenjar : Ambing, keringat, lemak, gig, tanduk, dan kuku), lensa mata (alat telinga dalam, indera bau dan rasa), stomadeum (ruang mulut), proktodaeum (bagian anus)
2.      Ektoderm saraf : akan berdiferensiasi menjadi otak  (sistem saraf), otak, sumsum punggung dan saraf tepi, perbesaran indera (mata, hidung, raba).
3.      Rigi Saraf : khromatofor kulit (pigmen dan melanin).
4.      Lapisan Mesoderm
1.      Epimer (mesoderm dorsal), akan megalami segmentasi menurut arah memanjang tubuh embrio, potongan epimer tersusun menurut letak dari anterior ke posterior dan terbentuk somit. Somit akan membentuk dermatom, myotom dan skeretom
2.      Mesomer (mesoderm intermediet), sistem urogenital, ginjal dan alat kelamin.
3.      Hypomer
1.      Somatis (luar), pericardium, pleura, peritoneum, dermis
2.      Visceral (dalam), epimiokardium, mesokardium dan akan membentuk cor
5.      Lapisan Endoderm
1.      Foregut : usus depan
2.      Midgut : usus tengah
3.      Hindgut ; usus belakang
Selain itu juga akan mengeluarkan kelenjar pencernaan saluran pencernaan, sistem pernapasan (epitel paru-paru).

Tanda-tanda dan Faktor yang mempengaruhi Kebuntingan
Pada kambing tanda-tanda dari kebuntingan adalah sebagai berikut
-          Tidak terlihat tanda-tanda berahi pada siklus berahi berikutnya
-          Perut sebelah kanan tampak membesar
-          Ambing tampak menurun
-          Ternak tampak tenang

Faktor-faktor
-   Temperatur
   
Temperatur yag terlampau tinggi , terutama perubahan udara yang sangat mendadak dapat mengakibatkan tidak subur/mandul. Dimana produksi sel telur induk betina tidak normal pada masa tidak subur dan dapat mengakibatkan hewan menjadi keriput dan nafsu makan turun. Demikian juga pejantan , produksi sel jantannya juga tidak normal. Hal ini dapat disiasati bagi peternak yang daerah suhunya di atas kenormalan dapat membaut kandang untuk peternakan dibawah pohon yang rindang, sehingga suhu sekitar kandang akan turun dan hewan menjadi nyaman.
-   Umur
     Kegagalan bunting dapat disebabkan perkawinan pada usia muda. Umumnya perkawinan tersebut tidak sesuai dengan umur dan berat badan yang sesuai jika hewan akan dikawinkan.
-    Kondisi Penyakit
     Mengawinkan hewan dalam kondisi sakit , akan mengakibatkan kegagalan bunting. Karena hewan yang sakit, nafsu makan turun dan pertumbuhan biologisnya tidak normal dan hewan menjadi kurus. Hal ini mengakibatkan alat reproduksi tidak maksimal dan saat kawin akan menimbulkan kegagalan bunting.

Mekanisme Partus
Mekanisme terjadinya kelahiran secara singkat dapat dimulai dari saat hipotalamus fetus menghasilkan CRH, CRH akan mempengaruhi hipofisis anterior untuk mensekrsikan ACTRH (pelepas hormone ACTH). Sekersi ACTH fetus melonjak. ACTH memepengaruhi cortex adrenal fetus untuk meningkatnya sekresi kortisol, kortisol melewati plasenta dan meningkatkan peningkatkan estrogen, estrogen akan mempengaruhi uterus untuk mensekresikan PGF­2α, PGF­2α akan meregresi korpus luteum sehingga produksi progesterone akan menjadi turun.
PGF­2α, estrogen menyebabkan kontraksi miometrium, ketika fetus sampai ke cervik, maka fetus akan merangsang servik melalui kontraksinya dengan mensekresikan oksitosin. Oksitosin ini akan menambah kuat kontraksi dari miometrium untuk mengeluarkan fetus.
Pada proses dilatasi servik, faktor yang berpengaruh pertama adalah hormone relaxin dan estrogen. Hormon ini mempengaruhi proses dilatasi servik yang pertama, selanjutnya adalah proses pengeluaran amnion dan chorion. Proses ketiga adalah dikelurkannya fetus, pada tahap ini biasanya amnion akan pecah.
Kontraksi untuk dikeluarkannya fetus akan bertambah kuat dengan terjadinya anoxia pada fetus. Akibat terjadi kontraksi, maka aliran darah akan berkurang, sehingga suplai oksigenpun akan berkurang juga. Kontraksi abdomen juga akan menambah kekuatan dari kontraksi untuk dikeluarkannya fetus.  Setelah fetus keluar, kontraksi menjadi berkurang dan melemah, tetapi kontraksi tetap berjalan 1-2 hari, dan kontraksi ini akan menjadi proses dikeluarkannya plasenta dan lain sebagainya yang msih tertinggal di uterus.
Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-1 (30 hari), janin masih berukuran sebesar jari tangan kelingking. Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-2 (60 hari), janin berukuran sebesar ibu jari kaki seperti tampak pada gambar di bawah ini.

Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-3 (90 hari), ukuran janin sudah sebesar kaki bayi atau kepalan tangan orang dewasa, posisi janin sudah semakin maju ke arah perut bagian tengah dan detak jantung janin sudah dapat didengar dengan menggunakan stetoskop. Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-4 (120 hari), janin terus membesar dan bisa dirasakan dengan perabaan pada bagian depan bawah perut, tepat pada akhir tulang rusuk. Pada usia kehamilan kambing memasuki bulan ke-5 (120 – 150 hari), janin terus bergerak ke belakang perut dan mendekati saluran kelahiran.
Ketika 1 minggu menjelang kelahiran, ambing induk akan cepat membesar dan kelihatan merah pada putingnya. Ini menandakan pembentukan air susu sudah sempurna untuk mempersiapkan kelahiran anak. Disamping itu terdapat pula tanda-tanda lainnya untuk mengetahui induk kambing yang akan melahirkan: Pinggul mengendur, ambing sangat besar dan puting susu merah. Alat kelamin membengkak, berwarna kemerah-merahan dan lembap. Gelisah, menggaruk-garuk lantai kandang dan mengembik. Nafsu makan turun. Segera siapkan rumput atau jerami kering sebagai alas untuk melahirkan kambing. 

TAHAPAN KELAHIRAN PADA SAPI

Ada 3 tahapan yaitu :
1.       Persiapan
2.       Pengeluaran foetus dan plasenta yang terdiri dari :
a.       Kontraksi awal
b.      Kontraksi kuat untuk mengeluarkan foetus
c.       Kontraksi kedua untuk mengeluarkan plasenta
3.       Setelah melahirkan

1.       TAHAP PERSIAPAN
A.      Kelahiran normal, merupakan tahap yang lebih paanjang periodenya dibanding tahapan kontraksi. Pada tahap ini, hewan diberi makanan terutama makanan yang bnayak menghasilkan energi yang dibutuhkan saat kontraksi
B.      Tahap persiapan ini memerlukan waktu beberapa jam bahkan beberapa hari dibanding kontraksi yang umumnya terjadi dalam beberapa menit saja
2.       TAHAP KONTRAKSI, Intensitas kontraksi myometrium yang sangat tinggi sampai selaput atau plasenta foetalis allantois keluar dari vulva. Hewan menjadi sangat gelisah. Pengluaran foetus terjadi sangat cepat sedangkan pengeluaran plasenta terjadi secara pelahan tergantung pada mekanisme kontraksi kedua.





3.       SETELAH MELAHIRKAN, terjadi regenerasi endometrium  :
Setelah plasenta keluar, kripta uteri memendek serta terjadipenyempitan pembuluh darah uterus
               

                Pada tahapan ini terjadi 2 hal yang utama :
1.       INVOLUSI UTERUS (sekitar 2 siklus berahi), merupakan periode untuk mengecilkan ukuran uterus menjadi ukuran yang normal. Terdiri dari :
a.       Regenerasi epitel endometrium
b.      Myometrium mengecil
c.       Pembuluh darah uterus mengecil
2.       Estrus setelah melahirkan, ditandai dengan terjadinya regresi korpus gravididatum secara cepat. Akan tetapi periode ini dapat memanjang pada mamalia apabila terjadi kelahiran abnormal  atau distokia. Kelainan ini disebut retentio secundinae atau plasenta yang tertahan yang terjadi karena kontaksi kedua yang lemah atau tidak terjadi kontraksi sehingga kotiledon plasenta tidak dapat lepas dari karunkula.