Showing posts with label pakan. Show all posts
Showing posts with label pakan. Show all posts

Tuesday, May 17, 2016

Evaluasi Pakan

Ada 3 macam evaluasi dalam pakan
1.      Fisik
Pengujian kualitas pakan berdasarkan indera kita, rasa, bau, tekstur yang meliputi warna, kecermelangan, kekerasan, bau dan rasa.
2.      Kimiawi
Evaluasi mutu pakan dengan cara dianalisis, tujuannya untuk mengetahui kandungan suatu bahan pakan secara kuantitatif. Evaluasi pakan dilakukan dengan analisis proksimat dan van soest.
3.      Biologi

Evaluasi mutu pakan dengan menggunakan ternak, tujuannya untuk mengetahui kualitas nutrisi suatu bahan pakan dengan teknik in vitro dan in vivo.

Klasifikasi Kelas Pakan Secara Internasional

Secara Internasional, bahan pakan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.Hijauan Kering dan Jerami.
Hijauan kering adalah rumput dan daun-daunan leguminosa yang sengaja dikeringkan agar dapat disimpan dalam waktu yang lama dan digunakan sebagai cadangan bahan pakan ternak pada musim kekurangan pakan. Kelas hijauan kering dan jerami mengikutsertakan semua hijauan dan jerami yang dipotong dan dirawat, dan produk lain dengan lebih dari 10 % serat kasar dan mengandung lebih dari 35 % dinding sel. Beberapa bahan pakan yang termasuk hijauan kering dan jerami adalah jerami amoniasi, jerami kacang tanah, klobot jagung dan kulit nanas.

2.Pastura dan Hijauan Segar.
Pastura dan hijauan segar merupakan bahan pakan dalam bentuk daun-daunan, dan kadang masih bercampur dengan ranting dan bunganya. Kadar airnya berkisar antara 70-80 % dan sisanya adalah bahan kering dan sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan ternak. Daun nangka termasuk hijauan segar. Daun nangka baik untuk pakan ternak karena banyak kandunngan zat yanng bermanfaat bagi ternak.Gamal adalah tanaman yang berasal dari Amerika Latin. Daun gamal dapat digunakan sebagai pakan ternak, tanaman peneduh dan pembasmi alang-balang. menyatakan bahwa pohon gamal merupakan tumbuh-tumbuhan yang berukuran sedang atau berbentuk pohon kecil, batangnya bercabang-cabang dan tumbuh ranting serta daun. Tinggi pohon gamal dapat mencapai 25 m dan dapat dikembangkan dengan stek atau biji. Ternak kambing dan domba umumnya menyukai gamal, tetapi pada musim kemarau hampir semua ternak herbivora menyukainya. Beberapa spesies gamal yang terkenal adalah Glirigedea maculata. Tetapi semua spesies memiliki bau yang khas dan daun gamal memiliki rasa pahit bila dimakan, daun gamal tidak selalu diberikan dalam bentuk segar tetapi juga dapat dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak. Pohon turi banyak ditemukan di pulau Jawa. Pohon ini ada dua macam yaitu yang berbunga putih dan yang berbunga merah. Susunan zat-zat makanan daun turi yang berbunga putih adalah 40,62 % protein, 5,66 % lemak, 33,38 % BETN, 10,67 % serat kasar dan 11,20 % abu. Tetapi, kedua macam daun turi tersebut memiliki bau khas yang sama yaitu khas daun turi, keduanya juga memiliki bentuk daun yang hampir sama yaitu helaian serta agak kaku dan memiliki ras pahit apabila dimakan. Daun turi juga digunakan oleh manusia sebagai salah satu bahan pangan hijauan yang memiliki nilai gizi tinggi.
3. Silase.
Silase merupakan hijauan segar yang disimpan dalam silo dengan tujuan diberikan kepada ternak pada waktu sulit didapatkan atau pada musim paceklik. Kelas ini menyebutkan hijauan. Kelas ini menyebutkan silase hijauan (jagung, alfafa, rumput dan sebagainya). Tetapi tidak silase ikan, biji-bijian dan umbi-umbian. Tujuan pembuatan silase antara lain sebagai bahan pakan pada musim paceklik, untuk menampung dan memanfaatkan kelebihan produk hijauan dan mendayagunakan sisa hasil pertanian dan hasil ikutan pertanian. Silase memiliki bentuk kasar, warna hijau dan agak asam karena proses fermentatif. Silase hijauan pakan merupakan bahan pakan yang berasal dari hijauan yang telah mengalami proses fermentasi di dalam silo anaerob, dan mengandung bahan kering 30-35 %. Silase hijauan pakan memiliki warna hijau tetapi seperti aslinya dan bentuk tidak berubah. Silase hijauan pakan memiliki bentuk kasar dan berbau wangi asam. Hal ini disebabkan karena pengaruh bahan yang digunakan untuk memfermentasi hijauan ini.
4.Sumber Energi
Bahan makanan sumber energi pada umumnya merupakan bahan pakan yang mempunyai kadar protein sekitar 12 % dimana 75-80 % dapat dicerna. Penyusun utama bahan makanan sumber energi adalah karbohidrat, yang masih utuh berupa biji biasanya ¾ bagian merupakan pati yang daya cernanya sekitar 95 % serta mempunyai kadar serat kasar yang bervariasi yang dapat mempengaruhi daya cerna. Termasuk kelompok ini adalah bahan-bahan dengan serat kasar kurang dari 18 % atau dinding sel kurang dari 35 %.
Nasi aking merupakan bahan pakan sumber energi. Penyusun utamanya adalah karbohidrat. Selain itu, nasi aking juga mengandung protein yang baik untuk tubuh ternak. Nasi aking biasanya digunakan sebagai pakan ternak unggas terutama bebek atau itik.
5. Sumber Protein
Bahan pakan sumber protein terdiri dari dua sumber yaitu protein yang berasal dari sumber hewani dan yang berasal dari sumber nabati. Sumber protein nabati terutama dari jenis kacang-kacangan dan dari jenis leguminosa. Sumber protein hewani diantaranya adalah BR 1, BR 5 dan pellet. Ampas kecap termasuk sumber protein nabati karena bahan bakunya adalah biji kedelai. Ampas kecap mengandung protein 24,9 %, 24,3 % lemak, 0,39 % kalsium dan 0,33 fosfor. Ampas kecap bisa diberikan secara langsung (tanpa diproses lagi) sebagai pakan ternak dengan jumlah 20 % dari ransum.
Makanan ini bentuknya seperti butiran. Bentuk makan ini pun memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah merangsang selera makan, sebab ayam tertarik kepada makanan yang berbentuk butiran. Sedangkan tiap pellet memiliki kandungan gizi yang sama. Makanan pelet tak mudah melekat pada tempat makan dan paruh, sehingga tak ada makanan yang tercecer. Selain itu, ayam juga tidak memilih-milih makanan. Kekurangannya yaitu harganya relatif mahal. Kemungkinan terjadi kerusakan beberapa zat makanan tertentu sewaktu terjadi proses pembuatan. Ayam juga akan lebih banyak minum.
6.Sumber Mineral
Mineral merupakan komponen dari pesenyawaan organik jaringan tubuh dan persenyawaan kimiawi lainnya yang berperan dalam proses metabolisme. Kebutuhannya sangat sedikit tetapi sangat vital, teutama pada proses tumbuh dan bereproduksi penyusunnya yaitu kalsium dan fosfor. Apabila ternak kekurangan bahan pakan yang mengandung mineral maka dapat menyebabkan pertumbuhannya lambat. Salah satu sumber kalsium dan fosfor yang sering digunakan di Indonesia pada tahun 1960-1970 adalah tepung kerang yang sampai saat ini masih digunakan oleh penyusun ransum. Tepung kerang digunakan sebagai sumber kalsium yang penting untuk unggas pedaging dan unggas yang sedang bertelur dengan kadar kalsium yang cukup besar yaitu 38 % dan kandungan nutrien lainnya yaitu 1,2 % BETN, 46,7 % PK, dan 86 % BK. Kulit kerang diperlukan lebih banyak dalam ransum untuk ayam petelur yang bereproduksi tinggi sehingga dapat menahan telur dalam saluran telur dalam waktu yang relatif singkat. Tepung kulit kerang memiliki warna hitam keabuan, berbau amis karena termasuk dalam hewan laut dan memiliki rasa asin.
7. Sumber Vitamin
Vitamin adalah senyawa organik, biasanya tidak disintesis oleh jaringan tubuh dan diperlukan dalam jumlah sedikit. Vitamin ini digunakan sebagai koenzim atau regulator metabolisme. Vitamin digolongkan menjadi dua yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Vitamin A, D, E, K adalah vitamin yang larut dalam lemak. Sedangkan vitamin yang larut dalam air adalah tiamin, ribofialin, asam nukleat, folasin, boitin dan asam pentotenat. Sedangkan vitamin C tidak dapat disintesis oleh tubuh jadi sangat diperlukan dalam ransum. Vitachick merupakan preparat sintesis yang mengandung vitamin C yang berbentuk serbuk atau tepung dan berwarna kuning keorangean. Vitachick terdapat komposisi vitamin dan zat-zat tambahan lain yang diperlukan oleh ternak khususnya unggas. Proses metabolisme vitachick dibutuhkan tetapi dalam ransum zat ini tidak digunakan pada kebanyakan hewan ternak. Vitachick memiliki bau yang khas obat karena berasal dari bahan-bahan kimia sehingga memiliki rasa pahit bila dimakan. Meskipun pahit, tetapi vitachick dibutuhkan oleh ternak untuk pertumbuhan dari perkembangan ternak dan diberikan sesuai dengan dosis.
8. Zat Aditif
Berdasarkan komposisinya, aditif pakan (fedd suplement) dibagi menjadi tiga, yaitu feed suplement yang mengandung multivitamin dan mineral, feed suplement yang mengandung komposisi multivitamin dan antibiotik, dan feed suplement yang mengandung komposisi multivitamin, mineral, dan antibiotik. Aditif pakan meliputi bahan pewarna, antibiotik, hormon pengharum, obat-obatan dan air.

Definisi dari Nutrisi, Diet, Feed, Ration, Feedstuff, dan Nutrien


Nutrisi
Langkah-langkah yang saling terkait dimana organisme hidup asimilasi makanan dan menggunakannya untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan dan penggantian, atau elaborasi dari produk. Ini mencakup semua bentuk kehidupan, termasuk tanaman dan hewan.
Hal ini membutuhkan penerapan kimia, fisika, dan matematika serta integrasi kemajuan di tanah, ilmu tanaman, hewan ilmu pengetahuan, biokimia, rekayasa, sistem produksi, dan lainnya disiplin.
Nutrisi adalah substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan. Nutrisi didapatkan dari makanan dan cairan yang selanjutnya diasimilasi oleh tubuh.

Diet
Campuran bahan pakan homogen yang digunakan untuk mensuplai nutrisi bagi hewan.
Feed
Suatu bahan pakan atau campuran bahan pakan yang dikonsumsi oleh ternak serta mengandung nutrien yang dibutuhkan oleh ternak. Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi pertumbuhan dan kehidupan ternak. Zat yang terpenting dalam pakan adalah protein. Pakan berkualitas adalah pakan yang kandungan protein, lemak, karbohidrat, mineral dan vitaminnya seimbang.
Ration
Bagian pakan atau komponen yang sudah ditentukan ukurannya untuk setiap ternak secara rutin disuplay dari makanan dalam jangkan 24 jam.
Feedstuff
Satu atau beberapa macam bahan baik diolah, setengah jadi atau bahan baku, yang bertujuan untuk dibuat menjadi pakan atau diberikan langsung kepada hewan penghasil pangan.
Nutrien
Semua elemen kimiawi dalam makanan yang mendukung reproduksi normal, pertumbuhan, laktasi, dan mantenance dari proses kehidupan.

Wednesday, October 26, 2011

CARA MANIPULASI PAKAN PADA UNGGAS

PENGARUH PENURUNAN KADAR PROTEIN RANSUM DAN SUPLEMENTASI PROBIOTIK CAIR DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP PERFORMAN AYAM BROILER JANTAN
1.      Model dan Pola
Bahan makanan nabati banyak diberikan kepada unggas terutama dalam bentuk biji-bijian, salah satunya adalah jagung kuning. Kandungan  protein jagung adalah 8,9 persen. Jagung kuning merupakan bahan yang baik sebagai sumber xanthophyl, sumber provitamin A, sumber asam lemak dan terutama merupakan sumber energi (Rasyaf, 1990). Penggunaan jagung kuning pada  penelitian ini adalah untuk menurunkan kadar protein kasar ransum. Menurut North (1984) ayam broiler yang diberi ransum dengan kadar protein rendah akan menghasilkan bobot badan yang lebih ringan. Kondisi ini dapat diatasi dengan suplementasi probiotik cair.  
Probiotik adalah mikrobia hidup apatogen yang berasal dari mikrobia menguntungkan. Mekanisme kerja probiotik adalah mendesak mikrobia tidak menguntungkan keluar dari ekosistem saluran pencernaan dan menggantikan lokasi mikrobia patogen atau mengadakan translokasi di dalam saluran pencernaan secara alamiah. Mekanisme probiotik dalam saluran pencernaan adalah mempertahankan keseimbangan, mengeliminasi mikrobia yang tidak diharapkan atau bakteri patogen dari induk semangnya (Soeharsono, 1999).
Menurut Fuller (1989) yang disitasi oleh Ramia (2000) probiotik merupakan pakan tambahan dalam bentuk mikroba hidup yang dapat memberikan pengaruh menguntungkan bagi ternak inang dengan meningkatkan keseimbangan populasi mikroba dalam saluran pencernaan ternak.  Menurut Barrow (1992) yang disitasi oleh Bidura dan Suastina (2002) pemanfaatan probiotik  merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menekan harga ransum tanpa berpengaruh buruk terhadap produktivitas ayam yaitu dengan cara memanipulasi  proses fermentasi dalam saluran pencernaan ayam. Menurut Hary dan Adikara (1996) yang disitasi oleh Aryogi et al., (1999) mikrobia probiotik mampu menguraikan senyawa organik komplek dalam suatu bahan pakan menjadi senyawa organik sederhana yang lebih mudah diserap oleh alat-alat pencernaan ternak.
Pengaruh penggunaan probiotik menjadi lebih nyata apabila  kandungan protein lebih rendah dua persen dengan peningkatan produksi sebesar 10,3 persen (Suharto, 1995).
Ransum kontrol yang diberikan pada penelitian ini berupa ransum komersial Comfeed buatan PT. Japfa Comfeed sedangkan ransum untuk  masing-masing perlakuan berupa ransum komersial Comfeed yang dicampur dengan jagung kuning untuk menurunkan kadar protein kasar ransum yaitu sebanyak setengah persen dari total ransum sampai penurunan kadar protein ransum sebesar 2 persen.
Penelitian ini  menggunakan dua macam dosis perlakuan probiotik cair yaitu 1 ml/liter air minum (0,1%) dan 2 ml/liter air minum (0,2%) yang diberikan melalui air minum dan 0 % probiotik cair sebagai kontrol. Probiotik cair yang digunakan merupakan produksi HANEDA BIOTECH IND.
      Faktor dosis probiotik cair (D)terdiri atas :
                        D0 = probiotik cair 0 persen
                        D1 = probiotik cair dosis 1 ml/liter air minum (0,1 persen)
                        D2 = probiotik cair dosis 2 ml/liter air minum (0,2 persen).
            Faktor penurunan kadar protein kasar ransum (P) terdiri atas :
P0
=
kadar protein kasar ransum komersial
P1
=
kadar protein kasar ransum komersial diturunkan 0,5 persen dengan  penambahan jagung kuning
P2
=
kadar protein kasar ransum komersial diturunkan 1 persen dengan  penambahan jagung kuning
P3
=
kadar protein kasar ransum komersial diturunkan 1,5 persen dengan penambahan jagung kuning
P4
=
kadar protein kasar ransum komersial diturunkan 2 persen dengan penambahan jagung kuning
 Masing-masing perlakuan diulang 3 kali dan masing-masing ulangan terdiri atas 5 ekor ayam broiler jantan.

2.      Kandungan Nutrien
Tabel 2. Kandungan nutrien bahan pakan untuk ransum
(Table 2. Nutrient content  of feedstuff  for ration)



Nutrien            Jagung kuning1)      Ransum komersial            Ransumkomersial
                                                                    fase starter2)            fase finisher2)
ME (Kkal/kg)                  3321,003)                 3000,002)                  3100,002)
(ME,Kkal/kg)
Protein kasar (%)                   8,051)                     20,761)                      20,351)
(Crude protein,%)
Lemak kasar (%)                   5,331)                       7,921)                       7,321) 
(Crude fat,%)
Serat kasar (%)                        6,081)                     1,341)                       2,021)
(Crude fiber,%)
Kalsium (%)                          0,023)                       1,002)                       1,002)
(Calsium,%)
Fosfor (%)                             0,073)                       0,802)                       0,802)
(Phospor,%)

Sumber : 1) Analisa Laboratorium Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
             2) Label Ransum Komersial Japfa Comfeed Indonesia
             3) Hartadi et al., (1990)
Source : 1) The analysis result of Livestock Laboratory Faculty of Agriculture, Sebelas Maret University
              2) The label of commercial ration of  Japfa Comfeed Indonesia
             3) Hartadi et al,( 1990)
3.      Pengaruh Perlakuan Terhadap Pertambahan Bobot Badan
Rerata pertambahan bobot badan ayam broiler jantan yang mendapat dan perlakuan penurunan kadar protein kasar ransum dan perlakuan probiotik cair dengan dosis yang berbeda tercantum dalam Tabel , serta digambarkan dengan diagram batang yang disajikan pada Gambar 3 dan Gambar 4.
Tabel . Rerata pertambahan bobot badan ayam broiler jantan sampai umur enam minggu (gram/ekor/hr)
(Table . Average of body weight gain of male broiler until six weeks  old, gram/bird/day)



Dosis Probiotik

Kadar Protein Kasar Ransum

P0
P1
P2
P3
P4
Rerata
0%    (D0)
68,96
67,02
69,03
61,99
66,49
66,70ns
0.1% (D1)
69,59
71,09
63,58
67,17
64,59
67,20ns
0.2% (D2)
67,05
67,99
59,27
66,28
68,74
65,87ns

Rerata
68,53ns
68,70ns
63,96ns
65,15ns
66,61ns


Keterangan : ns berbeda tidak nyata )
(Explanation: nsnot significant)
Tabel 7 memperlihatkan bahwa rerata pertambahan bobot badan ayam broiler jantan yang mendapat perlakuan dosis probiotik cair D0; D1 dan D2 masing-masing 66,70; 67,20 dan 65,87 gram/ekor/hari, sedangkan pada perlakuan kadar protein kasar ransum P0; P1; P2; P3 dan P4 masing-masing adalah 68,53; 68,70; 63,96; 65,15 dan 66,61 gram/ekor/hari. 
Hasil analisis variansi (Lampiran 2) menunjukkan bahwa penurunan kadar protein kasar ransum tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan ayam broiler jantan sampai umur enam minggu. Pengaruh perlakuan yang berbeda tidak nyata terhadap pertambahan bobot badan ayam broiler jantan ini disebabkan oleh jumlah konsumsi ransum yang juga berbeda tidak nyata. Hal ini sesuai pendapat Mirnawati dan Gita (1999) bahwa jumlah konsumsi ransum akan menentukan pertambahan bobot badan.
Hasil analisis variansi (Lampiran 2) menunjukkan bahwa suplementasi  probiotik cair dengan dosis yang berbeda tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan ayam broiler jantan sampai umur enam minggu. Kadar protein kasar ransum perlakuan (P1; P2; P3; P4) lebih rendah daripada ransum kontrol (P0) tetapi menghasilkan pertambahan bobot badan ayam broiler jantan yang secara statistik sama. Hal ini dipengaruhi oleh adanya suplementasi probiotik cair. Dengan adanya enzim yang dihasilkan oleh mikrobia probiotik cair maka akan membantu mempengaruhi kecepatan cerna sehingga penyerapan zat makanan lebih sempurna dan efektif yang pada akhirnya mempercepat pertambahan bobot badan ayam broiler jantan. Hal ini sejalan dengan pendapat Hary dan Adikara (1996) yang disitasi oleh Aryogi et al., (1999) bahwa probiotik mampu menguraikan senyawa organik komplek dalam suatu bahan pakan menjadi senyawa organik sederhana yang lebih mudah diserap oleh alat-alat pencernaan ternak.
 Interaksi antara penurunan kadar protein ransum dan suplementasi probiotik cair dengan dosis yang berbeda tidak berpengaruh terhadap terhadap pertambahan bobot badan

Gambar 3. Rerata pertambahan bobot badan ayam broiler jantan sampai umur enam minggu dengan perlakuan kadar protein ransum
(Figure 3. Average of male broiler body weight gain until six weeks old using ration protein level treatment)

4.      Polusi Lingkungan
            Pamanfaatan zat probiotik dalam ransum sangat diperlukan untuk
meningkatkan efisiensi penggunaan pakan di samping itu mengantisipasi terhadap
pencemaran lingkungan oleh bau kotoran dan dapat mengurangi pencemaran pada
lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Kartika Wardani Wahyuningtyas. 2004. Pengaruh Penurunan Kadar Protein Ransum dan Suplementasi Probiotik Cair dengan Dosis yang Berbeda Terhadap Performan Ayam Broiler. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

CARA MANIPULASI PAKAN PADA BABI

1.                            PENGARUH TARAF PEMBERIAN TEPUNG DAUN BANGUN BANGUN (Coleus amboinicus Lour) DALAM RANSUM INDUK BABI MENYUSUI

M             Model dan Pola
Usaha memanipulasi pakan untuk dapat meningkatkan produksi ternak adalah hal yang sering kita temukan. Pemberian daun bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) di dalam ransum dipercaya mampu meningkatkan produksi air susu pada induk yang sedang laktasi. Peningkatan produksi air susu ini akan meningkatkan bobot badan  anak  yang  sedang  menyusu.  Peningkatan  bobot  badan  anak  pada  masa menyusu ini akan meningkatkan pendapatan usaha peternakan, khususnya usaha peternakan babi.
Ransum yang diberikan pada ternak babi selama penelitian adalah ransum kering dan campuran dari dedak, jagung giling dan tepung daun bangun-bangun dengan  berbagai  taraf.  Selama  penelitian  berlangsung  peternak  beberapa  kali menggunakan  pakan  basah  berupa  ampas  tahu kepada  semua  kelas  ternaknya. Penggunaan ampas ini terpaksa dilakukan peternak karena kondisi pasar peternakan babi tidak menentu akibat isu flu babi dimana harga pakan sangat tinggi, sedangkan harga dan permintaan akan ternak sangat rendah. Meskipun terjadi perubahan pakan
selama penelitian, pemberian tepung daun bangun-bangun tetap dilakukan sesuai dengan  taraf  pemberiannya  dalam  ransum  induk  babi.  Susunan  ransum  yang diberikan selama penelitian berlangsung disajikan dalam Tabel 8.

Ransum Penelitian
Bahan Makanan Perlakuan (%)
                     Bahan Makanan                          R0        R1        R2        R3
Jagung Giling                                       25,00   24,37   23,75   23,12
Dedak Halus                                        75,00   74,38   73,75   73,13
             Tepung daun bangun-bangun (TDB)  -           1,25     2,50     3,75
             Jumlah                                                100,00 100,00 100,00 100,00
           

2.  Kandungan Nutrien
Hasil analisis proksimat tiap ransum perlakuan  (Tabel 8) yang digunakan selama penelitian, disajikan pada Tabel 9. Analisis proksimat ini diperoleh dengan menganalisa  setiap  sampel  ransum  perlakuan  di Laboratorium  Ilmu  Nutrisi  dan Teknologi  Pakan,  Fakultas  Peternakan.  Berdasarkan  hasil  analisa  proksimat  ini (Tabel 9) diketahui, bahwa semakin tinggi taraf pemberian TDB dalam ransum akan
meningkatkan  kandungan  serat  kasar (SK),  kalsium (Ca)  dan  fospor (P)  serta menurunkan kandungan protein kasar (PK). Kandungan SK, Ca, dan P yang terdapat didalam  TDB  menyebabkan  terjadinya  kenaikan  mineral  ini  didalam  ransum perlakuan, penurunan PK disebabkan oleh rendahnya kandungan PK didalam TDB. Kandungan energi metabolik (ME) ransum perlakuan mengalami penurunan sampai pada taraf perlakuan R2, akan tetapi peningkatan energi terjadi pada perlakuan R3. Hal ini mungkin disebabkan adanya human error atau terjadi pencampuran TDB yang kurang merata sehingga bagian yang teranalisis adalah sebagian bahan yang mengandung energi tinggi.
Zat Makanan (%)
Perlakuan                 PK         SK       LK      Ca         P          Fe (mg) ME(kkal/kg)
     R0      12,79      10,75    9,68          0,08     0,89     11,50        4125
     R1      12,30      12,25    9,30          0,09     1,16     12,91        3798
     R2      12,01      12,89    7,64          0,14     1,42     14,32        3463
     R3      11,75      13,76    6,56          0,27     1,12     15,73        4238
 Keterangan :   PK = Protein Kasar, SK = Serat Kasar, LK = Lemak Kasar, Ca = Kalsium, P = Fospor, EM = Energi Metabolik. R0 = Ampas Tahu (kontrol) atau tanpa penambahan TDB R1 = Ampas Tahu ditambah 1,25% TDB R2 = Ampas Tahu ditambah 2,50% TDB R3 = Ampas Tahu ditambah 3,75% TDB
Sumber : Hasil Analisa Proksimat Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2009).

3.      Produksi Ternak
Induk babi menyusui memiliki peranan yang penting dalam peternakan babi untuk menghasilkan ternak babi yang berkualitas. Kualitas induk babi menyusui dapat dilihat dari penampilannya. Indikator penampilan induk babi menyusui dapat dilihat dari jumlah konsumsi ransum, produksi air susu induk (PASI), litter size lahir, litter  size  sapih  dan  mortalitas  anak.  Peningkatan  penampilan  induk  babi  pada umumnya  akan  meningkatkan  penampilan  anak  babi.  Penampilan  induk  babi menyusui selama penelitian disajikan pada Tabel
                                                                                   

Perlakuan
Peubah                                     R0                      R1          R2                R3        Rataan
KonsumsiRansum(kg/e/h)          3,97±0,01   4,39±0,68    4,15±0,34   3,98±0,01     4,10±0,35
PASI   per   menyusui (g/ekor) 172,2±48,8    216,7±54,5   229,2±55,1  204,2±64,4  207,1±56,1
LitterSizeLahir(ekor)                      9,67±6,02   10,33±4,16    10,25±3,86   10,50±3,87 10,21±3,90
LitterSizeSapih(ekor)                 5,67±2,88   9,66±5,03    8,00±1,82     8,50±2,88    8,00±3,13
Mortalitas anak (%)                        33,13±29,3  9,53±16,5  23,13±16,3    11,17±14,2  19,09±19,2
Keterangan :  R0 = 100% ransum biasa + 0% TDB; R1 = 98,75% R0 + 1,25% TDB; R2 = 97,5% R0 + 2,50% TDB;R3 = 96,25% R0 + 3,75 % TDB;

Produksi  air  susu  induk (PASI)  babi  selama  penelitian  diukur  dengan menghitung selisih bobot badan anak setelah menyusu dengan bobot badan anak sebelum menyusu. Pengukuran PASI ini dilakukan pada hari ke-5, ke-10, ke-15, ke-20, ke-25 dan ke-30 setelah beranak. Tabel  12 menunjukkan bahwa rataan PASI selama penelitian adalah 207,1±56,1 g/menyusui. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa taraf pemberian TDB tidak berpengaruh nyata terhadap PASI babi selama penelitian,  akan  tetapi  terjadi  peningkatan  PASI  dari  perlakuan  R0 (172,2 g/menyusui)  sampai  R2  (229,17  g/menyusui)  kemudian  terjadi  penurunan  pada
perlakuan R3  (204,2 g/menyusui). Hasil PASI babi ini yang tidak berbeda nyata diduga disebabkan oleh keadaan induk babi yang tidak seragam, seperti perbedaan bangsa, bobot badan, litter size dan perbedaan kemampuan induk itu sendiri dalam menghasilkan air susu akibat periode laktasi yang berbeda pula. Menurut Parakkasi (1990), produksi susu dipengaruhi oleh oleh genotip, parity, pakan, kondisi tubuh dan litter size dimana semakin banyak anak menyusu cenderung menaikkan produksi air susu induk.
Rataan litter size lahir hidup anak babi selama penelitian adalah 10,21±3,90 ekor. Jumlah ini masih tergolong normal karena menurut Sihombing (2006), seekor induk babi dapat menghasilkan anak sebanyak 8 - 12 ekor setelah periode  kebuntingan  selama  112  -  120  hari.  Hasil  analisis  ragam  menunjukkan bahwa taraf pemberian TDB yang berbeda dalam ransum induk tidak berpengaruh nyata terhadap litter size anak lahir hidup dari induk babi penelitian. Litter size lahir anak dari tiap induk babi selama penelitian berbeda-beda. Beberapa induk bahkan
mampu menghasilkan litter size lahir hidup anak babi sebanyak  16 ekor. Hal ini

1.      Polusi Lingkungan
            Pamanfaatan zat probiotik dalam ransum sangat diperlukan untuk
meningkatkan efisiensi penggunaan pakan di samping itu mengantisipasi terhadap
pencemaran lingkungan oleh bau kotoran dan dapat mengurangi pencemaran pada
lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Agus. 2009. Pengaruh Taraf Pemberian Tepung Daun Bangun-Bangun (Coleus amboinicus Lour. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.