Showing posts with label Bahan Pakan dan Formulasi Ransum (BPFR). Show all posts
Showing posts with label Bahan Pakan dan Formulasi Ransum (BPFR). Show all posts

Tuesday, May 17, 2016

Evaluasi Pakan

Ada 3 macam evaluasi dalam pakan
1.      Fisik
Pengujian kualitas pakan berdasarkan indera kita, rasa, bau, tekstur yang meliputi warna, kecermelangan, kekerasan, bau dan rasa.
2.      Kimiawi
Evaluasi mutu pakan dengan cara dianalisis, tujuannya untuk mengetahui kandungan suatu bahan pakan secara kuantitatif. Evaluasi pakan dilakukan dengan analisis proksimat dan van soest.
3.      Biologi

Evaluasi mutu pakan dengan menggunakan ternak, tujuannya untuk mengetahui kualitas nutrisi suatu bahan pakan dengan teknik in vitro dan in vivo.

Klasifikasi Kelas Pakan Secara Internasional

Secara Internasional, bahan pakan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.Hijauan Kering dan Jerami.
Hijauan kering adalah rumput dan daun-daunan leguminosa yang sengaja dikeringkan agar dapat disimpan dalam waktu yang lama dan digunakan sebagai cadangan bahan pakan ternak pada musim kekurangan pakan. Kelas hijauan kering dan jerami mengikutsertakan semua hijauan dan jerami yang dipotong dan dirawat, dan produk lain dengan lebih dari 10 % serat kasar dan mengandung lebih dari 35 % dinding sel. Beberapa bahan pakan yang termasuk hijauan kering dan jerami adalah jerami amoniasi, jerami kacang tanah, klobot jagung dan kulit nanas.

2.Pastura dan Hijauan Segar.
Pastura dan hijauan segar merupakan bahan pakan dalam bentuk daun-daunan, dan kadang masih bercampur dengan ranting dan bunganya. Kadar airnya berkisar antara 70-80 % dan sisanya adalah bahan kering dan sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan ternak. Daun nangka termasuk hijauan segar. Daun nangka baik untuk pakan ternak karena banyak kandunngan zat yanng bermanfaat bagi ternak.Gamal adalah tanaman yang berasal dari Amerika Latin. Daun gamal dapat digunakan sebagai pakan ternak, tanaman peneduh dan pembasmi alang-balang. menyatakan bahwa pohon gamal merupakan tumbuh-tumbuhan yang berukuran sedang atau berbentuk pohon kecil, batangnya bercabang-cabang dan tumbuh ranting serta daun. Tinggi pohon gamal dapat mencapai 25 m dan dapat dikembangkan dengan stek atau biji. Ternak kambing dan domba umumnya menyukai gamal, tetapi pada musim kemarau hampir semua ternak herbivora menyukainya. Beberapa spesies gamal yang terkenal adalah Glirigedea maculata. Tetapi semua spesies memiliki bau yang khas dan daun gamal memiliki rasa pahit bila dimakan, daun gamal tidak selalu diberikan dalam bentuk segar tetapi juga dapat dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak. Pohon turi banyak ditemukan di pulau Jawa. Pohon ini ada dua macam yaitu yang berbunga putih dan yang berbunga merah. Susunan zat-zat makanan daun turi yang berbunga putih adalah 40,62 % protein, 5,66 % lemak, 33,38 % BETN, 10,67 % serat kasar dan 11,20 % abu. Tetapi, kedua macam daun turi tersebut memiliki bau khas yang sama yaitu khas daun turi, keduanya juga memiliki bentuk daun yang hampir sama yaitu helaian serta agak kaku dan memiliki ras pahit apabila dimakan. Daun turi juga digunakan oleh manusia sebagai salah satu bahan pangan hijauan yang memiliki nilai gizi tinggi.
3. Silase.
Silase merupakan hijauan segar yang disimpan dalam silo dengan tujuan diberikan kepada ternak pada waktu sulit didapatkan atau pada musim paceklik. Kelas ini menyebutkan hijauan. Kelas ini menyebutkan silase hijauan (jagung, alfafa, rumput dan sebagainya). Tetapi tidak silase ikan, biji-bijian dan umbi-umbian. Tujuan pembuatan silase antara lain sebagai bahan pakan pada musim paceklik, untuk menampung dan memanfaatkan kelebihan produk hijauan dan mendayagunakan sisa hasil pertanian dan hasil ikutan pertanian. Silase memiliki bentuk kasar, warna hijau dan agak asam karena proses fermentatif. Silase hijauan pakan merupakan bahan pakan yang berasal dari hijauan yang telah mengalami proses fermentasi di dalam silo anaerob, dan mengandung bahan kering 30-35 %. Silase hijauan pakan memiliki warna hijau tetapi seperti aslinya dan bentuk tidak berubah. Silase hijauan pakan memiliki bentuk kasar dan berbau wangi asam. Hal ini disebabkan karena pengaruh bahan yang digunakan untuk memfermentasi hijauan ini.
4.Sumber Energi
Bahan makanan sumber energi pada umumnya merupakan bahan pakan yang mempunyai kadar protein sekitar 12 % dimana 75-80 % dapat dicerna. Penyusun utama bahan makanan sumber energi adalah karbohidrat, yang masih utuh berupa biji biasanya ¾ bagian merupakan pati yang daya cernanya sekitar 95 % serta mempunyai kadar serat kasar yang bervariasi yang dapat mempengaruhi daya cerna. Termasuk kelompok ini adalah bahan-bahan dengan serat kasar kurang dari 18 % atau dinding sel kurang dari 35 %.
Nasi aking merupakan bahan pakan sumber energi. Penyusun utamanya adalah karbohidrat. Selain itu, nasi aking juga mengandung protein yang baik untuk tubuh ternak. Nasi aking biasanya digunakan sebagai pakan ternak unggas terutama bebek atau itik.
5. Sumber Protein
Bahan pakan sumber protein terdiri dari dua sumber yaitu protein yang berasal dari sumber hewani dan yang berasal dari sumber nabati. Sumber protein nabati terutama dari jenis kacang-kacangan dan dari jenis leguminosa. Sumber protein hewani diantaranya adalah BR 1, BR 5 dan pellet. Ampas kecap termasuk sumber protein nabati karena bahan bakunya adalah biji kedelai. Ampas kecap mengandung protein 24,9 %, 24,3 % lemak, 0,39 % kalsium dan 0,33 fosfor. Ampas kecap bisa diberikan secara langsung (tanpa diproses lagi) sebagai pakan ternak dengan jumlah 20 % dari ransum.
Makanan ini bentuknya seperti butiran. Bentuk makan ini pun memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah merangsang selera makan, sebab ayam tertarik kepada makanan yang berbentuk butiran. Sedangkan tiap pellet memiliki kandungan gizi yang sama. Makanan pelet tak mudah melekat pada tempat makan dan paruh, sehingga tak ada makanan yang tercecer. Selain itu, ayam juga tidak memilih-milih makanan. Kekurangannya yaitu harganya relatif mahal. Kemungkinan terjadi kerusakan beberapa zat makanan tertentu sewaktu terjadi proses pembuatan. Ayam juga akan lebih banyak minum.
6.Sumber Mineral
Mineral merupakan komponen dari pesenyawaan organik jaringan tubuh dan persenyawaan kimiawi lainnya yang berperan dalam proses metabolisme. Kebutuhannya sangat sedikit tetapi sangat vital, teutama pada proses tumbuh dan bereproduksi penyusunnya yaitu kalsium dan fosfor. Apabila ternak kekurangan bahan pakan yang mengandung mineral maka dapat menyebabkan pertumbuhannya lambat. Salah satu sumber kalsium dan fosfor yang sering digunakan di Indonesia pada tahun 1960-1970 adalah tepung kerang yang sampai saat ini masih digunakan oleh penyusun ransum. Tepung kerang digunakan sebagai sumber kalsium yang penting untuk unggas pedaging dan unggas yang sedang bertelur dengan kadar kalsium yang cukup besar yaitu 38 % dan kandungan nutrien lainnya yaitu 1,2 % BETN, 46,7 % PK, dan 86 % BK. Kulit kerang diperlukan lebih banyak dalam ransum untuk ayam petelur yang bereproduksi tinggi sehingga dapat menahan telur dalam saluran telur dalam waktu yang relatif singkat. Tepung kulit kerang memiliki warna hitam keabuan, berbau amis karena termasuk dalam hewan laut dan memiliki rasa asin.
7. Sumber Vitamin
Vitamin adalah senyawa organik, biasanya tidak disintesis oleh jaringan tubuh dan diperlukan dalam jumlah sedikit. Vitamin ini digunakan sebagai koenzim atau regulator metabolisme. Vitamin digolongkan menjadi dua yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Vitamin A, D, E, K adalah vitamin yang larut dalam lemak. Sedangkan vitamin yang larut dalam air adalah tiamin, ribofialin, asam nukleat, folasin, boitin dan asam pentotenat. Sedangkan vitamin C tidak dapat disintesis oleh tubuh jadi sangat diperlukan dalam ransum. Vitachick merupakan preparat sintesis yang mengandung vitamin C yang berbentuk serbuk atau tepung dan berwarna kuning keorangean. Vitachick terdapat komposisi vitamin dan zat-zat tambahan lain yang diperlukan oleh ternak khususnya unggas. Proses metabolisme vitachick dibutuhkan tetapi dalam ransum zat ini tidak digunakan pada kebanyakan hewan ternak. Vitachick memiliki bau yang khas obat karena berasal dari bahan-bahan kimia sehingga memiliki rasa pahit bila dimakan. Meskipun pahit, tetapi vitachick dibutuhkan oleh ternak untuk pertumbuhan dari perkembangan ternak dan diberikan sesuai dengan dosis.
8. Zat Aditif
Berdasarkan komposisinya, aditif pakan (fedd suplement) dibagi menjadi tiga, yaitu feed suplement yang mengandung multivitamin dan mineral, feed suplement yang mengandung komposisi multivitamin dan antibiotik, dan feed suplement yang mengandung komposisi multivitamin, mineral, dan antibiotik. Aditif pakan meliputi bahan pewarna, antibiotik, hormon pengharum, obat-obatan dan air.

Definisi dari Nutrisi, Diet, Feed, Ration, Feedstuff, dan Nutrien


Nutrisi
Langkah-langkah yang saling terkait dimana organisme hidup asimilasi makanan dan menggunakannya untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan dan penggantian, atau elaborasi dari produk. Ini mencakup semua bentuk kehidupan, termasuk tanaman dan hewan.
Hal ini membutuhkan penerapan kimia, fisika, dan matematika serta integrasi kemajuan di tanah, ilmu tanaman, hewan ilmu pengetahuan, biokimia, rekayasa, sistem produksi, dan lainnya disiplin.
Nutrisi adalah substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan. Nutrisi didapatkan dari makanan dan cairan yang selanjutnya diasimilasi oleh tubuh.

Diet
Campuran bahan pakan homogen yang digunakan untuk mensuplai nutrisi bagi hewan.
Feed
Suatu bahan pakan atau campuran bahan pakan yang dikonsumsi oleh ternak serta mengandung nutrien yang dibutuhkan oleh ternak. Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi pertumbuhan dan kehidupan ternak. Zat yang terpenting dalam pakan adalah protein. Pakan berkualitas adalah pakan yang kandungan protein, lemak, karbohidrat, mineral dan vitaminnya seimbang.
Ration
Bagian pakan atau komponen yang sudah ditentukan ukurannya untuk setiap ternak secara rutin disuplay dari makanan dalam jangkan 24 jam.
Feedstuff
Satu atau beberapa macam bahan baik diolah, setengah jadi atau bahan baku, yang bertujuan untuk dibuat menjadi pakan atau diberikan langsung kepada hewan penghasil pangan.
Nutrien
Semua elemen kimiawi dalam makanan yang mendukung reproduksi normal, pertumbuhan, laktasi, dan mantenance dari proses kehidupan.

Saturday, October 1, 2011

Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum (BPFR) pada Tepung Jagung Kuning

LAPORAN PRAKTIKUM BISA DI DOWNLOAD DISINI 
BAB I
PENDAHULUAN 
Pakan adalah suatu bahan pakan atau campuran bahan pakan yang dimakan hewan atau ternak serta mengandung energi, protein, dan nutrien lainnya yang dibutuhkan oleh ternak serta tidak membahayakan untuk ternak. Analisis proksimat merupakan cara analisis kimia bahan pakan berdasarkan atas komposisi kimia dan kegunaannya, dari analisis proksimat dapat diketahui enam macam fraksi yaitu kadar air, kadar abu, kadar protein kasar, kadar lemak kasar, kadar serat kasar dan kadar bahan ekstra tanpa Nitrogen (BETN). Analisis proksimat dulu dikenal dengan analisis Weende yang berarti hasilnya hanya mendekati sempurna.
            Praktikum bahan pakan dan formulasi ransum bertujuan untuk menganalisis proksimat, mengetahui kandungan nutrisi dalam sampel bahan pakan. Manfaat praktikum analisis proksimat adalah mengetahui kadar air, kadar abu, kadar protein kasar, kadar lemak kasar, kadar serat kasar dan kadar bahan ekstra tanpa Nitrogen (BETN) dari bahan pakan yaitu tepung jagung kuning.




BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1.            Hasil Praktikum
Berdasarkan hasil praktikum Bahan Pakan Formulasi Ransum diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Tepung Jagung kuning
Kandungan Nutrisi
Hasil Praktikum*
Literatur**
BK

Kadar Air
14,77%
14%
Kadar Abu
1,88%
1,9%
Kadar Serat Kasar
1,63%
2,61%
Kadar Lemak Kasar
Kadar Protein Kasar
7,775%
7,35%
6,9%
7,9%
Kadar BETN
81,365%
80,8%
Sumber : *Data Primer Praktikum Bahan Pakan Formulasi Ransum, 2010.
                 **Hartadi et.al., 1993.


2.2.            Pembahasan
2.2.1.      Kadar Air
Berdasarkan hasil yang didapatkan pada kadar air hasil analisis tepung Jagung kuning adalah 14,77% dalam bahan kering 85,23%. Hal ini menunjukkan hasil yang sesuai Hartadi et al. (1993) bahwa kadar air dalam Tepung Jagung kuning dalam 86% BK adalah 14%. Kadar air dari suatu bahan pakan dapat menentukan kadar bahan keringnya. Soelistyono (1976) menambahkan bahwa kadar bahan kering dalam pakan dihitung sebagai selisih antara 100% dengan persen air yang dipengaruhi oleh umur tanaman.
2.2.2.      Kadar Abu
Berdasarkan hasil praktikum kadar abu dari Tepung Jagung kuning adalah 1,88%. Hasil tersebut sama dengan pendapat Hartadi et al. (1993) yang menyatakan bahwa kadar abu Tepung Jagung kuning adalah 1,9%. Kadar abu didapatkan dengan memijarkan pada suhu 400-600 oC. Hasil kadar abu yang berbeda kurang berpengaruh pada kandungan gizi. Menurut Tillman et al. (1998) bahwa komponen abu pada analisis proksimat tidak memberikan nilai gizi yang penting melainkan hanya menentukan perhitungan BETN. Jika dilihat kadar abu yang tinggi kemungkinan bahan dasar Tepung Jagung kuning tersebut banyak mengandung mineral.

2.2.3.      Kadar Serat Kasar
Berdasarkan hasil analisis kadar serat kasar Tepung Jagung kuning adalah 1,63%. Hasil tersebut lebih kecil daripada hasil literatur. Menurut pendapat yang dikemukakan Hartadi et al. (1993) bahwa kadar serat kasar Tepung Jagung kuning adalah 2,61%.
Keadaan ini dapat terjadi karena kemungkinan Tepung Jagung kuning bercampur dengan tomgkolnya atau jagung masih terlalu muda, sehingga pada saat dilakukan analisis kadar serat kasar hasilnya rendah. Hal ini dijelaskan oleh Afrianto dan Liviawaty (2005) bahwa komposisi Tepung Jagung kuning juga tergantung pada bentuk dan kualitas bahan baku yang digunakan. Namun selain itu serat kasar juga memiliki keuntungan pada pencernaan. Menurut Rasyaf (1994) bahwa serat kasar berfungsi sebagai perangsang gerak peristaltik saluran pencernaan, media mikroba pada usus buntu dan memberikan rasa kenyang.

2.2.4.      Kadar Lemak Kasar
Berdasarkan hasil analisis praktikum kadar lemak kasar Tepung Jagung kuning adalah 7,775%. Penentuan hasil kadar lemak kasar diperoleh dengan cara mengekstak bahan pakan tersebut. Hasil kadar tersebut sesuai dengan pendapat Hartadi et al. (1993) yang menyatakan bahwa kadar lemak kasar Tepung Jagung kuning sebesar 8,0%. Hal ini dijelaskan oleh Tillman et al. (1998) yang menyatakan bahwa kadar lemak pada analisis proksimat ditentukan dengan jalan mengekstraksi bahan pakan dengan pelarut dietyl ether. Ditambahkan pendapat Anggorodi (1990) bahwa kadar lemak kasar merupakan campuran dari beberapa senyawa yang larut dalam senyawa pelarut lemak.

2.2.5.      Kadar Protein Kasar
Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum didapatkan kadar protein dari Tepung Jagung kuning adalah 7,35%. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hartadi et al. (1993) bahwa kadar protein Tepung Jagung kuning adalah 7,9%. Sedikit perbedaan hasil analisis ini kemungkinan dapat terjadi karena perbedaan jenis jagung, umur jagung, dan senyawa kimia yang menyusun jagung. Dijelaskan oleh Anggorodi (1990) bahwa timgkat kedewasaan adalah faktor yang mempengaruhi nilai gizi. Kadar protein kasar bahan pakan ditentukan berdasarkan kadar N bahan pakan kemudian dikalikan dengan 6,25%.
2.2.6.      Kadar Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh kadar bahan ekstak tanpa nitrogen (BETN) Tepung Jagung kuning adalah 81,365%. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Hartadi et al. (1993) yang menyatakan bahwa kadar BETN Tepung Jagung kuning adalah 80,8%. Kandungan BETN ini ditentukan oleh kandungan abu, protein kasar, lemak kasar dan serat kasar. Hal ini sesuai dengan Tillman et al. (1998) yang menyatakan bahwa BETN diketahui kadarnya dengan mengurangi bahan kering dengan kadar air, abu, protein kasar, lemak kasar dan serat kasar dalam bahan kering.  Berarti faktor yang menentukan jumlah BETN adalah nilai dari kadar air, abu, protein kasar, lemak kasar dan serat kasar dalam bahan kering.


BAB III
KESIMPULAN
3.1       Kesimpulan
Tepung Jagung kuning merupakan bahan makanan sumber energi karena mengandung sedikit serat kasar yaitu kurang dari 18% dan protein kasar yang kurang dari 20% serta berasal dari biji-bijian. Hasil analisis dari sampel Tepung Jagung kuning memperoleh kadar air, kadar abu, kadar lemak kasar, kadar protein kasar, dan kadar serat kasar yang tidak jauh berbeda dengan literatur. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Tepung Jagung kuning tersebut dapat dikatakan memenuhi kebutuhan standar ternak.

3.2       Saran
Telah diketahui bahwa analisis proksimat masih memiliki banyak kelemahan, maka dari itu perlu juga dilakukan uji van soest dalam praktikum ini agar dalam pengujian suatu bahan pakan dapat diketahui kandungan bahan pakannya secara detail.


DAFTAR PUSTAKA
Afrianto,E. dan  Evi Liviawaty. 2005. Pengawetan Dan Pengolahan Pakan. Kanisius. Yogyakarta.

Anggorodi.  1990.  Ilmu Makanan Ternak Umum.  Cetakan II.  PT Gramedia, Jakarta.

Hartadi, S.Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo,  Tillman, A.D,H. S. Lebdosoekojo. 1993. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesia.  Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Rasyaf, M. 1994. Memelihara Burung Puyuh. Kanisius, Yogyakarta.

Soelistyono, H.S.  1976.  Ilmu Bahan Makanan Ternak.  Diponegoro University, Semarang.

Tillman, A. D, H, Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo,                        S. Lebdosoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar.  Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.




LAMPIRAN
Lampiran 1. Perhitungan Kadar Air
Kode
Berat kertas
(gram)
Berat sampel
(gram)
Berat botol
timbang (x)
(gram)
Sampel masuk
(y)
(gram)
Berat sampel konstan (z)
(gram)
A3
A4
0,2531
0,2706
1,0089
1,0079
12,2575
13,3737
1,0014
1,0002
13,1102
14,2269
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2010.
Kadar Air 3                 =  x 100 %
                                    =  x 100 %
                                    = 14,85 %
Kadar Air 4                 =  x 100 %
                                    =  x 100 %
                                    = 14,70 %
Kadar air Rata-rata     =   x 100%
                                    =   x 100%
                                    = 14,77%

Bahan kering (BK)      = 100% - kadar air
                                    = 100 % - 14,77 %
                                    = 85,23 %






Lampiran 2. Perhitungan Kadar Abu
Kode
Berat kertas
(gram)
Berat sampel
(gram)
Berat cawan (x)
(gram)
Sampel masuk
(y)
(gram)
Berat abu setelah tanur (z)
(gram)
Abu 3
Abu 4
0,2675
0,2746
1,0079
1,0028
19,2926
22,1418
0,9901
0.9861
19,3084
22,1577
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2010.
Kadar Abu 3               =  x 100%
                                    =  x 100%
= 1,596 %
Kadar Abu 4               =  x 100%
                                    =  x 100%
= 1,612 %
Kadar Abu Rata-rata  =   x 100%
                                    =   x 100%
                                    = 1,604 %
Kadar Abu dalam BK =
=

=   1,88 %


Lampiran 3. Perhitungan Kadar Serat Kasar
Kode
Berat kertas
(gram)
Berat sampel (x)
(gram)
Berat cawan
(gram)
Kertas saring
(a)
(gram)
Berat SK setelah oven (y)
(gram)
Berat setelah tanur (z)
(gram)
SK 3
SK 4
0,2960
0,2525
1,0053
1,0007
21,4988
21,9035
1,0785
1,0438
22,5741
22,9637
21,4985
21,9059
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2010.
Kadar Serat Kasar 3    =  x 100%
                                    =  x 100%
                                    = (Hasil (-) sehingga tidak digunakan dalam perhitungan)
Kadar Serat Kasar 4    =  x 100%
                                    =  x 100%
                                    = 1,39 %
Tidak dihitung rata-rata karena SK 3 hasilnya (-) sehingga hanya  SK 4 yang digunakan.
Kadar serat kasar dalam BK   =

=                        


1,63%




Lampiran 4. Perhitungan Kadar Lemak Kasar
Kode
Berat kertas
(gram)
Berat sampel
(gram)
Berat sampel setelah oven pertama (a)
(gram)
Berat sampel setelah oven kedua (b)
(gram)
Kertas saring
(gram)
LK 3
LK 4
0,2547
0,2627
1,0007
1,0037
1,8016
1,8100
1,7375
1,7430
0,9559
0,9711
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2010.
Kadar Lemak Kasar 3 =   x 100%
=  x 100%
= 7,57 %
Kadar Lemak Kasar 4 =
=

=  7,98 %
Kadar Lemak Kasar    =   x 100%
=  x 100%
= 7,775 %



Lampiran 5. Perhitungan Kadar Protein Kasar
Kode
Berat kertas
(gram)
Berat sampel
(gram)
Titran sampel
(ml)
Titran blangko
(ml)
PK 3
PK 4
0,2684
0,2698
1,0044
1,0044
7,00
7,20
0,55
0,55
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2010.
Kadar Protein Kasar 3=   
=
=  x 100%
= 6,172 %
Kadar Protein Kasar 4=   
=
=  x 100%
= 6,37%

Kadar Protein Kasar   =   x 100%
=  x 100%
= 6,271 %
Kadar protein kasar dalam BK=
                                                =
                                                = 7,35%                                                          
Lampiran 6. Perhitungan KadarBahan Ekstrak Tanpa Nitrogen
BETN dalam 100 % BK           
= 100 % - (Kadar Abu+ Serat Kasar + Lemak Kasar + Protein Kasar)
= 100 % - (1,88 % + 1,63 % + 7,775 % + 7,35 %)
= 100 % - 18,635%
= 81,365 %