Saturday, October 1, 2011

Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum (BPFR) pada Tepung Jagung Kuning

LAPORAN PRAKTIKUM BISA DI DOWNLOAD DISINI 
BAB I
PENDAHULUAN 
Pakan adalah suatu bahan pakan atau campuran bahan pakan yang dimakan hewan atau ternak serta mengandung energi, protein, dan nutrien lainnya yang dibutuhkan oleh ternak serta tidak membahayakan untuk ternak. Analisis proksimat merupakan cara analisis kimia bahan pakan berdasarkan atas komposisi kimia dan kegunaannya, dari analisis proksimat dapat diketahui enam macam fraksi yaitu kadar air, kadar abu, kadar protein kasar, kadar lemak kasar, kadar serat kasar dan kadar bahan ekstra tanpa Nitrogen (BETN). Analisis proksimat dulu dikenal dengan analisis Weende yang berarti hasilnya hanya mendekati sempurna.
            Praktikum bahan pakan dan formulasi ransum bertujuan untuk menganalisis proksimat, mengetahui kandungan nutrisi dalam sampel bahan pakan. Manfaat praktikum analisis proksimat adalah mengetahui kadar air, kadar abu, kadar protein kasar, kadar lemak kasar, kadar serat kasar dan kadar bahan ekstra tanpa Nitrogen (BETN) dari bahan pakan yaitu tepung jagung kuning.




BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1.            Hasil Praktikum
Berdasarkan hasil praktikum Bahan Pakan Formulasi Ransum diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Tepung Jagung kuning
Kandungan Nutrisi
Hasil Praktikum*
Literatur**
BK

Kadar Air
14,77%
14%
Kadar Abu
1,88%
1,9%
Kadar Serat Kasar
1,63%
2,61%
Kadar Lemak Kasar
Kadar Protein Kasar
7,775%
7,35%
6,9%
7,9%
Kadar BETN
81,365%
80,8%
Sumber : *Data Primer Praktikum Bahan Pakan Formulasi Ransum, 2010.
                 **Hartadi et.al., 1993.


2.2.            Pembahasan
2.2.1.      Kadar Air
Berdasarkan hasil yang didapatkan pada kadar air hasil analisis tepung Jagung kuning adalah 14,77% dalam bahan kering 85,23%. Hal ini menunjukkan hasil yang sesuai Hartadi et al. (1993) bahwa kadar air dalam Tepung Jagung kuning dalam 86% BK adalah 14%. Kadar air dari suatu bahan pakan dapat menentukan kadar bahan keringnya. Soelistyono (1976) menambahkan bahwa kadar bahan kering dalam pakan dihitung sebagai selisih antara 100% dengan persen air yang dipengaruhi oleh umur tanaman.
2.2.2.      Kadar Abu
Berdasarkan hasil praktikum kadar abu dari Tepung Jagung kuning adalah 1,88%. Hasil tersebut sama dengan pendapat Hartadi et al. (1993) yang menyatakan bahwa kadar abu Tepung Jagung kuning adalah 1,9%. Kadar abu didapatkan dengan memijarkan pada suhu 400-600 oC. Hasil kadar abu yang berbeda kurang berpengaruh pada kandungan gizi. Menurut Tillman et al. (1998) bahwa komponen abu pada analisis proksimat tidak memberikan nilai gizi yang penting melainkan hanya menentukan perhitungan BETN. Jika dilihat kadar abu yang tinggi kemungkinan bahan dasar Tepung Jagung kuning tersebut banyak mengandung mineral.

2.2.3.      Kadar Serat Kasar
Berdasarkan hasil analisis kadar serat kasar Tepung Jagung kuning adalah 1,63%. Hasil tersebut lebih kecil daripada hasil literatur. Menurut pendapat yang dikemukakan Hartadi et al. (1993) bahwa kadar serat kasar Tepung Jagung kuning adalah 2,61%.
Keadaan ini dapat terjadi karena kemungkinan Tepung Jagung kuning bercampur dengan tomgkolnya atau jagung masih terlalu muda, sehingga pada saat dilakukan analisis kadar serat kasar hasilnya rendah. Hal ini dijelaskan oleh Afrianto dan Liviawaty (2005) bahwa komposisi Tepung Jagung kuning juga tergantung pada bentuk dan kualitas bahan baku yang digunakan. Namun selain itu serat kasar juga memiliki keuntungan pada pencernaan. Menurut Rasyaf (1994) bahwa serat kasar berfungsi sebagai perangsang gerak peristaltik saluran pencernaan, media mikroba pada usus buntu dan memberikan rasa kenyang.

2.2.4.      Kadar Lemak Kasar
Berdasarkan hasil analisis praktikum kadar lemak kasar Tepung Jagung kuning adalah 7,775%. Penentuan hasil kadar lemak kasar diperoleh dengan cara mengekstak bahan pakan tersebut. Hasil kadar tersebut sesuai dengan pendapat Hartadi et al. (1993) yang menyatakan bahwa kadar lemak kasar Tepung Jagung kuning sebesar 8,0%. Hal ini dijelaskan oleh Tillman et al. (1998) yang menyatakan bahwa kadar lemak pada analisis proksimat ditentukan dengan jalan mengekstraksi bahan pakan dengan pelarut dietyl ether. Ditambahkan pendapat Anggorodi (1990) bahwa kadar lemak kasar merupakan campuran dari beberapa senyawa yang larut dalam senyawa pelarut lemak.

2.2.5.      Kadar Protein Kasar
Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum didapatkan kadar protein dari Tepung Jagung kuning adalah 7,35%. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hartadi et al. (1993) bahwa kadar protein Tepung Jagung kuning adalah 7,9%. Sedikit perbedaan hasil analisis ini kemungkinan dapat terjadi karena perbedaan jenis jagung, umur jagung, dan senyawa kimia yang menyusun jagung. Dijelaskan oleh Anggorodi (1990) bahwa timgkat kedewasaan adalah faktor yang mempengaruhi nilai gizi. Kadar protein kasar bahan pakan ditentukan berdasarkan kadar N bahan pakan kemudian dikalikan dengan 6,25%.
2.2.6.      Kadar Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh kadar bahan ekstak tanpa nitrogen (BETN) Tepung Jagung kuning adalah 81,365%. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Hartadi et al. (1993) yang menyatakan bahwa kadar BETN Tepung Jagung kuning adalah 80,8%. Kandungan BETN ini ditentukan oleh kandungan abu, protein kasar, lemak kasar dan serat kasar. Hal ini sesuai dengan Tillman et al. (1998) yang menyatakan bahwa BETN diketahui kadarnya dengan mengurangi bahan kering dengan kadar air, abu, protein kasar, lemak kasar dan serat kasar dalam bahan kering.  Berarti faktor yang menentukan jumlah BETN adalah nilai dari kadar air, abu, protein kasar, lemak kasar dan serat kasar dalam bahan kering.


BAB III
KESIMPULAN
3.1       Kesimpulan
Tepung Jagung kuning merupakan bahan makanan sumber energi karena mengandung sedikit serat kasar yaitu kurang dari 18% dan protein kasar yang kurang dari 20% serta berasal dari biji-bijian. Hasil analisis dari sampel Tepung Jagung kuning memperoleh kadar air, kadar abu, kadar lemak kasar, kadar protein kasar, dan kadar serat kasar yang tidak jauh berbeda dengan literatur. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Tepung Jagung kuning tersebut dapat dikatakan memenuhi kebutuhan standar ternak.

3.2       Saran
Telah diketahui bahwa analisis proksimat masih memiliki banyak kelemahan, maka dari itu perlu juga dilakukan uji van soest dalam praktikum ini agar dalam pengujian suatu bahan pakan dapat diketahui kandungan bahan pakannya secara detail.


DAFTAR PUSTAKA
Afrianto,E. dan  Evi Liviawaty. 2005. Pengawetan Dan Pengolahan Pakan. Kanisius. Yogyakarta.

Anggorodi.  1990.  Ilmu Makanan Ternak Umum.  Cetakan II.  PT Gramedia, Jakarta.

Hartadi, S.Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo,  Tillman, A.D,H. S. Lebdosoekojo. 1993. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesia.  Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Rasyaf, M. 1994. Memelihara Burung Puyuh. Kanisius, Yogyakarta.

Soelistyono, H.S.  1976.  Ilmu Bahan Makanan Ternak.  Diponegoro University, Semarang.

Tillman, A. D, H, Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo,                        S. Lebdosoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar.  Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.




LAMPIRAN
Lampiran 1. Perhitungan Kadar Air
Kode
Berat kertas
(gram)
Berat sampel
(gram)
Berat botol
timbang (x)
(gram)
Sampel masuk
(y)
(gram)
Berat sampel konstan (z)
(gram)
A3
A4
0,2531
0,2706
1,0089
1,0079
12,2575
13,3737
1,0014
1,0002
13,1102
14,2269
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2010.
Kadar Air 3                 =  x 100 %
                                    =  x 100 %
                                    = 14,85 %
Kadar Air 4                 =  x 100 %
                                    =  x 100 %
                                    = 14,70 %
Kadar air Rata-rata     =   x 100%
                                    =   x 100%
                                    = 14,77%

Bahan kering (BK)      = 100% - kadar air
                                    = 100 % - 14,77 %
                                    = 85,23 %






Lampiran 2. Perhitungan Kadar Abu
Kode
Berat kertas
(gram)
Berat sampel
(gram)
Berat cawan (x)
(gram)
Sampel masuk
(y)
(gram)
Berat abu setelah tanur (z)
(gram)
Abu 3
Abu 4
0,2675
0,2746
1,0079
1,0028
19,2926
22,1418
0,9901
0.9861
19,3084
22,1577
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2010.
Kadar Abu 3               =  x 100%
                                    =  x 100%
= 1,596 %
Kadar Abu 4               =  x 100%
                                    =  x 100%
= 1,612 %
Kadar Abu Rata-rata  =   x 100%
                                    =   x 100%
                                    = 1,604 %
Kadar Abu dalam BK =
=

=   1,88 %


Lampiran 3. Perhitungan Kadar Serat Kasar
Kode
Berat kertas
(gram)
Berat sampel (x)
(gram)
Berat cawan
(gram)
Kertas saring
(a)
(gram)
Berat SK setelah oven (y)
(gram)
Berat setelah tanur (z)
(gram)
SK 3
SK 4
0,2960
0,2525
1,0053
1,0007
21,4988
21,9035
1,0785
1,0438
22,5741
22,9637
21,4985
21,9059
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2010.
Kadar Serat Kasar 3    =  x 100%
                                    =  x 100%
                                    = (Hasil (-) sehingga tidak digunakan dalam perhitungan)
Kadar Serat Kasar 4    =  x 100%
                                    =  x 100%
                                    = 1,39 %
Tidak dihitung rata-rata karena SK 3 hasilnya (-) sehingga hanya  SK 4 yang digunakan.
Kadar serat kasar dalam BK   =

=                        


=  1,63%




Lampiran 4. Perhitungan Kadar Lemak Kasar
Kode
Berat kertas
(gram)
Berat sampel
(gram)
Berat sampel setelah oven pertama (a)
(gram)
Berat sampel setelah oven kedua (b)
(gram)
Kertas saring
(gram)
LK 3
LK 4
0,2547
0,2627
1,0007
1,0037
1,8016
1,8100
1,7375
1,7430
0,9559
0,9711
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2010.
Kadar Lemak Kasar 3 =   x 100%
=  x 100%
= 7,57 %
Kadar Lemak Kasar 4 =
=

=  7,98 %
Kadar Lemak Kasar    =   x 100%
=  x 100%
= 7,775 %



Lampiran 5. Perhitungan Kadar Protein Kasar
Kode
Berat kertas
(gram)
Berat sampel
(gram)
Titran sampel
(ml)
Titran blangko
(ml)
PK 3
PK 4
0,2684
0,2698
1,0044
1,0044
7,00
7,20
0,55
0,55
Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2010.
Kadar Protein Kasar 3=   
=
=  x 100%
= 6,172 %
Kadar Protein Kasar 4=   
=
=  x 100%
= 6,37%

Kadar Protein Kasar   =   x 100%
=  x 100%
= 6,271 %
Kadar protein kasar dalam BK=
                                                =
                                                = 7,35%                                                          
Lampiran 6. Perhitungan KadarBahan Ekstrak Tanpa Nitrogen
BETN dalam 100 % BK           
= 100 % - (Kadar Abu+ Serat Kasar + Lemak Kasar + Protein Kasar)
= 100 % - (1,88 % + 1,63 % + 7,775 % + 7,35 %)
= 100 % - 18,635%
= 81,365 %

Thursday, September 22, 2011

KETERKAITAN BIBIT DENGAN PAKAN TERHADAP KESEHATAN TERNAK

Dalam usaha peternakan tidak lepas dari tiga unsur penting yaitu bibit, pakan, dan manajemen. Proporsi masing-masing yaitu 20% untuk bibit, pakan sebanyak 30% dan manajemen sebesar 50%.
Penampakan ekspresi potensi ternak secara mendasar dipengaruhi oleh dua faktor utama yang sating terkait satu dengan yang lainnya, yakni faktor genetic dan lingkungan termasuk didalamnya manajemen pemeliharaan secara menyeluruh. Telah diketahui bahwa lingkungan dan penanganan manajemen yang memadai atau sesuai dengan kebutuhan ternak tidak akan memberikan ekpresi produksi (kualitas maupun kuantitas) yang diharapkan jika tidak  didukung dengan potensi genetic ternak yang baik. Begitu pula sebaliknya jika ternak memiliki potensi genetic yang baik tidak akan terekspresikan secara optimal bila tidak didukung oleh lingkungan dan manajemen yang maksimal. Dengan demikian kedua faktor tersebut hendaknya memperoleh perhatian yang sama seriusnya dalam pemeliharaan komoditas temak yang dilakukan.
Syarat kesehatan hewan adalah persyaratan yang harus dipenuhi bagi setiap bibit ternak yang di masukkan kedalam wilayah Indonesia untuk pencegahan dan penolakan kemungkinan masuknya penyakit hewan menular dari luarnegeri. Peraturan pemasukan bibit ternak dari luar negeri ke Indonesia di atur dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian No: 750/Kpts/Um/10/1982. Salah satu keputusan untuk pemasukan bibit ternak dari luar negeri ke Indonesia adalah memenuhi syarat kesehatan hewan.

Kandungan Bahan Pakan yang Dibutuhkan Untuk Kesehatan Ternak

Zat Mineral merupakan zat yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan hewan ternak sapi dan kambing, jika kekurangan zat mineral ini maka pertumbuhan dan kesehatan hewan ternak  sapi dan kambing akan terganggu.
Beberapa zat mineral mempunyai fungsi untuk proses pertumbuhan , reproduksi dan untuk memelihara kesehatan. Jumlah zat mineral yang diperlukan oleh tubuh untuk pertahanan dan pemeliharaan tubuh, tidak selamanya harus proporsional dengan jumlah mineral tersebut dalam tubuh.
Unsur mineral yang dibutuhkan oleh Ternak ( kambing dan sapi, yang terpenting untuk ternak perah ) meliputi Ca, P, Mg, K, Na, Cl, S, I, Fe, Cu, Co, Mn, dan Se. unsur-unsur yang tersebut dibutuhkan dalam pembentukan tulang, untuk menyusun protein dan lemak yang terdapat dalam jaringan otot, alat tubuh dan sel-sel darah.mineral juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan asam-basa serta menjaga kemampuan kontraksi otot dan kepekaan syaraf.
Agar pembibitan ternak bisa berjalan baik, diperlukan nutrisi yang berkualitas dengan cara silase, yaitu sebuah tekonologi fermentasi dengan mengawetkan bahan organik salah satunya dari limbah hijauan pertanian. Dari berbagai macam cara fermentasi yang dilakukan pada limbah hijauan pertanian adalah asam laktat atau yang dikenal dengan proses ensilasi. “Proses ini menghasilkan produk silase hijauan. Seperti umumnya produk silase, maka kondisi anaerob akan menjadi kunci keberhasilan dalam mempertahankan produk dari proses kebusukan,”. Pembuatan silase ini, adalah salah satu metode pengawetan hijauan sebagai solusi dalam menanggulangi keadaan berlimpahnya hijauan. Bahan yang digunakan untuk pembuatan silase ini adalah rumput lapang dan jerami disesuaikan dengan yang tersedia di lapangan. Kemudian dicampurkan dengan molases secukupnya. Tempat yang digunakan untuk menyimpan rumput atau jerami yang telah dicampur dengan molases adalah plastik yang diikat dalam keadaan vacum agar bakteri pembusuk tidak tumbuh. “Setelah diikat plastik disimpan dengan baik kurang lebih selama tiga minggu setelah tiga minggu silase dapat diberikan kepada ternak,”. Proses pengemasan dapat dilakukan dalam drum plastik berpelat setelah sebelumnya diproses dalam silo kolam. “Pemrosesan dalam silo kolam dianggap tetap mutlak harus dilakukan apabila ingin memproduksi silase untuk disimpan dalam jangka waktu lama dan jumlah yang besar. Satu drum bisa menampung 35 kg rumput dan cukup untuk tujuh ekor ternak. Silase ini bisa bertahan hingga 20 tahun,”.
Dengan menjadikan drum plastik sebagai kemasan, lanjut Dedi, kedap udara yang merupakan proses lanjutan dari silo kolam, maka daya susut produk dapat ditekan mendekati 0% sehingga kebusukan dapat dicegah. “Drum plastik berpelat ini berfungsi sebagai silo bergerak. Silo bergerak ini dimaksudkan sebagai alat kemas kedap udara sekaligus sebagai alat transportasi silase, sehingga produk silase dapat disimpan dan kebusukan dapat dicegah,”.
Ditambahkan, pembibitan ternak yang baik akan bergantung pada nutrisi yang dikonsumsi hewan tersebut. “Jika pakan ternak bagus, bobot kambing pun akan meningkat dan kambing itu pun akan dalam kondisi sehat yang layak dikonsumsi masyarakat,” sebutnya.

Memasuki era globalisasi dan perdagangan bebas pembangunan peternakan mengalami pergeseran paradigma. Titik berat kepada sistem budidaya (onfarm) mengalami pergeseran ke arah yang lebih terintegrasi dan komprehensif, yaitu agribisnis. Sistem agribisnis peternakan mencakup usaha peternakan mulai dari subsistem hulu (penyedia sapronak : pakan, bibit dan alat-alat), subsistem budidaya (onfarm), subsistem hilir (pengolahan dan pemasaran) dan subsistem agribisnis penunjang (lembaga jasa dan kebijakan).
Pakan merupakan salah satu komoditi dari subsistem agribisnis hulu, atau dengan kata lain penyedia sapronak untuk subsistem budidaya ternak. Pakan merupakan faktor terpenting untuk menunjang budidaya ternak karena berimbas pada peningkatan bobot badan ternak dan performa ternak yang diinginkan. Peningkatan populasi, produksi daging, susu dan telur sebagai hasil ternak sangat tergantung dari penyediaan pakan yang baik dan berkualitas. Selain itu dalam usaha peternakan biaya pakan mencapai persentasi tertinggi dalam biaya produksi yaitu mencapai 50 –70%.
Penyediaan pakan ternak di Indonesia sudah dilakukan dalam industri skala besar, khususnya untuk pakan non hijauan dan tanaman pakan. Bahkan pada sektor perunggasan industri pakan sudah terintegrasi menjadi sitem agribisnis perunggasan. Sedangkan untuk penyediaan hijauan atau tanaman pakan masih harus didapatkan dari petani hijauan atau tanaman pakan. Seiring munculnya industri pakan ternak diperlukan iklim yang kondusif agar persaingan usaha berlangsung sehat.
Distribusi atau peredaran pakan atau bahan baku pakan melalui jalur ekspor-impor di era perdagangan bebas akan lebih mudah. Indonesia harus memperhatikan hal ini karena sebagian besar bahan baku pakan ternak kita masih dipenuhi dari impor. Adanya bebas biaya tarif untuk impor harus diperhatikan karena dapat membuat produsen bahan baku pakan lokal kalah bersaing.
Era perdagangan bebas menuntut setiap negara untuk menghasilkan produk yang bermutu tinggi termasuk pakan, agar dapat bersaing di pasar internasional. Adanya SPS (Sanitary Phyto Sanitary) menuntut produsen pakan agar mengikuti peraturan tersebut untuk menghasilkan pakan bermutu sesuai dengan preferensi konsumen. Pakan yang diproduksi tentunya harus sesuai dengan standar SNI dan standard internasional (Codex Alimentarius Commision).
Pakan yang baik dan berkualitas harus memenuhi persyaratan mutu yang mencakup aspek keamanan pakan, aspek kesehatan ternak, aspek keamanan pangan dan aspek ekonomi. Keempat aspek tersebut penting untuk dipenuhi karena akan berpengaruh pada kesehatan ternak, penyediaan pangan hasil ternak dan keamanan konsumen dalam mengkonsumsi pangan hasil ternak, serta efisiensi biaya agar dihasilkan pakan yang bernilai ekonomis.
Perlu legislasi pakan
Sebuah legislasi atau peraturan perlu dibuat untuk menunjang penyediaan pakan yang mencakup aspek keamanan pakan, kesehatan ternak, keamanan pangan dan ekonomi. Peraturan atau kebijakan yang dibuat pemerintah juga harus memperhatikan situasi dan kondisi terkini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sosial kultural masyarakat khususnya petani dan peternak.
Peraturan tentang pakan di Indonesia sampai saat ini masih berada dan beracuan pada UU No. 6 tahun 1967 tentang peternakan dan kesehatan hewan. Walaupun pada perjalanannya hingga sekarang UU tersebut sedang mengalami revisi. Selain UU peraturan tentang pakan ternak juga terdapat dalam bentuk peraturan pemerintah sebagai Keputusan Menteri Pertanian nomor : 242/kpts/OT.210/4/2003 tentang pendaftaran dan labelisasi pakan. UU No. 6 tahun 1967 tentang peternakan dan kesehatan hewan hanya memuat tanaman pakan sebagai pakan ternak. UU ini tidak mencantumkan pakan termasuk bahan baku pakan selain tanaman pakan, imbuhan pakan (feed additive) dan bahan pelengkap lainnya sebagai pakan ternak. Pengaturan tentang industri pakan serta bagaimana pendistribusian pakan ternak sama sekali tidak tersentuh dalam UU ini. Aspek yang menyangkut keamanan pakan, kesehatan ternak, keamanan pangan dan ekonomi juga tidak termuat. Sehingga mengimplikasikan bahwa UU ini tidak relevan lagi digunakan sebagai pedoman, peraturan tentang pakan ternak pada kondisi globalisasi, perdagangan bebas, perkembangan IPTEK dan tumbuhnya industri pakan terintegrasi.
Melihat ketidakrelevanan UU No. 6 tahun 1967 yang menaungi tentang pakan ternak maka pemerintah melakukan revisi pada UU tersebut. Revisi ini sekarang sudah masuk pada tahap penyelesaian naskah akademis. Pada naskah tersebut sudah termuat bab khusus tentang pakan pada bagian ketiga yang memuat tujuh pasal, yaitu pasal 20-26. Bagian tersebut meliputi definisi pakan, jenis pengusahaan, pengadaan dan distribusi pakan, keamanan pakan, perizinan pengusahaan pakan dan peraturan-peraturan dengan instansi yang berhubungan dengan isi yang sudah hampir memuat seluruh aspek mutu pakan.
Aspek keamanan pakan dan kesehatan ternak
Keamanan pakan yang berimbas pada kesehatan ternak memang belum termuat dalam UU No. 6 tahun 1967. Tetapi pada revisinya yang masih berupa naskah akademis termaktub dalam pasal 22 yang terdiri dari dua ayat. Ayat pertama berisikan bahwa pemerintah menetapkan batas maksimum kandungan bahan pencemar fisik, kimia, biologis pada bahan baku pakan yang dapat mengganggu kesehatan dan produksi ternak serta konsumen produk ternak. Lebih jelas lagi pada ayat berikutnya diterangkan, bahwa pakan yang berasal dari organisme transgenik harus memenuhi persyaratan keamanan pakan dan keamaan hayati. Tetapi ada sedikit kerancuan pada pasal berikutnya, yaitu pada pasal 23 ayat 4 poin c. Pada pasal tersebut disebutkan bahwa setiap orang atau badan hukum dilarang mencampur pakan dengan antibiotika terentu sebagai feed additive. Penjelasan tentang pemakaian antibiotika ini menimbulkan interpretasi yang bermacam-macam. Karena belum dijelaskan jenis apa yang dilarang sebagai feed additive.
Aspek keamanan pakan dan kesehatan ternak sangat penting dimasukkan ke dalam peraturan, sehingga pemerintah menyepesifikasikannya dalam bentuk peraturan Keputusan Menteri Pertanian RI tentang pendaftaran dan labelisasi pakan. Pada Kepmen ini sudah mencakup hampir semua hal yang berkaitan tentang pendaftaran dan labelisasi pakan. Mulai dari mekanisme pendaftaran dan labelisasi, syarat pendaftaran dan labelisasi serta sanksi hukum bagi pelanggar prosedur pendaftaran dan labelisasi.
Tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pendaftaran dan labelisasi. Label pada pakan harus mampu menjadi alat trace back, jika sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti  timbulnya penyakit pada ternak akibat mengonsumsi pakan dan adanya pengaduan konsumen bahwa pakannya tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan. Sehingga trace ability dapat berjalan dengan baik dan kepercayaan konsumen akan kembali.
Aspek keamanan pakan dan kesehatan ternak perlu diperhatikan karena pada kondisi sekarang banyak ditemukan penyakit ternak yang ditimbulkan oleh pakan. Penyakit BSE (Bovine Spongioform Encephalopaty) misalnya adalah penyakit yang ditimbulkan akibat sapi mengonsumsi pakan berasal dari campuran tepung daging tulang (MBM), tepung ikan dan tepung darah. Sehingga penetapan standar pakan yang baik dan tidak berbahaya lagi bagi kesehatan ternak harus ditaati dan menjadi acuan penyusunan formulasi ransum ternak.

Wednesday, September 14, 2011

DNA (Deoxyribonucleic Acid)

MENGAPA DNA SELALU BERUBAH?
Mutasi adalah suatu perubahan yang terjadi pada bahan genetika sehingga ekspresinya berubah. Mutasi dapat terjadi pada pasangan basa, satu ruas DNA, atau bahkan pada kromosom. Perubahan DNA dapat menyebabkan perubahan kodon-kodon RNAd dan akhirnya menyebabkan perubahan jenis asm nukleat yang disentesisnya. Perubahan protein atau enzim dapat menyebabkan perubahan metbolisme dan fenotife makhluk hidup. Gen, kromosom, sel, protein, atau makhluk hidup yang mengalami mutasi disebut mutan.
  1. Jenis Mutasi
Mutasi dapat dibedakan atas beberapa macam berdasarkan tingkat mutasi, faktor penyebab, dan fenotife muatan.
1. Mutasi berdasarkan Tingkatannya
Berdasarkan tingkatannya, mutasi dapat dibedakan ats mutasi gen dan mutasi kromosom
a. Mutasi Gen ( Mutasi Titik )
Mutasi gen adalah mutasi yang terjadi akibat perubahan pada satu pasang basa DNA suatu gen. Perubahan pasangan basa tersebut dapat terjadinya perubahan kodon pada RNAd yang dibentuk oleh gen tersebut.
Mekanisme mutasi titik ada dua, yaitu subtitusi pasangan basa dan perubahan jumlah pasangan basa .
1). Subtitusi pasangan basa
Subtitusi pasangan basa adalah pergantian satu pasangan nukleotida oleh pasangan nukleotida yang lain. Subtitusi tersebut terdiri atas dua kategori, yaitu sebagai berikut.
a). Transisi, yaitu penggantian satu basa purin ( adenine atau guanine ) oleh basa purin yang lain atau penggantian basa pirimidin  ( timin atau sitosin ) oleh basa pirimidin yang lain.
b). Transversi, yaitu penggantian basa purin oleh pirimidin atau sebaliknya.
Transisi dan Transversi dapat menghailkan kodon sinonim ( merupakan mutais bisu ), asam amino yang baru ( mutasi ubah arah ), ataupun kodon stop ( mutasi hilang arah ).
2). Perubahan Jumlah Pasangan Basa
Mutasi dapat menyebabkan penambahan atau pengurangan jumlah pasangan basa . Perubahan tersebut dapat menyebabkan perubahan urutan kodon RNAd dan akhirnya terjadi perubahan asam amino yang disntesis.
Pengurangan Basa T
Utas cetakan DNA       :  SGA   AAT   ATT   ATG   ATS   AAT   TA
RNAd                          : GSU   UUA   UAA   UAS   UAG  UUA  AU
Polipeptida                   :   Ala   Leu  Stop
Struktur Awal
Utas Cetakan DNA      : SGA  AAT  TAT   TAT  GAT  SAA  TTA
RNAd                          : GSU  UUA  AUA  AUA  SUA  GUU  AAU
Polipeptida                   : Ala     Leu      Ile       Ile     Leu    Val    Asn
Penambahan basa T seetelah T
Utas Cetakan DNA      : SGA  AAT  TTA  TTA  TGA  TSA  ATT  A
RNAd                          : GSU  UUA  AAU  AAU  ASU  AGU UAA U
Polipeptida                   : Ala    Leu     Asn     Asn    Thr    Ser     Stop
b. Mutasi Kromosom ( Aberasi Kromosom )
Berdasarkan hasil penelitian, mutasi kromosom lebih sering terjadi di bandingkan mutasi gen. Mutasi kromoso atau aberasi kromosom adalah mutasi yang menyebabkan terjadinya perubahan pada jumlah dan struktur kromosom.
1). Perubahan Jumlah Kromosom
Jumlah kromosom dapat bertambah atau berkurang. Ada dua jenis perubahan jumlah kromosom, yaitu aneuploid dan euploid
a).Aneuploid
Aneuploid adalah penambahan atau pengurangan satu atau beberapa kromosom pada ploid ( genom ) sehingga kandungan kromosom di dalam nucleus bukan merupaka kelipatan dari jumlah kromosom haploidnya. Kasus aneuploid yang paling banyak dijumpai adalah penambahan atau pengurangan satu kromosom .
(1)   Penambahan satu kromosom ( 2n + 1 ), disebut Trisomi. Berarti, di dalam nucleus terdapat satu nomor kromosom dengan tiga homolog, sedangkan nomor yang lain tetap mengandung dua kromosom.
(2)   Pengurangan satu kromosom  ( 2n- 1 ), disebut Monosomi.Berarti, ada satu kromosom tanpa pasangan homolog
b). Euploid
Euploid adalah perubahan jumlah kromosom pada tingkat ploidi atau genom. Muatan memiliki lebih dari dua perangkat kromosom yang lengkap. Jumlah kromosom makhluk hidup euploid merupakan kelipatan dari jumlah kromosom pada satu genom. Misalnya, n adalah jumlah karomosom haploid, euploidnya mungkin berjumlah kromosom n ( monoploid ), 2n ( diploid ), 3n ( triploid ), dan 4n ( tetraploid ).
Peristiwa alami poliploid pada hewan sangat jarang terjadi. Slah satu hewan yang mengalami poliploid adalah lebah.Perbedaan pada tingkat ploid yang ditemukan pada lebah madu menunjukkan bahwa jantan adalah monoploid, sedangkan betina diploid. Jika makhluk diploid dianggap sebagai makhluk normal ( liar ), maka makhluk euploid lain merupakan hasil mutasi diploid. Pengurangan kromosom dari diploid akan menghasilkan poliploid.
2) Perubahan Struktur Kromosom
Kerusakan pada sebuah kromosom dapat menimbulkan ketidakteraturan susunan gen. Perubahan struktur kromosom terdiri ats delesi, duplikasi, inverasi, dan trnslokasi
a). Delesi
Delesi adalah mutasi yang disebabkan oleh hilangnya dua atau lebih nukleotida yang berdampingan. Rangkaian nukleotida yang hilang dapat mencapai ribuan, bahkan ratusan basa. Delesi dapat menyebabkan perubahan gen atau hilangnya satu atau beberapa gen dari kromosom akibat besarnya ukuran rangkaian nukleotida yang hilang.
Kebalikan dari proses delesi adalah penyisipan gen, yaitu penambahan serangkaian basa ke dalam kromiosom. Delesi dan penyisipan gen dapat terjadi akibat penyimpangan dalam proses rekombinasi atau akibat faktor  luar yang merusak DNA, misalnya radiasi. Kedua proses tersebut dapat berlangsung di bagian ujung kromosom atau di bagian tengah.
b) Duplikasi
Duplikasi adalah mutasi yang terjadi akibat penambahan ruas kromosom atau gen dengan ruas  yang telah ada sebelumnya. Duplikasi menyebabkan pengulangan ruas-ruas DNA dengan runtunan basa yang sama sehingga kromosom muatan menjadi lebih panjang dibandingkan kromosom liar.
c) Inversi
Inversi adalah penataan kembali struktur kromosom melalui pemutaran arah suatu ruas kromosom. Inversi menyebabkan kromosom muatan memiliki ruas yang runtunan basanya merupakan kebalikan dari runtunan basa kromosom liar.
d). Translokasi
Translokasi adalah mutasi yang terjadi akibat perpindahan ruas DNa ke tempat yang baru. Perpindahan terasebut dapat twerjadi pada satu kromosom atau antarkromosom yang berbeda ( nonhomolog ). Translokasi yang terjadi di antara dua kromosom dapat terjadi secara resiprok atau penggabungan dua kromosom
2. Mutasi Berdasarkan Faktor Penyebab
Berdasarkan factor penyebabnya, mutasi dibedakan atas mutasi spontan dan mutasi akibat rangsangan dari luar
a.Mutasi Spontan
Mutasi spontan terjadi karena kesalahan acak dalam proses replikasi atau saat pembelahan sel. Frekuensi mut6asi spontan sangat kecil, yaitu 10-9 – 10 -7 . Beberapa penyebab mutasi  yang terjadi secara spontan adalah sebagai berikut.
1). Rekombinasi
Rekombinasi adalah perubahan akibat masuknya gen-gen atau segmen DNA         dari  molekul DNA ( kromosom ) lain ke dalam suatu molekul DNA. Rekombinasi dapat menyebabkan  aberasi kromosom. Jenis rekombinasi yang sering  menyebabkan mutasi adlah rekombinasi homolog.
2). Kesalahan Mitosis dan Meiosis
Kesalahan dakam proses mitosis dan meiosis dapat menyebabkan perubahan jumlah kromosom. Gangguan terjadi ketika kromosom yang telah digandakan  tidak dapat bersipnasis dengan baik. Gangguan lain dapat terjadi saat sitokinesis sehingga sel tidak terbagi menjadi dua sel baru. Akibatnya, kromosom yang telah digandakan tetap bearda dalam satu sel. Artinya, sel tersebut memiliki jumlah kromosom dua kali lipat dari jumlah kromosom awal.
b. Mutasi Akibat Rangsangan dari Luar
Mutasi dapat terjadi karena adanya rangsangan dari luar, baik bersifat alami maupun buatan.
1). Mutasi Alami
Mutasi alami adalah muatsi yang terjadi secara alami. Ciri-ciri mutasi alami adalah pasti, jarang terjadi, dan berlangsung sangat lambat. Kemungkinan terjadinya mutasi alami adlah satu diantara  miliaran kejadian sehingga sangat sulit diamati oleh manusia dalam satu generasi.
Faktor alam penyebab mutasi, antara lain panas, radiasi sinar kosmis, dan radiasi unsure radioaktif alam.

2). Mutasi Buatan
Mutasi buatan adalah mutasi yang disebabkan oleh perangsangan yang dilakukan oleh manusia. Tujuan mutasi tersebut adalah untuk memperoleh genotife baru ataupun penelitian genetika.
3. Mutasi Berdasarkan Fenotipe Mutaan
Jenis mutasi berdasarkan penampakan luar ( fenotipe muatan ) adalah sebagai berikut.
  1. Mutasi morfologi, yaitu mutasi yang pengaruhnya dapat dilihat dari peubahan morfologi ( bentuk, ukuran, atau warna ). Misalnya, warna mata putih Droshopila
  2. Mutasi letal, yaitu mutasi pada alel yang telah dikenal dan menyebabkan kematian muatan. Misalnya, kematian muatan yang memiliki alel-alel yang berhubungan dengan kelainan darah ( anemia sel darah merah bulan sabit ).
  3. Mutasi kondosional, yaitu mutasi yang menyebabkan alel berekspresi pada kondisi tertentu. Pada kondisi normal, kondisi muatan terlihat sama dengan jenis liar ( normal ) yang lain. Misalnya, mutasi kondisionl terhadap suhu yang dialami oleh Drosophila. Drosophila muatan peka terhadap suhu panas dan akan mati pada suhu linkungan 30o C.
  4. Mutasi biokimia, Yitu mutasi yang menybabkan muatan tidak mampu melakukan metaboisme tertentu. Muatan tersebut memiliki alel yang menyebabkan sel kehilangan fungsi biokimia tertentu . Misalnya, mutan mikrob Neurospora yang tidak mampu lagi memproduksi asam amino arginin.
  5. Mutasi resistan, yaitu mutasi yang menyebabkan muatan kebal ( resistan ) terhadap bahan penghambat yang biasanya dirasakan oleh makhluk hidup normal. Misalnya, gulma muatan yang tahan terhadap herbisida..
C. Macam-Macam Mutagen
Mutagen ( Agen Mutasi ) adalah bahan yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi. Mutagen terbagi atas tiga golongan, yaitu mutagen kimia, mutagen fisik, dan mutagen biologi.
  1. Mutagen Kimia
Mutagen kimia adalah mutagen berupa bahan-bahan kimia. Bahan kimia tersebut dapat masuk ke dalam replikasi DNA sehingga dapat mengubah struktur basa DNA.

No
Mutagen
Sumber
Keterangan
1
Kafein
Minuman kopi, teh, cokelat, dan limun berkola
Merupakan mutagen lemah pada Drosophila,mutagen letal dan aberasi kromosom pada bakteri, bakteriofage,dan kultur sel manusia
2
Formaldehida
Asap tembakau dan mesin, limbah pabrik tekstil
- Merupakan mutagen pada Drosophila, E.coli, dan jamur Neurospora
-   Biasa digunakan sebagai bahan antiapi,dan antikusut bahan tekstil, digunakan pada pabrik resin, kertas, pupuk, desinfektan, dan fungisida
3
Pestisida DDT
Produk insektisida dalam bidang pertanian dan rumah tangga
Merupakan mutagen pada kultur mamalia
4
Kolkisin
Umbi, biji Colchicum autumnale
-Merupakan mutagen abersai kromosom pada sel tumbuhan dan mamalia
- Banyak digunakan sebagai obat gondok dan artritis serta bahan eksperimen pertumbuhan sel
5
Antibiotik
Produk Antibiotik
-   Dapat berfungsi sebagai antineoplasma dan penghalang replikasi DNA
-   Beberapa jenis antibiotik, seperti azaserine,mitomisin C, streptonigrin,dan fleomisin merupakan mutagen pada Drosophila dan penyebab aberasi kromosom pada kultur leukosit manusia
6
Natrium nitrit dan asam nitrit
Produk bahan pengawet untuk ikan, daging, dan keju
Merupaka mutagen pada bakteri, jamur  dan virus, serta menjadi penghalang replikasi DNA
  1. Mutagen Fisik
Mutagen Fisik adalah mutagen berupa bahan fisik. Misalnya, berupa suhu ,sinar ultraviolet ( UV ), sinar X, sinar gamma, partikel a dan b, neutron, dsan radiasi kosmis. Radiasi yang menimbulkan ionisasi dapat menembus bahan, termasuk jaringan hidup, sel, dan menyebabkan ionisasi molekul zat dalam sel sehingga zat-zat tersebut tidak dapat berfungsi secara normal.
  1. Mutagen Biologi
Mutagen Biologi adalah mutagen berupa virus dan bakteri. Mutagen biologi dapat menyebabkan kerusakan pada kromosom. Mutagen biologi yang sering menyebabkan mutasi adalah elemen loncat. Elemen loncat adalah rangkaian nukleotida atau DNA yang dapat berpindah tempat .
Mutasi adalah perubahan yang terjadi pada bahan genetik (DNA maupun RNA), baik pada taraf urutan gen (disebut mutasi titik) maupun pada taraf kromosom. Mutasi pada tingkat kromosomal biasanya disebut aberasi. Mutasi pada gen dapat mengarah pada munculnya alel baru dan menjadi dasar bagi kalangan pendukung evolusi mengenai munculnya variasi-variasi baru pada spesies.
Mutasi terjadi pada frekuensi rendah di alam, biasanya lebih rendah daripada 1:10.000 individu. Mutasi di alam dapat terjadi akibat zat pembangkit mutasi (mutagen, termasuk karsinogen), radiasi surya maupun radioaktif, serta loncatan energi listrik seperti petir.
Individu yang memperlihatkan perubahan sifat (fenotipe) akibat mutasi disebut mutan. Dalam kajian genetik, mutan biasa dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami perubahan sifat (individu tipe liar atau "wild type").
Macam-macam Mutasi Berdasarkan Sel yang Bermutasi
Mutasi somatik adalah mutasi yang terjadi pada sel somatik. mutasi ini tidak akan diwariskan pada keturunannya. Mutasi Gametik adalah mutasi yang terjadi pada sel gamet. Karena terjadinya di sel gamet, maka akan diwariskan oleh keturunannya.
Pada umumnya, mutasi itu merugikan, mutannya bersifat letal dan homozigot resesif. namun mutasi juga menguntungkan, diantaranya, melalui mutasi, dapat dibuat tumbuhan poliploid yang sifatnya unggul. Contohnya, semangka tanpa biji, jeruk tanpa biji, buah stroberi yang be sar,dll.
Terbentuknya tumbuhan poliploid ini menguntungkan bagi manusia, namun merugikan bagi tumbuhan yang mengalami mutasi, karena tumbuhan tersebut menjadi tidak bisa berkembang biak secara generatif.
Bahan-bahan yang menyebabkan terjadinya mutasi disebut MUTAGEN. Mutagen dibagi menjadi 3, yaitu:
Mutagen bahan Kimia, contohnya adalah kolkisin dan zat digitonin. Kolkisin adalah zat yang dapat menghalangi terbentuknya benang-benang spindel pada proses anafase dan dapat menghambat pembelahan sel pada anafase.
Mutagen bahan fisika, contohnya sinar ultraviolet, sinar radioaktif,dll. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan kanker kulit.
Mutagen bahan biologi, diduga virus dan bakeri dapat menyebabkan terjadinya mutasi. Bagian virus yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi adalah DNA-nya.

Macam-macam mutasi berdasarkan bagian yang bermutasi

Mutasi titik

Mutasi titik merupakan perubahan pada basa N dari DNA atau RNA. Mutasi titik relatif sering terjadi namun efeknya dapat dikurangi oleh mekanisme pemulihan gen. Mutasi titik dapat berakibat berubahnya urutan asam amino pada protein, dan dapat mengakibatkan berkurangnya, berubahnya atau hilangnya fungsi enzim. Teknologi saat ini menggunakan mutasi titik sebagai marker (disebut SNP) untuk mengkaji perubahan yang terjadi pada gen dan dikaitkan dengan perubahan fenotipe yang terjadi.
contoh mutasi gen adalah reaksi asam nitrit dengan adenin menjadi zat hipoxanthine. Zat ini akan menempati tempat adenin asli dan berpasangan dengan sitosin, bukan lagi dengan timin.

Aberasi

Mutasi kromosom,sering juga disebut dengan mutasi besar/gross mutation atau aberasi kromosom adalah perubahan jumlah kromosom dan susunan atau urutan gen dalam kromosom. Mutasi kromosom sering terjadi karena kesalahan meiosis dan sedikit dalam mitosis.
Aneuploidi adalah perubahan jumlah n-nya. Aneuploidi dibagi menjadi 2, yaitu: >> Autopoliploidi, yaitu n-nya mengganda sendiri karena kesalahan meiosis. >> Allopoliploidi, yaitu perkawinan atau hibrid antara spesies yang berbeda jumlah set kromosomnya.
Aneusomi adalah perubahan jumlah kromosom. Penyebabnya adalah anafase lag (peristiwa tidak melekatnya beneng-benang spindel ke sentromer) dan non disjunction (gagal berpisah).
Aneusomi pada manusia dapat menyebabkan:
Sindrom Turner, dengan kariotipe (22AA+X0). Jumlah kromosomnya 45 dan kehilangan 1 kromosom kelamin. Penderita Sindrom Turner berjenis kelamin wanita, namun ovumnya tidak berkembang (ovaricular disgenesis).
Sindrom Klinefelter, kariotipe (22 AA+XXY), mengalami trisomik pada kromosom gonosom. Penderita Sindrom Klinefelter berjenis kelamin laki-laki, namun testisnya tidak berkembang (testicular disgenesis) sehingga tidak bisa menghasilkan sperma (aspermia) dan mandul (gynaecomastis) serta payudaranya tumbuh.
Sindrom Jacobs, kariotipe (22AA+XYY), trisomik pada kromosom gonosom. Penderita sindrom ini umumnya berwajah kriminal, suka menusuk-nusuk mata dengan benda tajam, seperti pensil,dll dan juga sering berbuat kriminal. Penelitian di luar negeri mengatakan bahwa sebagian besar orang-orang yang masuk penjara adalah orang-orang yang menderita Sindrom Jacobs.
Sindrom Patau, kariotipe (45A+XX/XY), trisomik pada kromosom autosom. kromosom autosomnya mengalami kelainan pada kromosom nomor 13, 14, atau 15.
Sindrom Edward, kariotipe (45A+XX/XY), trisomik pada autosom. Autosom mengalami kelainan pada kromosom nomor 16,17, atau 18. Penderita sindrom ini mempunyai tengkorak lonjong, bahu lebar pendek, telinga agak ke bawah dan tidak wajar.
Delesi Terjadi ketika sebuah fragmen kromosom patah dan hilang pada saat pembelahan sel.kromosom tempat fragmen tersebut berasal kemudian akan kehilangan gen-gen tertentu.namun dalam beberapa kasus,frgamen patahan tersebut dapat berikatan dengan kromosom homolog,menghasilkan Duplikasi.Fragmen tersebut juga dapat melekat kembali pada kromosom asalnya dengan arah terbalik,menghasilkan Inversi